Kapitalis: "Jangan pernah dibuat rakyat pintar dan kaya, karena nanti suara mereka tidak bisa dibeli lagi"

"Jangan pernah dibuat rakyat pintar dan kaya, karena nanti suara mereka tidak bisa dibeli lagi"

Catatan Naniek S Deyang:

Memang kadang di desa-desa saya melihat rakyat sudah demikian apatis, terserah siapa yg jadi  Presiden, DPR, Gubernur, Bupati /Walikota. Bagi mereka demokrasi itu cukup memilih Kepala Desa saja, itu juga karena berkait langsung dengan kehidupannya.

Jumlah rakyat yg apatis ini mencapai ratusan jutaan, bahkan mungkin mayoritas. Bagi mereka siapa yg ngasih duit ya yg dipilih. Berpikirnya pendek saja, "lagi gak punya duit, ada yg ngasih duit ya sudah saya pilih".

Rakyat yg apatis karena kemiskinan akut  inilah yg melahirkan demokrasi acak-adut, dan akhirnya terpilihlah orang2 yg gak mutu, yg sebetulnya tidak layak jadi pemimpin. Orang2 yg hanya mengejar kekuasaan utk kepentingan pribadinya. 

Siapa yg bisa membeli suara rakyat yg apatis, maka dialah yg akan menguasai Indonesia. Yg punya duit siapa? Pengusaha/Konglomerat, dan para pengusaha inilah yg jadi bandar dari mulai Bupati/Walikota sampai ke atas. 

Jadi sebenarnya demokrasi ini milik kapitalis. Siapa yg punya duit maka dialah yg akan memegang kekuasaan. Inilah wajah demokrasi kita dari zaman ke zaman.

Semakin banyak rakyat miskin, maka semakin apatis mereka terhadap politik, dan semakin bisa dibeli suaranya. Maka buat kapitalis teorinya, jangan pernah dibuat rakyat pintar dan kaya, karena nanti suara mereka tdk bisa dibeli lagi, dan kedigdayaan mereka dalam mencengkram suatu negara akan hancur.

Jadi kalau ingin Indonesia negara yg benar2 punya demokrasi, mari kita yg mampu dan cerdas berjuanglah sesui dengan UUD 45, ayook cerdaskan rakyat dan bantu mereka utk bisa bangkit (tidak miskin terus). Caranya? Kalau  kita yg mampu dan cerdas sedikit punya waktu utk terus mendidik rakyat yg di desa-desa, meski butuh waktu, Insyallah nanti tdk akan ada yg bisa membeli suara rakyat lagi. Ini demi anak-cucu kita.[]