RUU Cipta Kerja Disahkan, Tere Liye: Makanya... Tiap Pemilu Jangan Cuma Jadi Alat Pendulang Suara Saja!


Oleh: Tere Liye

Sebelum kalian meneruskan membaca tulisan ini, saya ingatkan, tulisan ini bisa bikin kalian kesal. Apalagi jika kalian buruh, karyawan, dll. Jadi berhenti bacanya.

Aduh, masih mau baca, terserah. Tanggung sendiri resikonya.

1. Saya kagak peduli dengan RUU Cipta Kerja. Saya itu bukan karyawan, bukan buruh, dari 1000 halaman draft RUU ini (termasuk penjelasan pasal2), tidak ada yang ngaruh secara serius ke saya. Malah saya hepi bacanya, karena kalau besok2 sy jadi pengusaha, wah bagus ini RUU. Sangaaat bagus.

2. RUU Cipta Karya ini juga tidak ada urusannya dengan korupsi, merugikan pembayar pajak, dll. Siapa yang dirugikan jadinya? Soal lingkungan? Wah itu sih cincay sajalah. Kita itu ngaku love sama lingkungan, nyatanya tidak begitu juga kok. Liberalisasi impor? Kalau harganya lebih murah, ngapain ditolak? Praktik monopoli? Kejauhan mikirnya, lihat itu Pertamina, PLN, seumur2 monopoli, elu diam saja selama ini.

3. Jadi, setelah membaca 1000 halaman draft RUU tsb, apa yang mendesaknya buat saya sebagai penulis? Isu apa yang membuat RUU ini layak sekali dikomentari? Tidak ada. Nah, saat tidak ada urusannya dengan saya, kenapa sy harus berisik? Paling soal momentum RUU ini yang maksa banget saat pandemi. Tapi jangankan itu, lah pilkada saja tetap jalan terus.

4. Nah, jadi silahkan yg terkena dampaknya sajalah yg berisik. Hari gini, ada jutaan buruh, karyawan, tenaga kerja di Indonesia ini. Kok bisaaaa mereka mau dibegitukan. Kalian ini kan katanya jutaan? Kok memble. Lawan-lah jika menurut kalian merugikan. Makanya, tiap kali pilpres, pemilu, kok bisaaa cuma jadi alat suara saja. Jangan2, kalian ini cuma korban dari elit organisasi buruh loh? Kalian jungkir balik demo, mereka dapat posisinya. Nanti jangan2, kalau wakil buruh mendadak dapat jabatan, eh, mingkem deh.

5. Jadi, satu2nya saran saya sih: jutaan buruh ini mulailah kalian mikir dengan sebenar2nya mikir. Kalian mau diapakan, itu tergantung kalian sendiri. Nasib kalian itu ada di tangan kalian. Hari gini, sudah jaman kebebasan, tidak ada ceritanya lagi Marsinah, kan? Maka bersuaralah lantang. Lawan. Cari cara utk menyampaikan perlawanan kalian.

Begitu saja komentar saya. Besok2 kalau ada omnibus law bahas tentang pajak, dan isinya mewajibkan semua pembayaran pajak penduduk Indonesia dibuka, sy baru semangat. Kalau soal RUU Cipa Kerja, sorry, RUU ini tidak spesial2 amat isinya. Nggak akan bikin ekonomi kita meroket juga. Yang ada hutang nambah numpuk. Jadi mau ada, mau kagak, tidak ngaruh ke saya.

Buat yg kesal bacanya, kan sy sudah bilang di awal.

[fb]