Barat Khawatir Erdogan Akan Mengembalikan Kejayaan Ottoman Empire


TIME edisi 3 September 2020, memuat analisa Alan Mikhail seorang profesor sejarah Yale University. Tulisannya: Why Recep Tayyip Erdogan's Love Affair with the Ottoman Empire Should Worry The World.

Tulisan serupa ditulis tahun 2013 oleh Emre Caliskan dan Simon A. Waldman berjudul Which Sultan is Erdogan?

Corak tulisan yang cukup tendensius, dan tanpa tedeng aling-aling menjuluki Presiden Erdogan dengan pelanjut Sultan Utsmaniyah. Menurutnya, cakrawala berpikir dan agenda kebijakan Erdogan, secara spesifik sama persis dengan Sultan Utsmaniyah ke-90, Selim I.

Selim I adalah Sultan yang meninggal tahun 1520, dimana semasa kekuasaannya, Kesultanan Utsmaniyah tumbuh pesat dari kekuatan regional yang kuat menjadi kekaisaran global yang sangat besar. Nampaknya Erdogan melakukan hal yang sama. Turki kini menjadi kekuatan politik dan ekonomi global, dengan pengaruh dari Washington hingga Beijing, melumat penantang domestik maupun asing.

Menjadikan Sultan Selim sebagai idola, memungkinkan Turki secara politik dan ekonomi menjadi bagian global player. Dari 1517 hingga akhir Perang Dunia I, Kesultanan Utsmaniyah mempertahankan bentuk geografis yang dimenangkan Sultan Selim, mendominasi Timur Tengah dan Mediterania Timur, mengubah demografi penduduk Kesultanan yang mayoritas Ortodoks Kristen menjadi Muslim dan di kemudian hari menjadikan Muslim Sunni sebagai mayoritas tunggal.

Pada tahun 1517, Ottoman mengalahkan saingan utama mereka di wilayah tersebut, Kekaisaran Mamluk yang berbasis di Kairo, merebut semua wilayahnya di Timur Tengah dan Afrika Utara. Area kekuassan yang lebih dari dua kali lipat ukuran kekaisaran Utsmani.

Ledakan Kekaisaran Ottoman ke Timur Tengah ini mengubahnya menjadi kekuatan militer dan politik terdepan di kawasan dan salah satu negara terbesar di dunia. Utsmaniyah menjelma menjadi penguasa seluruh bagian Timur Mediterania dan dengan demikian mendominasi rute perdagangan terpenting dunia lewat darat antara Eropa dan Asia dan melalui laut melalui Teluk Persia dan Laut Merah.


Kemiripan Presiden Erdogan dengan Sultan Selim luar biasa. Erdogan memberi penghormatan kepada Sultan Selim dengan menamai jembatan ketiga Istanbul yang fenomenal melintasi Bosphorus dengan namanya. Erdogan, seperti Selim, juga memahami pentingnya hubungan dengan barat, terutama AS, NATO, dan UE. Tapi Timur Tengah lah yang menjadi fokus utama Erdogan.

Zona visa gratis didirikan dengan Iran, Suriah dan Lebanon. Hubungan perdagangan dengan Timur Tengah berkembang seperti halnya intelijen dan kerja sama militer. Erdogan memperjuangkan perluasan sekolah agama “Imam Hatip” sambil mencari peran yang lebih besar bagi Islam dalam kehidupan publik. Erdogan telah berusaha untuk membatasi konsumsi alkohol, menunjukkan kasih sayang di depan umum dan mendorong pasangan muda untuk memiliki lebih banyak bayi.

Sementara itu, Erdogan memiliki hubungan yang renggang dengan komunitas Muslim Alevi Turki. Pada tahun 2012, dia menolak mereka sebagai agama yang tidak nyata dan juga mengkritik gaya hidup mereka yang berpihak pada Syiah. Lalu secara berani mengembalikan fungsi Aya Shopia menjadi masjid, mengubah bekas gereja era Bizantium Chora menjadi masjid, menerima organisasi perlawanan HAMAS dan tentunya menjadi pemimpin untuk semua orang Turki di manapun berada.

Menurut Alan Mikhail, "Barat harus mewaspadai sepak terjang Erdogan, yang ambisius semisal Selim I. Politik yang akan mengobarkan perang di kawasan, memupus agama minoritas dan menguasai sumber daya".

Saran Alan Mikhail membuat UE kembali mengaktivasi istilah crusade, perang Salib dan membiarkan Timur Tengah dikuasai keturunan Lawrence of Arabia untuk menahan arus New Ottoman.

(By: Dr. Nandang Burhanudin)