Apakah EUCALYPTUS Bisa Jadi ANTIVIRUS CORONA?


Apakah EUCALYPTUS Bisa Jadi ANTIVIRUS CORONA?

Oleh: Dr. Warsito Purwo Taruno

Ekstrak daun eucalyptus (minyak kayu putih) banyak mengandung essential oil, salah satunya 1,8-Cineole (eucalyptol) yang banyak digunakan sebagai bahan farmasi (Lihat paper terlampir).

Sifat eucalyptol adalah minyak yang dalam suhu biasa mudah menguap. Pada struktur molekul eucalyptol ada gugus benzena yang sifatnya mudah mengikat senyawa lipida. Virus (partikel) corona adalah protein yang terbungkus lapisan lipida (lemak) di bagian luar. Jadi senyawa eucalyptol akan mudah menempel di bagian luar partikel virus corona.

Bisa dibilang cara kerja minyak eucalyptol adalah mirip dengan cara kerja sabun terhadap virus di dalam air (Lihat gambar dari artikel New York Times). Anggap saja eucalyptol sebagai sabun yang bekerja dengan medium udara.

Ingat, kata UDARA adalah penting. Karena minyak eucalytol tidak bisa bekerja di dalam air.

Lalu apakah minyak eucalyptol bisa mematikan virus corona? Di dalam fisika MATI itu tak ada definisinya, atau definisi apa saja boleh. Artinya terserah.

Yang jelas eucalyptol bisa mengikat bagian luar virus dan membungkus virus menjadi micella (seperti buah rambutan yang dikelilingi rambut). Dengan begitu partikel virus jadi terbungkus (encapsulated) oleh minyak sehingga titik aktif virus tertutup senyawa minyak, tak bisa menempel di permukaan sel tubuh manusia dengan baik. Gagal menginfeksi.

Tetapi itu hanya terjadi apabila virus masih di udara. Kalau virus sudah menempel di permukaan sel, minyak eucalyptus tak bisa bekerja. Apalagi kalau virus sudah menginfeksi sel tubuh.

Ketika virus sudah masuk saluran pernafasan tetapi belum menempel di permukaan sel epitelium minyak eucalyptus mungkin bisa bekerja "menangkap" virus agar tidak menempel di sel. Tetapi akan perlu kensentrasi yang cukup untuk bisa bekerja dengan baik. Dan kecepatan virus menempel di permukaan sel jauh lebih cepat (efek elektrostatis) dibanding dengan ikatan antara minyak dengan lemak di permukaan virus.

Kesimpulannya? Terserah.

Saran saya minyak eucalyptol akan lebih efektif kalau digunakan sebagai essential oil untuk aroma terapi di ruangan, terutama mudah mengikat virus yang menumpang aerosol yang beredar di udara (isu yang saat ini sedang membuat "pusing" WHO).

Penggunaan minyak eucalyptol untuk di masker juga membuat fungsi masker jadi lebih tidak efektif, karena daya filtrasi masker terhadap partikel virus yang terkuat adalah efek elektrostatis. Kalau permukaan masker dibasahi dengan minyak, efek elektrostatisnya bisa berkurang atau bahkan hilang.

(Sumber: fb Dr. Warsito Purwo Taruno)

*Lampiran: