Bukan Islam Yang Mengalami Krisis, Tapi Macron Yang Sedang Krisis Elektabilitas


Presiden Perancis, Emmanuel Macron, tidak lagi menyembunyikan perasaannya terhadap Islam, No longer radical Islam, now it’s just Islam that is the problem. Bukan lagi Islam radikal, sekarang hanya Islam yang jadi masalah.

Dalam pernyataan terakhirnya, Macron jelas mengatakan bahwa Islam sedang mengalami krisis di seluruh dunia, “L'Islam est une religion qui vit une crise aujourd’hui, partout dans le monde” (Islam adalah agama yang sedang mengalami krisis saat ini, di seluruh dunia).

Islam tidak dalam situasi krisis, kalau Muslim (orangnya) yang dikatakan demikian, bisa jadi sangat benar. Tapi, yang sebenarnya sedang dalam krisis adalah Emmanuel Macron sendiri, krisis elektabilitas untuk Pemilu 2022.

Melalui mukaddimah ini, Macron ingin memperkuat Undang-Undang sekuler tahun 1905, yang secara resmi memisahkan gereja dengan negara. Karena menurut Macron, “Secularism is the cement of a united France” (Sekularisme adalah perekat Prancis).

Sebenarnya, hal ini merupakan bukti kegagalan pemerintahan Macron sendiri. Macron tidak mampu membendung peningkatan muslim di Perancis, terdapat sekitar 8,5 juta Muslims di Perancis pada tahun 2017, atau sekitar 1/8 dari total populasi Perancis.

Makanya tidak aneh kalau dalam Piala Dunia 2018, setidaknya terdapat 7 anggota Timnas Perancis adalah muslim, Paul Pogba, Ousmane Dembele, N’Golo Kante, Adil Rami, Djibril Sidibe, Benjamin Mendy, Nabil Fekir, sebelumnya juga ada nama-nama kawakan seperti Zinedine Zidane, Karim Benzema, Hatem Ben Arfa, Franck Ribéry dan Samir Nasri.

80 Persen pemain Perancis berasal dari Afrika, sudah saatnya Perancis menghilangkan rasisme dan xenophobia. 50 Persen pemain Perancis adalah Muslim, sudah saatnya Perancis melupakan Islamophobia. Orang Afrika dan Muslim telah mengantarkan Perancis meraih Piala Dunia, sudah saatnya mereka meraih keadilan di negara yang menjunjung tinggi Liberte, Galite, Fraternite.Tapi sayangnya Macron malah menyulut api baru pernyataannya Terroriste Islamique (Teroris Islam).

Pada saat AS terbangun dan menyadari bahaya rasis, setelah insiden George Floyd, justru Macron bikin ulah dengan menyakiti 6-8 juta rakyat Perancis yang beragama Islam.

Sebenarnya Macron juga sedang kesal pada Turki yang keras kepala dan selalu menentang Perancis, mulai dari konflik di Libya, konflik di Laut Tengah, sampai ke konflik Azerbaijan-Armenia, Turki selalu saja menjadi bottleneck (penghambat) bagi Perancis. Makanya dengan menyerang Islam, Macron ingin membuat Turki berang.

Dan benar, Kementerian Luar Negeri Turki langsung mengomentari, “It is nobody’s business to subject our exalted religion, whose name means “peace,” to false and distorted ideas in the guise of trying to enlighten it,” (Tidak boleh bagi siapapun untuk mengaitkan agama kita yang mulia, yang dari namanya saja berarti "damai", dengan ide-ide yang salah dan terdistorsi).

Kalau memang benar Islam (muslim) sedang dalam krisis, maka penyebab utamanya adalah intervensi Barat yang bersifat kolonial dalam urusan negara-negara Islam.

Siapa di belakang terorisme Israel, yang memberi "Israel" rahasia dan bahan yang memungkinkannya memproduksi senjata nuklir?

Siapa yang menginvasi Irak dan membunuh dua juta rakyatnya?

Siapa yang mendanai dan mempersenjatai kelompok ekstremis (ISIS) di Suriah?

Siapa yang mengubah Libya menjadi fail state (negara gagal), dan manjadikan setengah dari rakyat Libya sebagai pengungsi, serta membuka pintu lebar-lebar untuk menjarah ratusan miliar kekayaan dan aset Libya?

(By Saief Alemdar)