TikTok For Dakwah


TikTok For Dakwah

Saya sejauh ini sedang melakukan riset tentang TikTok, bukan hanya baca dan bukan hanya saya tulis untuk diterbitkan di Jurnal internasional, tapi juga saya cobain tuh TikToknya. Sudah hampir 1 bulan kali ya saya instal dan pasif liat-liat di TikTok.

Pada prinsipnya, TikTok ini hanyalah media/social media, atau dlm bahasa marketing, TikTok ini hanyalah channel. Layaknya Facebook, Instagram, LinkedIn dll. Baik atau buruknya ya tergantung gimana kamu menggunakannya.

TikTok sedari awal punya persepsi 'Alay', karena hanya orang-orang yang dianggap alay yang awalnya bikin konten di sana. Joget-joget gak jelaslah, nyanyi-nyanyi lah dst. Perlu diingat, dulu saat awal-awal masuk, TikTok memang isinya ya orang-orang begitu. Namun, semakin kemari, content creators TikTok ternyata semakin banyak dan keunikannya bermacam-macam.

Alogoritmanya ga jauh beda lah sama FB, IG atau Youtube. Konten yang akan keluar di halaman "FYP" TikTok kita adalah konten yang terkait atau relevan dengan kita. Konten yang biasa kita lihat, biasa kita like dan komen. Di FYP TikTok saya pun isinya ya sesuai interest saya aja. Bagi yg belum tau, FYP itu kependekan dari For You Page, atau kalo di IG seperti Feed atau Timeline jika di FB dan Twitter.

Memang masih ada sih konten joget-joget gitu, tp itu sepertinya TikTok ingin bertanya "nih lu suka ga konten kaya begini?". Kalo kita tonton atau kita Like, nanti konten-konten model begitu akan muncul lagi di FYP.

TikTok memang punya image yang 'Alay', 'joget-joget', 'hura-hura' dll. Tapi ingat kembali lagi, TikTok hanyalah media/channel, baik buruknya tergantung bagaimana kita menggunakannya. Terkait image, bukan tidak mungkin image TikTok akan berubah.

Anda tahu rokok Marlboro? Image apa yang terbentuk dari rokok tsb?

"Gagah", "Jantan", "Laki-laki banget", dst. Tapi tahukah kamu Marlboro awalnya adalah rokok yang identik dengan rokok perempuan? Dulu di Amerika, rokok putih adalah rokoknya perempuan. Gak percaya? Googling aja!

Maksud saya, image itu bisa berubah. Ah, dulu saat instagram muncul pun imagenya kan juga dipandang yg aneh-aneh. Sekarang semua orang bisa dibilang punya instagram. Kamu juga punya kan?

Mungkin ada baiknya conten creators dakwah masuk ke TikTok. Sasarannya jelas, yaitu anak-anak muda. Secara kelengkapan produksi konten video, fitur di TikTok lebih baik menurut saya ketimbang Instagram. Sehingga lebih efektif untuk aktivitas marketing, termasuk marketing dakwah.

Bahkan lucunya, konten video di Instagram saat ini banyak didominasi konten dari TikTok lho.

Btw, sejauh ini saya masih pasif di TikTok belum jadi creators. Tapi who knows tomorrow.

(By Hendy Mustiko Aji)