Menunggu Trah Jokowi vs Trah Megawati


Menunggu Trah Jokowi vs Trah Megawati

Politik Solo itu sebetulnya tak menarik. Bukan karena Gibran, anak Presiden Jokowi, maju di Pilwako, melainkan karena dominasi PDIP terlalu kuat. Tak hanya 50% + 1, melainkan 65% dari jumlah kursi yang ada di DPRD Surakarta.

Bayangkan, dari 45 kursi, PDIP menguasai 30 kursi. 15 kursi lain dibagi buat PKS, 5 kursi, Gerindra, 3 kursi, PAN, 3 kursi, Golkar, 3 kursi, dan PSI, 1 kursi. Bahkan partai sekelas PKB, NasDem, dan Demokrat, tak ada kursi di sana.

Ini yang luput dan tak banyak dipahami orang. Bahkan, oleh pengamat tingkat nasional pun.

Berkumpul pun semua parpol selain PDIP, tetap saja hanya bisa mengusung satu pasangan calon. Sebab, syarat mengusung 20%, berarti butuh 9 kursi. Jadi, bagaimanapun diutak-atik, tetap tak bisa mengusung lebih dari satu calon.

Dan itu pasti tak mudah untuk menggalang koalisi, selain PDIP. Apalagi, kalau tak ada calon yang benar-benar kuat. PDIP sudah berperiode-periode berkuasa di Solo. Jokowi dan F.X. Rudy Hadyatmo sudah dua periode.

Makanya, saat muncul nama Gibran, dan PDIP termasuk Megawati, belum memberi lampu hijau, politik Solo menjadi menarik. Bukan pula karena Gibran, melainkan Jokowi vs Megawati. Dukungan dari parpol lain pun, menggeliat.

Bahkan, sekelas PSI yang hanya punya 1 kursi, bersedia menggalang kekuatan untuk maju lewat jalur perseorangan, asal buat Gibran. Termasuk dari Gerindra, Golkar, PAN, termasuk PKS. Ini kesempatan melawan dominasi PDIP.

Tapi, saat PDIP atau Megawati melunak, dan memberikan tiket buat Gibran, maka otomatis Pilwako Solo, sudah selesai. Yang terbayang justru Gibran vs kotak kosong. Sekali lagi bukan karena Gibran, melainkan karena PDIP.

Jadi, biarkanlah pilwako Solo itu. Gibran vs kotak kosong; Gibran menang atau kalah lawan kotak kosong; sudah tak menarik lagi. Setelah ini apakah trah Jokowi vs trah Soekarno akan bertarung? Ini yang lebih menarik buat diikuti.

(Oleh: Erizal)