ERDOGAN & ATATURK


ATATURK

Sejak dulu, meski banyak orang Turki mengkritik perubahan Hagia Sophia menjadi museum, namun kebanyakan mereka, sepengetahuan saya, selalu menghindar untuk mengkritik Ataturk. Mungkin, ada dua penjelasan kenapa hal itu terjadi.

Pertama, mereka mencoba "mikul duwur mendem jero". Ataturk adalah pahlawan bagi seluruh orang Turki. Dialah pendiri Republik Turki modern. Sebagai bentuk penghormatan, mereka segan untuk mengkritik secara langsung pribadi pemimpinnya.

Kedua, masih kuatnya golongan Kemalis di tubuh tentara, penegak hukum, dan birokrasi pemerintahan, sehingga banyak orang bersikap hati-hati mengenai hal ini.

Kalau kita mendengar pidato Erdogan tanggal 10 Juli lalu, saat mengumumkan keputusan Dewan Negara mengenai perubahan status Hagia Sophia kembali menjadi masjid, dia sama sekali tidak menyebut atau mengusik nama Ataturk. Dia memang tidak harus melakukannya. Tapi, menurut saya, hal ini menarik diperhatikan.

Meski tiap kali pemilu Erdogan selalu menziarahi mausoleum Ataturk, haluan politik Erdogan pastilah jauh berbeda dengan Ataturk. Namun, dengan perbedaan itu, dia tak pernah mengusik Ataturk secara langsung. Mari kita lihat.

Ketika pemerintahan Erdogan membangun Istanbul Grand Airport (IGA), atau Istanbul New Airport, yang merupakan bandara terbesar di dunia, saya melihat dia sebenarnya pelan-pelan sedang berusaha untuk menggeser posisi sentral Ataturk dalam benak banyak orang. Meminjam istilah Amien Rais tahun 1990-an, ini adalah langkah "high-politics". Sebab, dengan adanya Istanbul New Airport, maka Istanbul Ataturk Airport, yang menyandang nama besar Ataturk, kini hanya sekadar menjadi bandara kecil saja, yang tinggal melayani private jet dan charter flight.

Kembali, lepas dari soal suka atau tidak suka kepada politik Erdogan, atau Ataturk, saya respek pada adab pemimpin politik yang tak gampang mengumbar cacian kepada para pendahulunya.

(BY Tarli Nugroho)

*fb