Kontroversi Film 'Jejak Khilafah', Ini Klarifikasi Salim A Fillah, Dan Bantahan Prof. Peter Carey Yang Namanya Dicatut


KLARIFIKASI SALIM A FILLAH  

Di bawah ini pernyataan saya, Salim A. Fillah mengenai pencatutan nama Prof. Peter Carey dalam film dokumenter 'Jejak Khilafah'.

1. Saya bukan merupakan bagian dari tim film dokumenter 'Jejak Khilafah' dan tidak terlibat sedikitpun dari awal hingga akhir sebagai apapun juga di dalam perencanaan, produksi, maupun peluncurannya.

2. Saya memang mengenal sebagian anggota tim film dokumenter 'Jejak Khilafah' sebagai sesama pihak yang punya perhatian terhadap sejarah dan berbagi melalui media sosial. Tetapi saling kenal itupun dalam batas tenggangrasa sebab kamipun memiliki latar belakang afiliasi ideologi pergerakan yang berbeda. Saya bukan dan tidak pernah menjadi anggota HTI serta tetap dalam keyakinan bahwa Pancasila dan NKRI adalah rumusan para Bapak Bangsa bersama 'Ulama Pejuang yang layak dijunjungtinggi dan dijaga oleh seluruh Bangsa Indonesia.

3. Tim film dokumenter 'Jejak Khilafah' pernah menghubungi saya untuk melakukan wawancara kepada saya, akan tetapi saat itu saya dalam jadwal kesibukan yang padat dan sampai saat ini wawancara dengan saya tersebut tidak pernah terjadi.

4. Dalam komunikasi awal, tim juga menyampaikan kepada saya bahwa akan mewawancarai Ki Roni Sodewo (Ketum Patrapadi) dan Prof. Peter Carey. Saya mengatakan silakan saja. Saya kurang tahu jika persilaan saya ini lalu diartikan sebagai rekomendasi yang dibawa tim untuk meminta wawancara kepada kedua beliau. Pada prinsipnya, karena saya bukan bagian dari tim, saya tidak punya kepentingan apapun untuk memberi rekomendasi.

5. Dapat diduga ada ketidakterbukaan kepada narasumber dalam hal ini Ki Roni Sodewo dan Prof. Peter Carey akan maksud, tujuan, dan keperluan penggunaan hasil wawancara tersebut sehingga ketika hasil wawancara dirilis sebagai film 'Jejak Khilafah' maka kedua beliau menyatakan keberatan. Hal ini tentu sangat disesalkan.

6. Saya menyatakan mendukung Prof. Peter Carey dan Ki Roni Sodewo dalam menyatakan ketidaksetujuannya pada framing dan isi keseluruhan film lalu meminta agar wawancara dengan mereka dihilangkan dari film. Merupakan sebuah ketidakjujuran jika maksud dan tujuan wawancara tidak diungkap secara terbuka di awal lalu dijadikan bagian dari suatu narasi yang tidak disetujui oleh narasumber.

7. Segala langkah hukum adalah hak masing-masing pihak yang harus dihormati bersama.

Yogyakarta, 4 Agustus 2020, pukul 21:16

Yang membuat pernyataan,

(Salim A. Fillah)

***

Sejarawan Peter Carey bantah terlibat di "Jejak Khilafah di Nusantara"

Jakarta (ANTARA) - Sejarawan asal Inggris Profesor Peter Carey membantah terlibat dalam film "Jejak Khilafah di Nusantara", dia menganggap namanya dicatut dalam acara diskusi peluncuran film tersebut.

Melalui Feureau Himawan Sutanto selaku asisten penelitian Prof. Peter Carey, dia mengklarifikasi bahwa Carey sama sekali tidak terlibat dalam proyek film tersebut.

"Profesor Peter Carey tidak terlibat dalam proyek film tersebut. Mengenai diskusi launching film itu, pihak panitia tidak pernah menghubungi sebelumnya," kata Feureau Himawan Sutanto saat dikonfirmasi ANTARA, Selasa (4/8).

Feureau mengatakan bahwa Peter Carey merasa namanya telah dicatut sebagai tamu istimewa, special guest, dalam acara diskusi film tersebut tanpa terlebih dahulu memberikan konfirmasi kepadanya.

"Prof Peter merasa namanya telah dicatut dan digunakan dalam proyek dan acara diskusi yang mana dia sama sekali tidak terlibat dan tidak tahu menahu," ujar Feureau Himawan Sutanto.

Lebih lanjut, dia memaparkan bahwa Peter Carey memang pernah melakukan wawancara dengan pembuat film "Jejak Khilafah di Nusantara", namun hal itu ditujukan untuk meluruskan fakta sejarah tentang apa yang dilakukan dan tidak dilakukan oleh Pangeran Diponegoro sehubungan dengan Kerajaan Utsmaniyah dan sebaliknya.

"Waktu itu untuk meluruskan fakta sejarah tentang apa yang dilakukan atau tidak dilakukan Diponegoro sehubungan dengan kesultanan Utsmaniyah, di mana orang Turki sama sekali tidak tahu menahu mengenai Jawa," tutur dia.

Peter Carey, menurut dia, juga tidak tahu materi wawancara itu digunakan dalam acara diskusi launching film "Jejak Khilafah di Nusantara" karena tidak ada konfirmasi sebelumnya dari panitia.

"Pihak panitia sama sekali tidak menghubungi Prof Peter soal diskusi tersebut, jadi sama sekali enggak kasih penjelasan apapun soal pemakaian video wawancara tersebut untuk diskusi," kata Feureau.

Feureau mengatakan sejauh ini belum ada tanggapan apapun dari pihak panitia penyelenggara diskusi peluncuran film "Jejak Khilafah di Nusantara" mengenai pencatutan nama Prof. Peter Carey dalam kegiatan tersebut.

Sebelumnya beredar poster mengenai acara diskusi peluncuran film "Jejak Khilafah di Nusantara" yang menghadirkan sejumlah narasumber, salah satunya adalah Prof. Peter Carey yang dijelaskan sebagai salah satu tamu spesial dalam talk show peluncuran pada 2 Agustus 2020 lalu yang disiarkan di kanal YouTube Khalifah Channel,

Profesor Peter Carey merupakan sejarawan berkebangsaan Inggris yang mengkhususkan diri dalam sejarah modern Indonesia khususnya Jawa, dan menulis tentang Timor Leste serta Burma. Dia juga merupakan Emeritus Fellow Sejarah Modern di Trinity College, Oxford.

Sumber: Antara

Di bawah ini pernyataan saya, Salim A. Fillah mengenai pencatutan nama Prof. Peter Carey dalam film dokumenter 'Jejak...
Dikirim oleh Salim A. Fillah pada Selasa, 04 Agustus 2020
loading...