Mereka yang Beraninya Melawan Poster


Mereka yang Beraninya Melawan Poster

Oleh: Geisz Chalifah

SAYA paling tak suka berkelahi, kesatu badan saya gepeng jadi kalau gak terpaksa mending gak usah. Saya selalu butuh banyak tenaga bila berkelahi dan ketika terjadipun saya harus gunakan akal. Tak cuma tenaga bila ingin menang. Oleh sebab itu jarang sekali saya terlibat perkelahian.

Tapi keadaan seringkali memaksa untuk mempersiapkan pasukan terutama saat di kampus. Seringkali anak umat (HMI) dijadikan incaran. Dan kita seringkali juga hanya selesai di rapat konsolidasi tanpa pembalasan setelah satu dua anak mengalami kekerasan.

Keadan berubah setelah konsolidasi internal dengan langsung menunjuk senko (sentral komando).

Setiap ada kader HMI mengalami kekerasan (digebukin) maka hari itu juga semua aktifis dari berbagai fakultas berkumpul di depan sekertariat masjid, kemudian semua tempat, kantin, lorong di samping kampus, warung-warung seberang kali ditelusuri. Selanjutnya pelaku kekerasan itu tidak bisa kuliah minimal satu minggu, kadang juga lebih dari itu. Kecuali dia tetap ingin menunjukkan wajah bekas bedah (non plastik) hasil karya tangan-tangan lincah yang mampir ke wajahnya.

Saya pribadi tak pernah terlibat cuma menonton saja dari dekat dan menikmati orang-orang yang seringkali sok jagoan lalu termehek-mehek lari ke ruang Purek 3 untuk menyelamatkan diri.
Lalu kemudian Purek 3 memanggil saya sebagai ketua Masjid Kampus (Unit Kerohanian Islam) untuk diskusi dan meminta menenangkan teman-teman yang tentu saja saya turuti. Tokh pelaku awalnya sudah menerima balasan setimpal.

Lalu beberapa waktu kemudian kembali mengkonsolidasi teman-teman untuk bertarung lagi bila ada lagi kader HMI menjadi korban kekerasan.

Situasi itu berlangsung menjadi seperti acara rutin tahunan yang kadang menjadi bulanan.

Kemarin saya melihat ada para “jagoan” melawan poster (bukan) orangnya bukan pula anak buahnya, hanya sebuah poster yang mereka dengan gagah berani menimpuki. Menginjak-injak yang orang tersebut pun sedang berada jauh di negeri seberang.

Lalu mereka orasi dengan ekspresi seolah pemenang seolah jawara yang tak ada orang lain yang akan berani melawan mereka.

Malam harinya para “jagoan” itu sudah menyembunyikan dirinya entah kemana.

Tikus tetap aja tikus ga akan pernah jadi macan.[]


Baca juga :