Fitnah Islam dalam Sepotong Klepon


Fitnah Islam dalam Sepotong Klepon

Oleh: Karta Raharja Ucu

Ahad, 19 Juli 2020 atau tiga hari sebelum bulan Dzulqadah berganti menjadi bulan Dzulhijjah, Indonesia kehilangan salah satu profesor aksara, Sapardi Djoko Darmono. Indonesia berduka kehilangan sastrawan besar. Media sosial dipenuhi dengan kalimat-kalimat puitis nan romantis dari para warganet yang menyadur puisi, sajak, dan prosa dari eyang Sapardi. Namun, sosmed dipenuhi diksi-diksi surgawi hanya bertahan satu hari sebelum sebuah postingan yang memporak-porandakan keayeman jagat dunia maya: Klepon tak Islami.

Klepon, ada apa dengan klepon? Kami di redaksi Republika kaget terheran-heran, kok bisa klepon jadi trending topic?

Postingan yang membuat banyak warganet terpancing berkomentar, baik komentar buruk, makian, cacian, umpatan, hingga pembelaan, itu berisi sebuah foto kue klepon berwarna hijau dengan parutan kelapa di atasnya. Yang membuat postingan itu kontroversi adalah captions yang ditempelkan di foto tersebut: KUE KLEPON TAK ISLAMI. Yuk tinggalkan jajanan yang tidak islami dengan cara membeli jajanan islami, aneka kurma yang tersedia di toko syariah kami. Untuk mempertegas (seolah-olah) siapa yang membuat, dicantumkanlah nama "Abu Ikhwan Aziz".

Guna mengurai isu tersebut, kita perlu membedahnya menggunakan analisis framing. Dalam ilmu komunikasi, analisis framing adalah versi terbaru dari pendekatan analisis wacana.

Nah, postingan soal Kue Klepon tak Islami yang viral di media sosial tersebut menggunakan analisis framing itu. Tujuannya apa? tentu saja menggiring pembaca (warganet) untuk berkomentar sesuai dengan apa yang menjadi tujuan si pembuat postingan: memancing keributan.

Menurut saya, pembuat postingan itu juga memanfaatkan ilmu psikologi dalam pemasaran yakni membangkitkan emosional calon pelanggan. Pelanggan di postingan tersebut adalah warganet. Dengan memposting Kue Klepon tak Islami, tanpa harus banyak bekerja keras, si pemosting akan meraup tujuannya lebih cepat karena besar kemungkinan umpannya akan disambar akun-akun lain. Jika umpan sudah termakan, para warganet pun akan bereaksi emosional. Baik yang pro maupun yang kontra.

Dalam ilmu Jurnalistik juga dikenal analisis Semiotika. Analisis simbol ini terbagi menjadi tiga: Semantik, Sintaksis, dan Pragmatik. Kita bisa membongkar postingan Klepon tak Islami tersebut menggunakan "pisau bedah" Semantik di mana setidaknya saya menemukan tanda penting yang memiliki makna tertentu sehingga memancing keingintahuan pembacanya: bahasa, kode, dan simbol.

Bahasa dalam postingan tersebut menggunakan diksi yang mudah dicerna: "tak islami", "kurma", dan "toko syariah". Tiga diksi tersebut sudah tentu mengarah kepada Islam. Sasaran utamanya tentu saja untuk menyudutkan dan menfitnah seolah-olah umat Islam yang membuat postingan tersebut.

Kode yang digunakan adalah disematkannya nama Abu Ikhwan Aziz (akunnya bahkan baru dibuat satu hari saat memposting foto klepon), sebagai "Orang Arab" penjual kurma. Nama itu tentu dicantumkan untuk menggiring para pembacanya: pembuat postingan itu adalah orang Islam.

Sementara simbol yang digunakan dalam postingan tersebut adalah kue klepon. Jajanan pasar yang dikenal rakyat Indonesia ini disebut sebagai produk budaya Indonesia. Tak hanya orang Jawa saja, kue klepon juga dikenal di masyarakat Betawi dan Sunda. Penggunaan kue klepon sebagai simbol "budaya" disandingkan dengan bahasa kurma, syariah, dan kode abu-abuan. Tujuannya: ah tanpa saya beritahu pun Anda sudah pasti mengerti jika postingan ini untuk membenturkan budaya Indonesia dengan agama Islam.

Coba seruput kopi pagi Anda dulu dan tarik nafas sebentar sebelum berkomentar di media sosial. Majelis Ulama Indonesia (MUI) menyatakan jajanan tradisional klepon adalah makanan halal. Tim sosmed Republika menelusuri, ada kejanggalan postingan tersebut. Satu di antaranya adalah saat beberapa jejak postingan sengaja dihapus oleh beberapa akun yang memposting meme tersebut.

Seperti temuan dari Komunitas Anti Hoax, Indonesian Hoaxes yang melakukan riset mendalam atas postingan yang viral tersebut. Adisyafitrah Ketua Komunitas Indonesian Hoxaes, menyebut postingan tersebut hanya klaim sepihak atas isu klepon yang sengaja dibuat dengan tujuan memancing keributan di media sosial.

“Ini bukan didasari dari sentimen politik, atau apa pun, namun hanya keisengan yang disalahgunakan untuk memancing keributan,” ujar Adisyafitrah pada Republika.co.id di Jakarta, Selasa (21/7).

Postingan berbau sentimen agama, ras, dan suku di media sosial memang mudah sekali menjadi trending topic sebagai lanjutan dari pertarungan Pilpres 2014. Dua kubu yang mendapatkan suara yang tak terpaut jauh membuat keterbelahan bangsa ini semakin melebar.

Padahal, jika kita telaah masih ada banyak isu yang bisa menjadi bahan diskusi menarik warganet. Seperti makin abainya masyarakat terhadap keberadaan covid-19, kasus Djoko Tjandra yang berkali-kali ngadalin aparat, atau terpilihnya Gibran Rakabuming sebagai bakal calon wali kota Solo dari PDIP.

Coba kita telusuri akun-akun yang berisik ketika musisi Anji mempertanyakan foto jenazah Covid-19 yang dipotret fotografer National Geographic, Joshua Irwandi. Tak sedikit warganet yang setuju dengan postingan Anji yang (salah satunya) mempertanyakan mengapa sang fotografer bisa mendapatkan akses untuk memfoto jenazah. Sumpah serapah pun tak terhitung lagi. Meski akhirnya Anji menghapus foto tersebut dan meminta maaf.

Atau ke mana perginya akun-akun yang saat ini memposting soal Klepon tak Islami ketika Djoko Tjandra membuat harga diri penegak hukum Indonesia diinjak-injak, lantaran ia bisa dengan mudah mendapatkan kartu identitas: KTP, paspor, hingga surat jalan dari Polri. Kok senyap? Kok gak gaduh? Kok.. Kok..

Di bidang politik, terpilihnya Gibran menjadi wakil dari PDIP juga menurut saya sangat menarik dikaji. Ada aroma oligarki di isu ini.

Saya jadi teringat sebuah pernyataan dari Deny Siregar tentang "piring emas". Ia mengaku khawatir iklim politik pada 2024 akan diisi para penerus-penerus keluarga (politikus) yang baru. Nama-nama seperti Puan Maharani dari PDIP dan Agus Harimurti Yudhoyono dari Demokrat disindir Denny. Namun ketika Gibran masuk ke dunia politik, timeline mendadak senyap. Sepertinya kue klepon bagi mereka lebih legit dibicarakan.

"Pasti ada hubungannya kedekatan dengan partai bukan dari sisi profesionalisme, bukan dari sisi bagaimana bekerja. Mereka hanya tumbuh dari fasilitas, mereka orang-orang yang tumbuh dari piring emas. Bagaimana kita bisa berharap terbangun dengan bagus dari orang-orang yang tidak pernah susah dalam hidupnya," kata Denny Siregar.

Ah dari tadi ngomongin kue klepon jadi lapar. Pagi-pagi seperti ini memang enaknya minum kopi ditemani kudapan klepon daripada martabak. Tabik.[ROL]