Kegagalan Mossad Membunuh Pemimpin Hamas


Kegagalan Mossad Membunuh Pemimpin Hamas

Pada 25 September 1997, agen mata-mata Israel, Mossad, berusaha membunuh pemimpin Hamas Khaled Mashal di Amman, ibu kota Yordania.

Tim Mossad beranggotakan enam orang tiba di Amman seminggu sebelum rencana pembunuhan itu dilakukan, dengan menggunakan paspor palsu kewarganegaraan Kanada. Rencana mereka jelas: bunuh pemimpin Hamas yang diasingkan dengan menggunakan racun mematikan tanpa meninggalkan jejak.

Setelah racun diberikan secara diam-diam, Khaled Mashal akan menjalani sisa harinya seperti biasa dan kemudian, ketika rasa lelah menguasainya, dia akan tidur siang, tidak pernah bangun lagi; dia diperkirakan meninggal dalam waktu 48 jam.

Pada pagi hari percobaan pembunuhan, dua dari enam agen Mossad mulai menempatkan posisinya untuk mengirimkan racun dalam dosis mematikan -yang kemudian diidentifikasi sebagai fentanil- saat Khaled Mashal memasuki kantornya. Empat agen Israel lainnya dikatakan telah dikerahkan di sekitar blok itu baik sebagai pengemudi atau sebagai pengintai.

Agen Mossad mengirimkan racun menggunakan perangkat aerosol dan melarikan diri dari tempat kejadian. Salah satu pengawal Khaled Mashal mengejar dan berhasil menangkap para pembunuh setelah pertarungan sengit menggunakan tangan kosong.

Pemerintahan Yordania di bawah perintah Raja Husein bertindak cepat. Para agen Mossad ditangkap, dan beberapa agen lain yang diduga bersembunyi di kantor kedubes Israel di Yordania juga berhasil ditangkap.

Para agen Mossad tersebut divonis hukuman mati. Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu disinyalir yang memberikan perintah pembunuhan pemimpin Hamas tersebut. Pemerintah Yordania mengancam akan memutuskan hubungan dengan Israel dan membatalkan perjanjian tahun 1994.

Presiden AS saat itu, Bill Clinton, meminta Netanyahu untuk memenuhi permintaan Raja Yordania. Dibawah tekanan internasional, Netanyahu mengirim kepala agen Mossad ke Yordania membawa penawar racun dan meminta untuk membebaskan agen Mossad yang divonis hukuman mati. Sebagai balasanya, Yordania juga menuntut Israel untuk membebaskan para tawanan Palestina serta memberikan penawar racun sebagai syarat pembebasan agen Mossad dan staff kedubes.

Akibat hal tersebut, Netanyahu kalah dalam pemilihan tahun 1999.[]