AGENDA TERSELUBUNG Di Balik Usulan Membuka Hubungan Diplomatik Indonesia-Israel

AGENDA TERSELUBUNG 
Di Balik Usulan Membuka Hubungan Diplomatik Indonesia-Israel

Oleh: Abdurrahman Syebubakar

Catatan singkat yang saya posting di FB ini mungkin masih relevan buat sejumlah kalangan di Indonesia, termasuk Gus Yahya Staquf yang berpartisipasi dalam American Jewish Committee (AJC) Global Forum Yerusalem 10-13 Juni 2018. 

Ada sebagian kelompok dalam negeri yang getol mengusulkan dibukanya hubungan diplomatik RI-zionis Israel dengan dalih masing masing, baik yang terang benderang maupun terselubung. 

Bagi saya, usulan ini bukan saja cacat moral karena tidak sesuai dengan semangat Pancasila (sila ke 2 Kemanusiaan yang adil dan beradab) dan diktum Pembukaan UUD 1945 yang mengamanahkan dihapusnya penjajahan di atas dunia, tetapi akan sia-sia bahkan banyak mudhoratnya karena:

1. Hubungan diplomatik dengan RI akan memperkuat basis legitimasi eksistensi zionis Israel dan secara tidak langsung RI menghalalkan pendudukan ilegal (penjajahan) Israel atas tanah bangsa Palestina. Israel akan sangat diuntungkan dan menyambut baik usulan hubungan diplomatik dengan RI.

2. Sebagian negara-negara Arab atas nama kepentingan masing masing dan ratusan negara anggota PBB memiliki hubungan diplomatik dengan Israel. Apa yg dapat mereka lakukan? Apa hasilnya? Hasilnya adalah semakin kuatnya posisi Israel sementara rakyat Palestina (Muslim dan Nasrani) tetap tertindas. 

3. Seandainya usulan ini dituruti oleh pemerintah, wibawa dan legitimasinya akan "jatuh" karena berseberangan dengan aspirasi sebagian (besar) rakyat. Langsung atau tidak, sengaja atau tidak, usulan ini (jika direalisasikan), dapat menganggu stabilitas politik dalam negeri yang sudah rapuh, berhimpitan dengan berbagai masalah yang dihadapi rakyat.

4. Saya menduga usulan tersebut tidak didasarkan pada pertimbangan kemanusiaan dan perdamaian, tidak juga berlandaskan kalkulasi rasional politik/hubungan internasional, tetapi ada faktor tersembunyi (hidden agenda) yang bersifat materialistik dan sektarian.

[Fb]