Akun Medsos "Pakar Timur Tengah Palsu" Yang Menyerang Turki-Qatar Sukses Mengelabuhi Media-Media Internasional


[PORTAL-ISLAM.ID]  Twitter menghapus akun yang mengatasnamakan “pakar Timur Tengah palsu yang didukung oleh Uni Emirat Arab (UEA)”. Akun itu selama ini telah melakukan propaganda negatif terhadap Turki dan Qatar. Dengan akun palsu yang dibuat, opini dan pernyataan mereka telah berhasil mengelabui media-media internasional untuk memuatnya.

Setidaknya 19 pakar palsu dengan identitas palsu telah dimuat di lebih dari 90 lembar opini dari 46 publikasi berbeda sejak Juli 2019, dengan isi pesan memuji UEA, dan melakukan propaganda negatif terhadap Qatar, Turki, dan Iran, menurut laporan investigasi The Daily Beast yang berbasis di Amerika Serikat (AS), Selasa(7/7/2020).

Salah satu pakar palsu di jaringan ini adalah Raphael Badani, kata laporan itu, yang disebut sebagai kolumnis “Insider” Newsmax. Raphael telah mempromosikan Dubai sebagai oasis stabilitas di wilayah yang bergejolak di berbagai publikasi, termasuk Washington Examiner, Real Clear Markets, American Thinker, dan the National Interest.

Badani menggambarkan dirinya sebagai “konsultan risiko geopolitik dan perancang simulasi interaktif” dan “analis senior hubungan internasional” untuk Departemen Tenaga Kerja tetapi dalam kenyataan orangnya tidak ada.

“Foto-foto profilnya diambil dari blog pendiri startup San Diego. Profil LinkedIn-nya, yang menggambarkannya sebagai lulusan George Washington dan Georgetown, sama-sama fiktif,” kata laporan yang ditulis oleh wartawan Adam Rawnsley.

Pada Senin kemarin (6/7/2020), Twitter menangguhkan akun Badani bersama 15 akun palsu lainnya.

Laporan tersebut menyebutkan Jerusalem Post, Arab News, Al-Arabiya, South China Morning Post, Jewish News Service, Middle East Online, Asia Times, The Post Millennial, dan banyak media lainnya juga telah menggunakan pernyataan para pakar palsu ini sebagai referensi dalam liputan berita mereka.

Jurnalis palsu

Identitas dan kepribadian dalam jaringan tersebut menggunakan campuran avatar yang dicuri atau yang dihasilkan oleh AI dan biografi palsu untuk membuatnya tampak lebih masuk akal, ungkap laporan penyelidikan.

Marc Owen Jones, seorang profesor di Universitas Hamad bin Khalifa di Qatar, adalah orang pertama yang memperhatikan akun mencurigakan itu. Jones melakukan penelitian tentang berbagai topik, termasuk peran Twitter Bots dan strategi kontrol informasi yang digunakan oleh aktor negara dan non-negara.

“Operasi influencer yang luas ini menyoroti kemudahan di mana para pelaku dapat mengeksploitasi identitas orang-orang nyata, menipu kantor berita internasional, dan menyebar propaganda dari sumber tak dikenal yang dilegitimasi melalui media terkemuka,” kata Jones kepada Daily Beast.

“Ini bukan hanya berita palsu yang perlu kita waspadai, tetapi juga jurnalis palsu.”

Lewat akun Twitter-nya, Jones juga menyampaikan bagaimana dia melacak kampanye berita palsu tersebut.

Kampanye palsu menyerang Turki dan Qatar

Laporan tersebut mengklaim bahwa salah satu motif platform palsu dan para pakar palsu ialah menyerang Turki dan Qatar atas peran dua negara itu di kawasan Timur Tengah.

Kedua negara itu secara konsisten mendukung gerakan demokrasi di Timur Tengah dan mengecam kudeta militer dalam pandangan politik baru yang dibentuk oleh gerakan Arab Spring dan perang Suriah.

Di sisi lain, para putra mahkota UEA dan Arab Saudi, serta presiden Mesir yang berkuasa melalui kudeta militer yang berdarah, telah memupuk hubungan baik dengan Israel dan aktor Barat lainnya dengan mengorbankan kepentingan umat Islam di wilayah tersebut.

“Persia Now, The Arab Eye, dan lusinan publikasi lainnya, para kontributor palsu telah mengadopsi tema serupa di dalam opini mereka,” kata laporan itu.

“Mereka kritis terhadap Qatar dan khususnya kantor berita yang didanai oleh negara itu, Al Jazeera. Mereka tak mendukung peran Turki dalam perang saudara di Libya dan menyebutnya ‘berita buruk’, yang ditujukan untuk ‘membatasi aliran sumber daya energi vital’ ke Eropa, dan mendorong perbedaan dan perpecahan NATO,” tambah laporan itu.

Para pakar palsu juga menyerang Tavakkol Karman, penerima Hadiah Nobel Perdamaian 2011 dari Yaman, yang baru-baru ini ditunjuk sebagai anggota Dewan Pengawas Facebook.

Semenjak bertugas di Facebook, dia telah difitnah secara tidak adil oleh media swasta dan media pemerintah Arab Saudi, Mesir, dan UEA, yang mencantumkan gagasan dan opini dari aktor palsu tersebut.

Berbicara kepada The Daily Beast, seorang pejabat Twitter menekankan pihaknya memiliki bukti kuat bahwa akun-akun tersebut didukung oleh sebuah negara.

Mereka tidak suka dengan kehadiran Turki di Libya

Akun palsu dukungan UEA merilis artikel yang mengkritik Qatar dan Turki serta mendukung penambahan sanksi terhadap Iran.

Semua tulisan yang diterbitkan oleh akun-akun tersebut berisi kalimat-kalimat yang hampir sama, nampak jelas pengguna akun ini tidak suka dengan peran Turki di Libya.(EP/AA)

Sumber: IndonesiInside