Do’a Orang yang Terdhalimi


Do’a Orang yang Terdhalimi

“Ya Allah, apa manusia seperti itu masih pantas hidup?” ucap kang Suraji geram.

Sepuluh hari kemudian Samijo mati.

Suraji adalah tukang susu. Ia menjual susu sapi asli Boyolali. Pelangganya belasan orang, salah satunya adalah pak Samijo. Ia tergolong kaya di antara penghuni perumahan candi indah resort. Rumahnya besar dan bagus, mobilnya tiga. Salah satunya merek expender warna hitam.

Berlengganan susu ke kang Suraji itu ringan dan nyaman. Setiap pagi susu di antar ke rumah, setiap akhir pekan baru bayar. Kalau mau berhenti bilang saja setelah bayaran, jika tidak memberi kode berarti susu terus diantar.

“Pelanggan paling menyebalkan itu ya Pak Samijo. Setiap kali waktunya bayaran selalu mundur. Alasan ini alasan itu, selalu tidak tepat waktu. Suatu hari, saya benar-benar bokek, mau beli beras saja nda ada duit. Terus pergi menagih duit susu ke pak Samijo. Ealah tetap saja dia ndak ngasih. Katanya suruh datang lagi besok hari. Saking jengkelnya ketika sudah di luar pintu gerbang rumahnya, keluar ucapan itu”. Ujar kang Suraji.

“Kemarin malam saya mimpi di datangi pak Samijo, nangis-nangis minta maaf. Ampun mas, ampun mas. Saya jawab. Tidak ada maaf. Kamu tu terlalu tega dengan orang miskin.” Jawab kang Suraji dalam mimpinya

“Kok nggak kamu ikhlaskan saja, kasihan dia” pintaku kepada laki-laki penjual susu itu.

“Nda bisa mas, setelah pak Samijo mati aku sudah menemui istrinya. Cerita tentang utang almarhum suaminya. Tapi ndak ada respon. Ya sudah, padahal hanya Rp.150.000. Bagi dia sangat kecil tapi bagiku itu sudah bisa beli beras limabelas kilo. Biar saja nanti saya tagih di akherat”. Jawab laki-laki itu.

Ngeri. Menzalimi orang lain dengan tidak membayar utang. Yang terdhalimi do’anya langsung tembus langit. Tidak ada yang dapat menghalangi. Bahkan dalam kasus pak Samijo, dalam waktu sepuluh hari langsung mati. Padahal cerita kang Suraji, sebelumnya palanggan itu tidak sakit apa-apa.

Karena itu Rasulullah berpesan kepada Muaz bin Jabal sebagai berikut:

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ - رضى الله عنهما - قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ - صلى الله عليه وسلم - لِمُعَاذِ بْنِ جَبَلٍ حِينَ بَعَثَهُ إِلَى الْيَمَنِ وَاتَّقِ دَعْوَةَ الْمَظْلُومِ ، فَإِنَّهُ لَيْسَ بَيْنَهُ وَبَيْنَ اللَّهِ حِجَاب


Dari Ibnu Abas ra berkata, Rasulullah saw bersabda kepada Muaz ketika beliau mengutusnya ke Yaman, “Takutlah dengan do’anya orang yang merasa terdhalimi karena antara dirinya dengan Allah tidak ada penghalang”. (Hr. Bukhari)

Menunda-nunda membayar utang padahal dirinya mampu itu termasuk perbuatan dhalim. Sebagaimana sabda Nabi berikut:

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ - رضى الله عنه - أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ - صلى الله عليه وسلم - قَالَ « مَطْلُ الْغَنِىِّ ظُلْمٌ

Dari Abu Hurairah ra, bahwa Rasulullah saw bersabda: "Menunda pembayaran hutang padahal dirinya mampu itu dhalim." (Hr. Bukhari)

Kang Suraji merasa terdhalimi karena uang susu yang menjadi haknya tidak segera dibayar. Mungkin ada orang merasa terdhalimi karena diserobot tanahnya. Ada juga buruh terdhalimi karena upah tidak diberikan. Istri terdhalimi karena tidak diberi nafkah yang wajar. Narapidana dipenjara merasa terdhalimi karena sebenarnya dirinya tidak salah. Atau bahkan ada orang merasa terdhalimi karena ucapan seseorang yang mengintimidasi. Umumnya, orang merasa terdhalimi itu karena haknya dilanggar.

Imam Al Hafid Ad Dhahabi menyebut, perbuatan dhalim itu termasuk dosa besar ke 20. Ada sejumlah ayat alqur’an dan hadis Nabi yang ia sertakan dalam memberikan penjelasan tentang hal ini, di antaranya adalah:

وَالظَّالِمُونَ مَا لَهُمْ مِنْ وَلِيٍّ وَلَا نَصِيرٍ [الشورى/8

"Dan orang-orang dhalim, tidak ada seorang pelindung pun dan tidak pula seorang penolong baginya."

Dunia ini banyak orang merasa terdhalimi. Baik dihalami orang perorang maupun didhalimi sistem kekuasaan. Umumya orang yang merasa didhalami itu jengkel dan dendam seperti kang Suraji. Walaupun ada pula orang yang didhalimi tetapi tidak dendam, sehingga dirinya tidak melaknat orang yang mendhalimi. Seperti Hamka, ia dipenjara oleh Sukarno selama dua tahun empat bulan tanpa diadili. Tetapi hanya karena hasutan PKI yang memusuhui tokoh-tokoh anti komunis.

Sebelum wafat, sang proklamator berwasiat kepada keluarganya agar Hamka memimpin shalat jenazah jika dirinya mati. Tanggal 16 Juni 1970, datang dua orang utusan ke rumah buya Hamka. Mereka adalah Kafrawi sekjen Departeman Agama dan Meyjen Soeryo ajuden Soekarno. Setelah menyampaikan berita lelayu sang proklamtor lalu memberi tahu wasiat almarhum. Maka tanpa banyak bertanya, Hamka pergi ke wisma yaso tempat tinggal Soekarno untuk memimpin shalat jenazah. Yang diceritakan Hamka adalah kebaikan Sukarno. Bagaimanapun, beliau itu telah membangun  masjid Baiturahim di komplek istana dan masjid Istiqlal.

Hamka juga merasa didhalimi Pramodya Ananta Toer. Lewat koran Bintang Timur dan Harian Rakyat yang berafiliasi ke  PKI. Sastrawan Lekra itu berbulan-bulan menyerang habis karya Hamka dan  memfitnah pribadinya. Tetapi suatu hari, datang dua tamu ke rumah Hamka. Astuti dan Daniel Setiawan. Perempuan itu adalah anak Paramodya dan laki-lakinya adalah calon suaminya. Sastrawan yang pernah di penjara di pulau buru itu sengaja memerintah calon menantunya masuk Islam dan belajar agama ke ulama yang dulu sempat ia fitnah. Hamka welcome kepada tamunya tanpa pernah menyinggung kelakuan calon mertuanya. Setelah dibimbing masuk Islam calon menantu Pram itu belajar agama kepada ulama kharismatik tersebut.

Orang yang legowo didhalimi seperti Hamka itu jarang, mungkin hanya seribu satu. Umumnya orang yang merasa didhalimi itu murka. Jika berani dan punya kesempatan berusaha membalas kedhaliman tersebut dengan perlakuan yang setimpal atau bahkan lebih dari yang ia terima.

Tetapi banyak juga yang karena ketidakberdayaannya tidak membalas kedhaliman tersebut, boleh jadi malah langsung mengadukannya kepada Allah. Seperti yang dilakukan kang Suraji. Ini jauh lebih berbahaya daripada balasan yang ia lakukan. Maka berhati-hati dalam berbicara dan bertindak itu sangat penting agar tidak ada orang yang merasa terdhalimi. Wallahu’alam.

(Oleh: Ustadz Muh. Nursalim)
Do’a orang yang terdhalimi Oleh: Muh. Nursalim “Ya Allah, apa manusia seperti itu masih pantas hidup?” ucap kang...
Dikirim oleh Muhammad Nursalim pada Senin, 05 Oktober 2020