Diminta Jadi Kuasa Hukum HRS, Yusril: Coba Hubungi Prabowo, Saya Kan Sudah Dibilang Murtad

[PORTAL-ISLAM.ID]  Ketua Umum Partai Bulan Bintang (PBB) Yusril Ihza Mahendra mengaku diminta menjadi kuasa hukum Imam Besar Front Pembela Islam (FPI) Habib Rizieq Shihab (HRS).

Pakar hukum tata negara tersebut bercerita hal itu saat Ustadz Bachtiar Natsir menghubunginya beberapa waktu lalu saat Habib Rizieq dipanggil Polda Metro Jaya, sebelum ditahan.

Menurut Yusril, sejak dirinya mendukung Jokowi-Ma'ruf di Pilpres 2019 lalu kelompok simpatisan HRS dan FPI selalu mencemooh menganggap ia sudah menjadi murtad dan kafir.

“Ustadz Bachtiar Nasir melalui seseorang menghubungi saya karena besok (HRS) dipangil Polda untuk diperiksa sebagai tersangka. Saya katakan minta maaf, ya silahkanlah Pak Bachtiar Nasir hubungi Prabowo Subianto mestinya beliau bisa membantu karena beliau kan Menteri Pertahanan di Kabinet. Kalau saya kan sudah (dituduh) murtad dan jadi kafir karena tidak mau mendukung beliau (Prabowo) sebagai calon presiden. Kok sekarang minta tolong sama orang kafir dan sama orang murtad, ini ada apa ceritanya,” kata Yusril dalam video di Youtube. (video di bawah).

***

Tanggapan Untuk Yusril:

YIM DAN DENDAMNYA

Sakit hati, kekanak-kanakan, dendam, hingga akhirnya mengumbar emosi secara vulgar gak harus menjadi milik orang muda usia atau minim pendidikan. 

Pada usia yang sudah matang dan bertitel panjang pendidikan pun bisa melakukan hal itu. 

Liat cara Yusril menolak menjadi pengacara IB HRS, memperlihatkan ada emosi yang ia tampilkan saat memberi alasan. Bayangan pilpres dan pernak-perniknya masih membekas bagi YIM. 

Menyatakan dukung Jokowi di pilres 2019, ikut menjadi tim hukum pembela Jokowi di MK, membuat YIM bermandikan tuduhan dan hujatan atas sikapnya. 

Tertuding kafir, pendukung kedzoliman dan segala hujatan mengarah ke dirinya. YIM masih  mengingatnya dengan jelas, dan saat ini dirinya seperti mempunyai kesempatan membalas, atas permintaan Ustadz Bachtiar Natsir pada dirinya menjadi pembela IB. 

Walau perpendidikan, mempunyai segudang pengalaman yang hebat, gak membuat YIM menjadi dewasa dalam menyikapi permasalahan.

YIM pun membahas bagaimana tidak ada perjuangan dari mereka yang meminta bantuannya saat ini, ketika memaklumatkan jangan pilih PBB di pemilu kemarin. 

Mengakui ada kesinisan itu sudah bukti bahwa YIM ada dendam yang terpendam pada oknum-oknum yang dulu pernah menghinanya. Secara jelas ia telah menjelaskan tidak mau menjadi pengacara IB atas kasus yang menjeratnya. 

Apa yang YIM lakukan adalah sifat kekanak-kanakan, karena masih sempat2nya mengupas luka lama. Saya pikir tokoh sebesar beliau bisa maklum dengan dinamika pilpres kemarin, tapi apa mau dikata. Mau berpendidikan tinggi, mau berjejal titel hebat dinamanya, mau punya pengalaman yang luar biasa, tetap gak mengubah dirinya menjadi manusia biasa yang punya rasa dan punya hati. Punya dendam dan punya amarah untuk dilepaskan. 

Apa mau dikata, apa yang kita tabur itu yang akan kita tuai. YIM pun telah menuai apa yang telah ia tabur, namun ia mempunyai kesempatan untuk membalasnya saat ini dengan menceritakan bagaimana kegundahan hatinya dikecam dan dituding dengan kata-kata tidak bermoral. Dan kita pun menuai apa yang kita tabur atas diri YIM. 

Pelajaran bagi kita kedepannya. Urusan politik seharusnya bisa disikapi lebih beradab. Jika seperti ini keadaannya, akan ada dendam yang tersimpan dan menuntut pembalasan. Seperti YIM yang membalasnya ketika diminta bantuan. 

Semoga Prabowo tidak mempunyai dendam, dan semoga kuasa hukum Gerindra mau memberikan bantuan hukum pada mereka yang tersangkut kasus di lingkungan Petamburan. 

Alam takambang menjadi guru, Apa yang terjadi saat ini semoga bisa menjadi pelajaran bagi kita semua. 

(By Setiawan Budi)

[Video - Pernyataan Yusril]