Kemandirian Pertahanan Turki


Kemandirian Pertahanan Turki

"F-16 dan pesawat produksi AS adalah produk bagus, tapi negara konsumen harus siap tidak menerima sistem electronic warfare. Malaysia pernah mengalami, F-16 hanya digunakan alat pamer bukan alat perang. Sebab semua kode dan sistem tetap berada di tangan AS," tegas mantan PM Malaysia Dr. Mahathir Mohamad dalam wawancara dengan Al-Jazeera tiga bulan lalu.

Turki mengalami apa yang dikatakan Dr. M. Perusahaan raksasa teknologi Turki ASELSAN harus kehilangan insinyur-insinyur terbaiknya, sejak upaya mendesain ulang pesawat F-16 yang dibeli dari AS. Semua insinyur yang terlibat, mati dalam keadaan mencurigakan: tabrakan atau keracunan.

Misalnya: Insinyur muda Yildrim Oughur yang akan menangani pesawat Panthom, ditemukan mati keracunan gas di rumahnya. Lalu insinyur Eifrin Yantskan ditemukan jatuh dari lantai 7 apartemennya. Sedangkan Aku Onyal ditembak langsung orang tak dikenal tepat di kepala. Insinyur Zafar Ouluk ditemukan wafat terkena setruman listrik. Semua terjadi dalam kurun waktu beriringan 2006, 2007, 2008.

Kondisi ini menjadi perhatian PM Erdogan melalui intelejen Turki. Lalu strategi diubah dengan mengadakan MoU paket restrukturisasi seluruh pesawat produksi AS dengan perusahan Inggris BAE System pada tahun 2013.

Hasilnya kini Turki sudah memproduksi Sistem peperangan elektronik baru SPEWS-II yang dirancang oleh raksasa pertahanan Turki ASELSAN dengan dukungan perusahaan penerbangan dan pertahanan Inggris BAE Systems. Nah untuk pesawat F-16 Turki telah berhasil menyelesaikan tes dan mulai digunakan, menurut sebuah laporan Kamis.

Sistem tersebut berfungsi untuk memberikan perlindungan di zona musuh bagi seluruh jet tempur F-16 Angkatan Udara Turki. Sejauh ini, 21 pesawat telah dilengkapi dengan sistem tersebut setelah tes berhasil diselesaikan, menurut laporan harian Turki Yenişafak.

Dengan penerima peringatan radar, sistem SPEWS-II dapat mendeteksi sinyal radar yang berasal dari rudal pelacak dan memperingatkan pilot jet. Kemampuan penanggulangan elektronik sistem memungkinkannya untuk mengacaukan sinyal yang memungkinkan rudal menemukan pesawat dan menipu rudal dengan mengirimkan sinyal yang menunjukkan pesawat di lokasi yang berbeda. Perlindungan terhadap ancaman rudal berpemandu radar akan sangat berguna dalam operasi lintas batas Turki.

Dalam lingkup proyek, 60 sistem perlindungan diri EW - termasuk 53 sistem produksi massal dan tujuh sistem pilot - direncanakan akan digunakan di pesawat F-16 Block 50C. Kemampuan SPEW II membuat F16 Turki bebas melesat tanpa bisa lagi dikendalikan sistem jarak jauh AS.

Hal ini yang membuat NATO menarik sistem pertahanan udara Patriot di Turki dan AS sempat diisukan akan menutup pangkalan militer udaranya di Turki. Ini pula yang menjadikan Turki disingkirkan dari joint venture proyek F35B. Hingga akhirnya Turki membeli S400 buatan Rusia.

Presiden Erdogan terus menggelontorkan anggaran riset (R&D) dan menyampaikan hikmah dari tidak diberikannya F35 B milik Turki:

1. Turki menghemat 50 Milyar dollar yang harus dibayarkan pada 5 tahun berikutnya, usai 105 F35B diterima;

2. Dana tersebut digunakan untuk memproduksi pesawat siluman Turki TFX;

3. Turki mampu mengendalikan pesawat tempur sendiri dengan sistem yang kini dibuat 100 persen sendiri.

Bahkan lebih menakjubkan, Turki memiliki pesawat AKINCI terbaru yang pada tahun 2021 sudah siap masuk ke dalam jajaran AU Turki, dengan fungsi operasi menggantikan F16.

(By: Dr. Nandang Burhanudin)

[Video: F-16 Turki yang telah dimodernisasi]