IPW Ungkap Kejanggalan Rekonstruksi: Polisi Janggal Tembak 4 Laskar FPI Tanpa Borgol di Mobil, Habib Rizieq Aja Diborgol

[PORTAL-ISLAM.ID] Berdasarkan rekonstruksi yang dilakukan penyidik Bareskrim Polri, enam laskar FPI tewas ditembak polisi dengan rincian: 

- Dua orang anggota FPI tewas ketika terjadi tembak menembak mulai dari Bunderan Hotel Novotel hingga jembatan Badami, Karawang Barat.

- Mobil FPI akhirnya berhenti di Rest Area Km 50 Tol Jakarta-Cikampek dan ditangkap polisi. Kedua tubuh anggota FPI yang sudah tewas duluan kemudian diangkut dengan mobil Avanza milik polisi.

Sementara Empat orang laskar FPI yang masih hidup kemudian dibawa oleh polisi dengan Daihatsu Xenia menuju Polda Metro Jaya. Dalam mobil itu, ada tiga polisi yang mengawal. Dua polisi duduk di depan, satu polisi di tengah bersama satu anggota FPI, sementara tiga anggota FPI lainnya duduk di bangku belakang. Empat orang FPI ini akhirnya ditembak mati di dalam mobil polisi. Polisi menyebut aparat melakukan tindakan tegas dan terukur (menembak mati) karena laskar FPI ini berusaha merebut senjata aparat saat dibawa ke markas Polda Metro Jaya.

Hal itu disampaikan Direktur Tindak Pidana Umum (Dirtipidum) Bareskrim Polri Brigadir Jenderal Andi Rian saat rekonstruksi bentrok aparat kepolisian dengan FPI berujung tewasnya enam orang Laskar FPI, Senin (14/12/2020) dini hari.

ICW Ungkap Kejanggalan

Indonesia Police Watch (IPW) mengungkap adanya kejanggalan tewasnya empat laskar FPI yang dibawa mobil polisi.

"Keempat anggota FPI yang masih hidup, setelah dua temannya tewas (versi polisi tewas dalam baku tembak) dimasukkan ke dalam mobil polisi tanpa diborgol. Ini sangat aneh, Rizieq sendiri saat dibawa ke sel tahanan di Polda Metro Jaya tangannya diborgol aparat," kata Ketua Presidium IPW Neta S. Pane melalui keterangan tertulis, Senin (14/12/2020), seperti dilansir CNNIndonesia.

Menurutnya, sangat tak lazim apabila polisi mengendurkan penjagaan setelah terlibat baku tembak sebelumnya. Apalagi, mereka sedang membawa terduga pelaku yang terlibat dalam baku tembak itu.

Polisi yang bertugas, kata dia, kalau kejadiannya seperti itu berarti ceroboh sehingga menyebabkan laskar FPI itu tewas di dalam mobil. Padahal, seharusnya penyidik tak perlu sampai menembak laskar dari jarak dekat ketika mereka tak bersenjata.

"Polri yang seharusnya terlatih, terbukti tidak promoter (profesional, modern, terpercaya) dan tidak mampu melumpuhkan anggota FPI yang tidak bersenjata, sehingga para polisi itu main hajar menembak dengan jarak dekat hingga keempat anggota FPI itu tewas," kata Neta menerangkan analisisnya.

Neta menilai telah terjadi pelanggaran prosedur operasi standar (SOP).

"Jajaran Polri harus mau menyadari bahwa terjadi pelanggaran SOP dalam kasus kematian anggota FPI pengawal Rizieq di KM 50 Tol Cikampek," ujar Neta.

Menurut Neta, pelanggaran prosedur itu membuat personel kepolisian dapat dikatakan melanggar hak asasi manusia (HAM).

Oleh sebab itu, menurutnya saat ini pemerintah perlu membentuk Tim Independen Pencari Fakta sehingga kasus tersebut bisa menjadi terang.

IPW mendesak agar Presiden Joko Widodo turun langsung memerintahkan pembentukan tim independen tersebut guna mengusut simpang siur informasi yang selama ini beredar di masyarakat.

"Jika Jokowi mengatakan tidak perlu Tim Independen Pencari Fakta dibentuk, berarti sama artinya bahwa Presiden tidak ingin kasus penembakan anggota FPI ini diselesaikan tuntas dengan terang benderang," kata Neta.

Sumber: CNNIndonesia