Jangan Remehkan Ma'ruf Amin!

Jangan Remehkan Ma'ruf Amin!

Penulis: Tony Rosyid
Pengamat Politik dan Pemerhati Bangsa

Ma'ruf Amin, selain seorang ulama kharismatik, dia juga seorang politisi. Lama berkiprah di PPP dan menjadi anggota DPRD DKI (1977). Ketika PKB lahir, Ma'ruf Amin pindah dan ikut membesarkan PKB. Ia menjadi salah satu anggota DPR terpilih dari PKB (1999).

Kiprahnya di dunia politik cukup matang. Banyak orang hanya melihat sosok Ma'ruf Amin sebagai ulama, terutama perannya sebagai Rais Am PBNU dan Ketua MUI. Jauh sebelum menjadi Kiyai top, Ma'ruf Amin telah lama menempa diri di dunia politik. Sebagai kader PPP dan kemudian PKB, cukup menjadi bekal Ma'ruf Amin mengasah pengalaman politiknya. 

Sangat keliru jika ada pihak-pihak yang mengecilkan kemampuan berpolitik Ma'ruf Amin. Kiyai yang satu ini punya insting politik yang tajam. Terbukti, ia berhasil menyingkirkan Mahfuz MD dari posisi cawapres Jokowi di last minute Hanya hitungan jam sebelum deklarasi. 

Jokowi yang semula meminta Mahfuz MD untuk menjadi cawapresnya, batal! Padahal, jas yang sedianya akan dipakai saat deklarasi capres-cawapres sudah dikirim oleh Mahfuz ke istana. Gak jadi. Yang deklarasi hari itu justru Jokowi-Ma'ruf Amin. Sakitnya sih disini. Tapi, posisi menkopolhukam setidaknya telah mengobati Mahfuz. 

Tidak saja Mahfuz MD, Muhaimin Iskandar (Cak Imin) yang jauh-jauh hari sudah pasang iklan cawapres dimana-mana, tersingkir juga. Ternyata, menjadi ketua umum PKB tak cukup mampu melawan Ma'ruf Amin.

Begitu juga K. H. Said Aqil Siroj. Ketua PBNU ini juga tak dipilih Jokowi untuk mendampinginya di pilpres 2019. Dan cerita ini dibongkar semua detil-detilnya oleh Mahfuz MD dalam dialognya di televisi swasta.

Jangan main-main dengan Ma'ruf Amin. Terpilihnya Ma'ruf Amin sebagai cawapres saat itu adalah bukti kepiawaian sang kiyai memainkan peran politiknya. Ini takdir, pasti. Tapi Tuhan tentu selalu menghitung ikhtiar hamba-Nya. 

Tak ada celah konstitusional Ma'ruf Amin dilengserkan, kecuali mundur. Kalau Ma'ruf gak mau mundur? Maka, tak ada pergantian wapres. Disini, Ma'ruf akan melihat siapa-siapa yang mengincar posisinya. Ia tak akan tinggal diam.

Desas desus (kabar-kabur), pergantian Ma'ruf Amin di tengah jalan sudah didesign jelang pilpres 2019. Bahkan isunya sudah ada kesepakatan antara Ma'ruf Amin dengan pihak yang memberi rekomendasi. Emang ada buktinya? Seandainya itu ada, toh dalam politik, semua perjanjian tak berlaku. Perjanjian Batu Tulis antara Prabowo-Megawati adalah salah satu contohnya. Juga perjanjian (konon tertulis) antara Prabowo-PKS terkait komposisi capres-cawapres di pilpres 2019. Bahkan janji Prabowo terkait Wagub DKI dari PKS sebagai pengganti Sandi pun tak berlaku. 

Janji politik, memang beda dengan janji-janji yang lain. Tingkat bohongnya lebih tinggi. Salah sendiri anda percaya. Kebohongan berjama'ah terjadi terutama saat pileg, pilkada dan pilpres. Pemilu adalah pasar untuk obral janji. 

Bagaimana jika Jokowi juga mendukung pergantian Ma'ruf Amin? Ingat, Ma'ruf Amin lebih sepuh. Soal pengalaman, belum tentu Jokowi lebih matang. Adu kuat? Ma'ruf bisa mengkapitalisasi NU dan umat untuk melakukan perlawanan. Bisa-bisa, bukan Ma'ruf yang diganti, tapi Jokowi yang akan dilengserkan. Saat Jokowi lengser, Ma'ruf Amin jadi presiden. Presiden kedua dari NU. Ini akan jadi sejarah. 

Jika 23 Juli 2001 Gus Dur (NU) diganti Megawati (PDIP), maka tak ada yang bisa menjamin Jokowi (PDIP) tidak lengser dan diganti oleh Ma'ruf Amin (NU). Hari esok, tak seorang pun yang tahu bagaimana takdir itu meneteskan tintanya. 

Jakarta, 12 Agustus 2020
Baca juga :