China Nilai Kunjungan PM Jepang ke RI Ancaman, NasDem: Berlebihan!



[PORTAL-ISLAM.ID]  Sejumlah pengamat di China menilai kunjungan Perdana Menteri (PM) Jepang Yoshihide Suga ke Indonesia sebagai ancaman. Partai NasDem menganggap analisis dari Negeri Tirai Bambu tersebut berlebihan.

"Saya kira tanggapan analis yang mengatakan demikian berlebihan. Tidak perlu ada kekhawatiran berlebihan karena Indonesia juga punya kebijakan politik luar negerinya yang bebas intervensi," kata Wakil Ketua F-NasDem DPR RI Willy Aditya kepada wartawan, Rabu (21/10/2020).

Menurut Willy, kunjungan PM Jepang Yoshihide Suga ke Indonesia dan bertemu dengan Presiden Jokowi sebagai kunjungan biasa. Suga, yang baru menjabat, dinilai wajar berkunjung ke Tanah Air.

"Kunjungan PM Jepang ke Indonesia sebenarnya adalah kunjungan biasa. PM Jepang Yoshihide Suga baru terpilih 16 September 2020, maka wajar dan biasa saja PM Jepang berkunjung ke Indonesia," ucap Willy.

Selain itu, anggota Komisi I DPR RI ini mengatakan sudah banyak kerja sama yang dilakukan Indonesia dan Jepang. Mulai kerja sama bidang ekonomi, sosial, pendidikan, dan lainnya.

"Banyak kerja sama yang sudah terjalin antara Indonesia dan Jepang sejak lama, baik di bidang ekonomi, sosial-kemanusiaan, pendidikan, dan lainnya. Jadi ini kunjungan biasa saja," ujar Willy.

Menurut Willy, justru kerja sama Jepang dengan negara di kawasan Indo-Pasifik dapat menjadi peluang untuk menguatkan diplomasi Indonesia. Terlebih ada banyak isu dalam kerja sama tersebut.

"Jika dikaitkan dengan kerja sama kawasan ASEAN-Indo-Pasifik yang digagas Indonesia, justru ini adalah peluang untuk menguatkan diplomasi Indonesia agar pakta-pakta kerja sama kawasan ini bisa segera direalisasi. Ada banyak isu di dalam kerja sama Indo-Pasifik selain soal ketahanan wilayah, ada isu kerja sama ekonomi, sumber daya manusia, infrastruktur teknologi, dan lainnya," jelas Willy.

Willy pun menegaskan kunjungan Suga bertemu dengan Jokowi tak bisa dianggap sebagai ancaman. "Jadi tidak bisa dinilai bahwa China akan menilai kedatangan PM Jepang sebagai ancaman," imbuhnya.

Sebelumnya, PM Jepang Yoshihide Suga bertemu dengan Presiden Jokowi. Mereka sepakat melanjutkan kerja sama di berbagai bidang, terutama kesehatan, keamanan, dan ekonomi. Dalam pertemuan pada Selasa (20/10), salah satu kesepakatan yang dicapai oleh dua pemimpin negara itu adalah mempercepat pembahasan ekspor senjata dan teknologi militer dari Jepang ke Indonesia.

Namun, sejumlah pengamat di China mengatakan kunjungan PM Suga ke Vietnam dan Indonesia menandakan Jepang secara aktif mulai membantu dan memastikan strategi Indo-Pasifik untuk menahan pengaruh China di kawasan Asia Tenggara.

Media milik Partai Komunis China, The Global Times, melaporkan para pengamat juga khawatir kesepakatan yang dibuat oleh Jepang di Asia Tenggara akan mengancam stabilitas perdamaian di kawasan.

The Global Time mengutip pernyataan Da Zhigang, direktur dan peneliti dari Institute of Northeast Asian Studies di Heilongjiang Provincial Academy of Social Sciences, yang mengatakan kesepakatan militer malah akan meningkatkan kesulitan untuk mencapai konsensus multilateral atas sengketa Laut China Selatan.

Sumber : Detik