HOW BUZZERS DIE

HOW BUZZERS DIE

Oleh: Desi Suyamto*

Di saat banyak yang sedang berkabung atas terjadinya krisis kemanusiaan di negeri ini, dimana 6 warga sipil tewas ditembak aparat di jalan tol, beberapa justru merayakannya dalam euforia, bersuka-cita menari-nari di atas mayat saudara sebangsanya sendiri, seolah-olah para korban yang telah gugur dalam tragedi itu adalah para pembunuh keji berdarah dingin yang pernah menghabisi anggota keluarga mereka di jalanan.

Dan yang paling memancing amarah tentunya adalah pesta-pora dari para buzzer di akun-akun media sosial mereka. Konten mereka sudah sangat keterlaluan. Tak ada lagi rasa empati sama sekali.

Siapa sebenarnya yang menjadi biang pemecah-belah bangsa ini? Mereka yang tewas ditembak itu?  Bukan! Para buzzer lah biang pemecah-belah bangsa ini.

Tapi, jangan sampai terpancing, karena "amarah" itu ternyata adalah "currency" dari para buzzer untuk membeli popularitas mereka. Jika sampai terpancing merespon konten mereka, maka mereka akan semakin populer, karena traffic akun-akun media sosial mereka akan semakin ramai (Andriani, 2018; Fan, et al., 2014; Munn, 2020). Apalagi kalau sampai follow akun para buzzer atau bahkan ikut menyebarluaskan konten mereka.

Atau mau menuntut para buzzer tersebut melalui jalur hukum saja? Bagaimana jika ternyata para buzzer tersebut dilindungi oleh para penguasa, karena para penguasa merasa diuntungkan dengan keberadaan para buzzer tersebut?

Menurutku, cara yang paling ampuh dan jitu untuk membuat akun-akun media sosial dari para buzzer itu mati klepek-klepek tidak populer lagi adalah dengan tidak mempedulikan mereka sama sekali.  Jangan follow mereka, jangan merespon dan jangan pernah sama sekali menyebarluaskan konten mereka.

Lantas, bagaimana jika tanpa followers yang kontra, para buzzer tersebut ternyata masih memiliki banyak followers yang pro?  

Biarkan saja. Aku yakin, popularitas para buzzer tersebut pasti akan mati pelan-pelan jika followers-nya hanya berisi orang-orang yang pro. Respons tanpa perselisihan itu membuat popularitas para buzzer akan menurun akibat traffic akun-akun media sosial mereka menjadi sepi (Andriani, 2018; Fan, et al., 2014).

Lantas, bagaimana jika demi menaikkan popularitas mereka, para buzzer tersebut membuat akun-akun palsu, seolah-olah menjadi followers yang kontra?

Biarkan saja juga. Merekayasa perselisihan palsu (e.g. twitwar palsu) yang bervariasi itu tentunya akan menghabiskan energi mereka sendiri.  Polanya semakin lama akan semakin tertebak dan membosankan.

Terakhir, meskipun peristiwa ini membuat marah, jangan sampai kemarahan tersebut meletus dalam aksi balas dendam. Kenapa? Karena saat ini, "memori kolektif" bangsa yang akan diwariskan ke para generasi penerus di masa mendatang, telah menyimpan data tentang siapa yang sebenarnya telah menjadi pembunuh, dan siapa yang sebenarnya telah menjadi korban. Jangan sampai "memori kolektif" bangsa tersebut terganggu akibat aksi balas-dendam.

Biarkan SANG MAHA ADIL yang akan mengadili para pembunuh itu. Becik ketitik, ala ketara.

Segala doa yang terbaik untuk negeri ini. 

Aamiin Ya Robbal Alamin.

CATATAN AKHIR

Sekali lagi, aku bukan anggota ormas atau parpol mana pun.  Aku juga bukan buzzer atau influencer.  Aku hanya warga negara pinggiran yang tidak terima dengan tindak kesewenang-wenangan dari penguasa.

Aku tidak setuju saat melihat berita di media, ada ormas yang mengobrak-abrik warung nasi milik orang-orang kecil. Tapi, aku sangat setuju saat melihat berita di media, ormas tersebut merazia tempat-tempat maksiat. Bahkan aku kagum saat melihat berita di media, ormas tersebut terjun langsung dalam evakuasi korban bencana dan aktivitas kemanusiaan lainnya. Itu semua hanya berdasarkan berita tentang ormas tersebut yang kulihat di media.

Berdasarkan pengalamanku sendiri, di suatu malam saat berkendara motor sepulang kerja, melintasi jalanan yang biasanya dipenuhi oleh anak-anak geng motor yang perilakunya sangat liar membahayakan pengguna jalan lainnya, tapi di malam itu aku justru merasakan aman, karena ternyata ormas tersebut lah yang membuat anak-anak geng motor itu kabur kocar-kacir, sehingga jalanan menjadi aman.[]

*Dari fb penulis