New York Times Soroti Pengobatan Covid-19 di Indonesia dari Kalung hingga Perdukunan


[PORTAL-ISLAM.ID] Penanganan pandemi virus corona di Indonesia menjadi sorotan dunia. Artikel New York Times menyebut dengan tidak adanya pesan terpadu secara nasional dari pemerintah pusat, pejabat lokal dan para oportunis mencoba mengisi kesenjangan dengan informasi salah dan berbagai alternatif pengobatan tanpa pembuktian medis.

Pertama, New York Times menulis, Menteri Pertanian RI Syahrul Yasin Limpo mempromosikan kalung dari ramuan minyak kayu putih untuk menyembuhkan virus corona. Tidak mau kalah, Gubernur Bali, mempromosikan obat Covid-nya sendiri, yakni menghirup uap dari arak yang direbus.

Sejumlah influencer dan pakar gadungan juga mendorong penyembuhan ala perdukunan, tulis New York Times. Para dukun atau ahli gadungan ini menyebarkan informasi menyesatkan lewat media sosial. Bahkan, tersebar rumor bahwa penggunaan thermogun dapat menyebabkan kerusakan otak.

New York Times menilai Indonesia terus terpuruk akibat pandemi. Pemerintah kesulitan untuk menyampaikan pesan berbasis ilmu pengetahuan yang konsisten tentang virus corona, dan penyakit yang ditimbulkannya, Covid-19.

Hingga Ahad (2/8), Indonesia melaporkan sebanyak 111.455 kasus positif Covid-19, 68.975 pasien sembuh dan 5.236 orang meninggal dunia. Jumlah tersebut jauh melampaui China. Catatan ini juga menempatkan Indonesia di urutan kelima dengan jumlah kematian terbanyak di Asia, dan urutan kesembilan di Asia untuk jumlah kasus infeksi tertinggi.

Dengan banyaknya informasi yang tidak jelas beredar, menyebabkan masyarakat semakin abai dan cenderung untuk tidak mematuhi aturan-aturan pencegahan penyebaran virus. Bahkan di provinsi-provinsi yang paling terdampak, sebanyak 70 persen orang ke luar rumah tanpa masker, mengabaikan jarak sosial, sering berkerumun di toko-toko dan pasar, serta nongkrong di kafe dan restoran yang sibuk.

Meski begitu, Indonesia bukan satu-satunya negara yang memerangi informasi salah atau yang pemimpinnya mempromosikan alternatif pengobatan konyol nonmedis. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyebut informasi palsu berbahaya yang beredar di mana-mana, sebagai “infodemik”.

Di Kenya, Gubernur Nairobi mendorong minuman beralkohol cognac sebagai obat ajaib. Presiden Trump juga terus mempromosikan hydroxychloroquine, obat yang digunakan untuk mengobati malaria, sebagai obat virus corona, meskipun ada bukti medis yang bertentangan. Trump bahkan menyarankan untuk menyuntikkan cairan desinfeksi ke dalam tubuh manusia untul membantu memerangi virus.

Tetapi di Indonesia unik karena populasi besar, geografi yang luas dengan ribuan pulau dan campuran identitas budaya. Cukup sulit bagi pemerintah untuk mengimplementasikan rencana yang jelas dan terpadu untuk memerangi virus, dan masalah diperburuk oleh beredarnya informasi yang kacau dan seringkali berbahaya.

Presiden Joko Widodo (Jokowi), pada awalnya meremehkan pandemi, dan menyampaikan pesan yang beragam. Jokowi mengakui pada Maret lalu bahwa dia menyesatkan publik tentang virus untuk mencegah kepanikan. Setelah itu, presiden Jokowi lambat untuk menerapkan pembatasan sosial berskala besar (PSBB), tetapi sangat cepat ketika mencabut PSBB, bahkan ketika kasus terus meningkat.

Kemudian Pada Mei lalu, Jokowi kembali mengeluarkan pernyataan kontroversial dengan mengatakan bahwa Indonesia harus belajar hidup dengan virus. Namun, sebulan kemudian, ia mengancam akan memecat menteri kabinet karena tidak berbuat lebih banyak untuk mengendalikan pandemi.

Terakhir, Jokowi menyerukan kampanye nasional untuk mempromosikan disiplin yang lebih baik dalam menjaga jarak sosial, memakai masker dan mencuci tangan. Sebuah seruan yang hanya akan menjadi sekadar lip service jika tidak dibarengi dengan ketegasan pemerintah untuk menangani penyebaran virus ini.

Dengan tidak adanya pesan terpadu secara nasional dari pemerintah pusat, pejabat lokal dan sejumlah tokoh oportunis mencoba mengisi kesenjangan informasi tersebut.

Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo, mempromosikan obat Covid-19 yang dipertanyakan publik. Dia mengatakan kepada wartawan bahwa laboratorium kementerian mengembangkan ramuan yang terbuat dari kayu putih bahwa ketika dikenakan pada kalung dapat membunuh 80 persen partikel virus dalam setengah jam.

“Dari 700 spesies kayu putih, hasil tes laboratorium kami menunjukkan bahwa salah satu jenis diantaranya dapat membunuh corona,” katanya. “Kami yakin dengan ini. Kami akan memproduksinya bulan depan.”

Klaimnya dengan cepat ditentang oleh para ahli kesehatan, termasuk kepala laboratorium yang mengembangkan ramuan aromatik tersebut, yang mengatakan bahwa itu tidak efektif terhadap virus corona. Tetapi ia tidak menghentikan orang lain untuk mempromosikannya.

Segera setelah itu, Iis Dahlia, penyanyi dangdut popular, memberi tahu 12 juta pengikut Instagram-nya bahwa dia bangga mengenakan ‘jimat’ corona. “Kalung kayu putih ini membuatku merasa aman dan terlindung dari virus,” katanya.

Lebih nyeleneh lagi di Bali, Gubernur I Wayan Koster, mempromosikan pengobatan lokal dengan menghirup uap arak yang direbus. Seolah ingin tetap tren, ia juga merekomendasikan untuk menambahkan sedikit minyak kayu putih.

Gubernur, yang memiliki gelar PhD dalam pendidikan dan menggambarkan dirinya sebagai mantan “peneliti” itu, mengatakan dalam sebuah konferensi pers bahwa hampir 80 persen dari mereka yang menghirup ramuan itu dinyatakan negatif lebih cepat daripada yang diharapkan. Meskipun belum melalui pengujian ilmiah, tetapi Koster mengatakan bahwa dia berharap Bali dapat segera mematenkan dan memproduksinya.

Juru bicara satgas virus corona pemerintah, Wiku Adisasmito, mendesak masyarakat untuk mengikuti pedoman kesehatan dan tidak bergantung pada takhayul dan perawatan setengah matang, meskipun itu berasal dari pejabat publik dan selebritas.

“Pada saat darurat, kita semua membutuhkan fakta nyata yang jujur, berbasis ilmiah, untuk memberi kita harapan, ketenangan, dan kejelasan,” kata Wiku, yang juga profesor kebijakan kesehatan di Universitas Indonesia.

Sementara itu, Jusuf Kalla (JK), Ketua Palang Merah Indonesia, yang juga mantan wakil presiden, mengatakan bahwa negara ini memulai dengan lambat dalam memerangi virus corona, sebagian karena Menteri Kesehatan, Terawan Agus Putranto, meremehkan keparahan pendemi ini.

“Sampai Maret, Menteri Terawan seperti Trump, mengatakan, ‘Oh, ini hanya flu biasa,'” kata JK. “Tapi sekarang, Menteri Terawan sangat realistis. Para menteri dan gubernur berusaha mencari solusi dalam situasi yang tidak pasti. Ini adalah trial and error.

Sumber: NYT, Indonesiainside