Ruang Guru Harus Dilawan

Ruang Guru

Pada 1980-an menjamur lembaga yang kemudian dikenal dengan lembaga bimbingan belajar (bimbel) seperti IPIEMS, Gama 81, Prioritas Gama, dan Primagama. Yang terakhir adalah paling besar, paling banyak cabangnya, dan paling kontroversial. Pada era digital saat ini muncul Ruang Guru.

Ada kemiripan antara Primagama dan Ruang Guru. Keduanya sama-sama “mengolok-olok” sistem pengajaran sekolah dan sekaligus mengambil keuntungan dari sekolah.

Meskipun demikian ada perbedaan dari keduanya. Primagama dan lembaga bimbel lainnya dalam pemasaran menyasar siswa-siswa terutama SMA kelas 3 dengan iming-iming melapangkan jalan lulus ujian masuk perguruan tinggi bergengsi. Para siswa kemudian merayu orangtua mereka meminta uang untuk mengikuti program bimbel. Tentu saja ada yang dituruti ada yang tidak.

Ruang Guru menggunakan segala upaya dalam memasarkan aplikasinya. Mereka menyasar pertama dan yang utama para orangtua genit dan pihak sekolah. Ada yang mengatakan bahwa pihak sekolah akan mendapat komisi apabila berhasil mengerahkan siswa mereka melanggani Ruang Guru. Bukan itu saja Ruang Guru dengan dana promosi raksasa menyewa waktu utama (prime time) media televisi untuk berkampanye seperti yang dilakukan tadi malam. Mereka menyewa waktu utama di stasiun televisi nasional sekitar dua jam tayang. Ada yang tahu berapa harga sewanya termasuk membayar para selebritis pengisi acara?

Apa yang Ruang Guru tampilkan tadi malam sungguh memuakkan sekaligus mengenaskan bagi masa depan persekolahan. Ruang Guru mendaku berhasil mengantar banyak siswa ke perguruan bergengsi. Ruang Guru juga mendaku berhasil meningkatkan nilai rapor para siswa yang melanggani aplikasi Ruang Guru.

Yang mengenaskan adalah Ruang Guru menampilkan kesaksian para guru untuk menguatkan promosi Ruang Guru. Sertifikasi guru seperti menjadi sia-sia. Murid hanya diajarkan memecahkan soal-soal untuk mendapat nilai tinggi, tetapi tidak diajarkan memecahkan persoalan.

Empu pendidikan Romo Drost dalam bukunya “Sekolah: Mengajar atau Mendidik?” mengatakan apabila sekolah memasukkan lembaga bimbel dalam sistem pengajaran, maka secara telak sekolah itu sudah gagal. Sekolah sudah gagal dalam menolong tugas orangtua yang tidak bisa dilakukan oleh orangtua yaitu pengajaran. Sekolah sudah gagal menolong orangtua membentuk naradidik menjadi pribadi dewasa-mandiri.

Dengan melihat acara Ruang Guru di televisi tadi malam, Ruang Guru sedang menggusur keberadaan sekolah tradisional secara literal. Hal ini sangat berbahaya, karena akan menciptakan generasi muda tanpa visi dan tanpa watak cendikia. Watak cendikia amatlah hakiki sebagai hasil pendidikan, karena ia akan memiliki landasan filsafati dalam mencerap arah peradaban negara dan dunia.

Ruang Guru harus dilawan. Dilawan? Tentu saja para ortu genit akan membela Ruang Guru dengan alasan kurikulum sekolah yang payah. Tidak ada kurikulum yang payah. Yang payah adalah pemegang kekuasaan tidak menguasai filsafat pendidikan.

Kurikulum pengajaran SMA sudah bagus. Bahkan amat sangat bagus. Pada 1984 Mendikbud Brigadir Jenderal Nugroho Notosusanto menetapkan kurikulum 1984 dan memunculkan istilah Nilai Ebtanas Murni (NEM). Sejak saat itu semua SMA adalah sekolah unggulan. Sekolah unggulan ini dipertajam oleh Mendikbud Wardiman Djojonegoro lewat kurikulum 1994 dengan basis link and match. Kurikulum ini mengadopsi silabus tiga kelas terakhir sekolah di Belanda dan Jerman.

Dengan kurikulum di atas murid-murid SMA disiapkan untuk menyongsong jenjang lebih tinggi di perguruan tinggi (PT). Sialnya pembuat kebijakan pengajaran nasional itu mengandaikan semua anak Indonesia berkemampuan di atas normal. Pada kenyataannya di seluruh dunia hanya 25% berkemampuan di atas normal yang dapat mengikuti kurikulum PT. Di Jerman sekolah menengah yang menampung sekitar 25% jumlah total anak itu disebut gymnasium, di Belanda disebut voorbereidend wetenschappelijk onderwijs (VWO). Dengan demikian tidak sampai sepertiga anak-anak di negara-negara maju di atas normal yang siap berkuliah di universitas atau PT.

Dalam pada itu sekitar 75% yang merupakan anak-anak normal bersekolah kejuruan sesuai minat mereka. Di Jerman sekolah yang menampung anak-anak normal ini disebut realschule, di Belanda disebut hoger alhemeen vormend onderwijs (HAVO). Lulusan sekolah ini tidak melanjutkan ke universitas, melainkan ke sekolah tinggi, politeknik, akademi, dsb., atau langsung pergi bekerja. Atlet profesional, sekalipun berintelektual tinggi, sulit untuk mengikuti sekolah menengah model gymnasium atau VWO. Pemain-pemain asli FC Bayern München, misalnya, bersekolah di sekolah kejuruan yang kebanyakan sekolah bahasa. Dalam perjalanannya apakah lulusan sekolah kejuruan boleh ke universitas? Pada kenyataannya legenda Bayern Oliver Kahn dan Philipp Lahm, sebagai misal, berderajat atau bergelar master bisnis.

Indonesia memiliki sekolah menengah untuk anak-anak berkemampuan di atas normal seperti gymnasium atau VWO. Sekolah itu bernama SMA. Hebat ‘kan? Perbedaannya SMA di Indonesia dibuat untuk menampung sebanyak-banyaknya anak-anak usia sekolah menengah. Akibatnya 75% anak-anak normal menjadi hancur lebur. Sering terdengar SMA 1 Yogyakarta dan SMA Taruna Nusantara berhasil mengantar bagian terbesar murid ke universitas pilihan. Apakah sekolah mengajar dengan sangat baik? Apakah sekolah menggunakan metode mutakhir? Omong kosong alias mbèlgèdhès! Sekolah itu berhasil, karena menerima murid-murid lulusan SMP dengan rerata NEM di atas sembilan.

Inilah persoalan mendasar pada pengajaran di Indonesia sejak lama. Pemerintah lewat depdikbud/kemendikbud melalaikan 75% anak-anak normal. Anak-anak ini sangat membutuhkan sekolah yang sesuai, bukan dihancurkan lewat “sekolah unggulan”. Mendikbud Nadiem Makarim mulailah berpikir untuk mengubah nisbah (ratio) SMA dan SMK menjadi 1:3. Data 2018 jumlah SMA di seluruh Indonesia sebanyak 13.495, sedang SMK sebanyak 13.710. Dengan nisbah 1:3 maka jumlah SMA dikurangi menjadi 6.801, sedang SMK ditambah menjadi 20.503.

Dalam suatu seminar "Pengembangan SDM Indonesia Menuju Ekonomi Digital" Nadiem mengatakan Indonesia tetap membutuhkan sekolah yang memersiapkan calon-calon ahli seperti enjinir, ahli hukum, dan keahlian yang lain. Dalam pada itu Nadiem juga berpendapat anak-anak Indonesia harus dipersiapkan dalam menghadapi revolusi dunia digital. Muatan yang wajib diajarkan, kata Nadiem, adalah bahasa coding. Di sinilah kesempatan Nadiem untuk mewujudkan pemikirannya dalam membekali anak-anak SMK. Mereka bisa bekerja untuk belajar (bukan belajar untuk bekerja). Jangan lagi ada SMK yang bermuatan SMA Plus, yaitu SMA dengan tambahan keterampilan khusus. Sudah SMA ditambah beban berat muatan keterampilan. Matilah anak-anak SMK.

Apabila nisbah SMA dan SMK usulan di atas benar-benar diterapkan oleh Nadiem, maka Ruang Guru segera dtinggalkan oleh para investornya. Tidak laku lagi.

MDS
(170720)