Akhir Cerita Hagia Sophia


Akhir Cerita Hagia Sophia

Oleh: Muhammad Haykal (Kandidat magister di Marmara University, Istanbul)

Beberapa hari lalu (10 Juli 2020) pengadilan administrasi utama Republik Turki telah mencabut status Hagia Sophia sebagai museum dengan membatalkan keputusan kabinet tahun 1934. Pencabutan status Hagia Sophia kemarin ini juga turut diikuti dengan dekrit Presiden Erdoğan bahwa kepengurusan Hagia Sophia yang sebelumnya berada dibawah Kementerian Kebudayaan (sebagai museum) kini telah dilimpahkan ke Kementerian Urusan Agama atau Diyanet İşleri Başkanlığı serta dialih fungsikan menjadi sebuah masjid. Rencananya bangunan Masjid Hagia Sophia akan dibuka kembali pada pelaksanaan shalat Jumat 24 Juli mendatang dan dalam beberapa bulan ke depan setelah seluruh perbaikan interior bangunan selesai, baru akan dibuka dan difungsikan sebagai tempat ibadah secara permanen.

Jika hendak melihat sejarahnya sejenak, Hagia Sophia didirikan pertama kalinya pada tahun 360 masehi oleh Kaisar Costantine, lalu terbakar saat pemberontakan rakyat Bizantium pada 404 masehi. Kemudian pada tahun 514, bangunan tersebut berhasil dibangun kembali atas perintah Kaisar Thodosios II (408-450). Namun ia kembali runtuh pada 532 pada saat pemberontakan Nicea. Hanya dalam lima tahun berikutnya pada 537 Hagia Sophia dibangun kembali sebagai Katedral terbesar Kerajaan Romawi Timur atas perintah Kaisar Justinianus. Bangunan terakhir inilah bentuk fisik yang bertahan hingga hari ini. Pada tahun 1453, Sultan Mehmet II (Muhammad Al Fatih) telah menaklukkan Kostantinople dan mengalihfungsikan Hagia Sophia dari Katedral menjadi sebuah Masjid. Untuk melestarikan fungsinya sebagai tempat ibadah Sultan Mehmet II mendirikan Yayasan Wakaf Hagia Sophia, walaupun fungsinya diubah menjadi masjid namun uniknya ia tidak mengubah nama Hagia Sophia tersebut.

Ayasofya dan Yayasan Waqafnya beroperasi selama 480 tahun sebagai masjid. Pada tahun 1934 kabinet mengeluarkan dekrit mengumumkan pengalihfungsian Ayasofya dari masjid menjadi museum. Pada dekrit tersebut juga disebutkan peleburan waqaf dan menghancurkan beberapa tempat usaha milik waqaf Ayasofya yang terletak disekitaran bangunan. Uang yang dikelola oleh Ayasofya dibagikan ke institusi-institusi keagaamaan lainnya, pemerintah saat itu mengklaim pengalihfungsian Ayasofya menjadi museum berguna untuk perkembangan ilmu pengetahuan (khususnya sejarah) sehingga turut didatangkan berbagai ilmuwan dari Amerika untuk menemukan kembali mozaik-mozaik Romawi yang sudah hilang.

Kini, saat Ayasofya dialihfungsikan kembali oleh Erdoğan banyak suara pro dan kontra. Sehingga tiap kubu saling mencari dalil untuk melegitimasi klaim pihaknya. Yang kontra rata-rata beranggapan bahwa kebijakan ini telah mencemari pluralisme beragama dan toleransi, ada juga kubu sekuler di Turki mengekspresikan rasa kerisauannya mereka beranggapan bahwa ini merupakan awal dari tradisi menghapus jejak Ataturk. Pada saat keputusan bapak pendiri bangsa ini (dekrit kabinet 1934) telah berhasil diubah dan diganti dengan sebuah keputusan lain, maka ini pertanda bahwa apapun ‘warisan’ dari bapak pendiri bangsa bisa diganti sewaktu-waktu. Mereka juga beranggapan bahwa konversi Ayasofya menjadi masjid tidak menyelesaikan masalah apapun, masalah ekonomi, pengangguran, inflasi dll.

Kaum kanan Turki atau masyakarat konservatif beranggapan bahwa ini merupakan hasrat seluruh muslimin di Turki dan dunia. Hagia Sophia adalah wasiat dari Sultan Fatih untuk tetap difungsikan sebagai masjid. Salah satu yang sejak lama telah memperjuangkan konversi Ayasofya adalah pergerakan Milli Görüş, pergerakan yang dicetus oleh Necmettin Erbakan ini memang hampir selama 40 tahun belakang ini terus menyuarakan ide konversi tersebut. Hampir setiap tahun saat perayaan Istanbul Fetih pada 29 Mei, mereka selalu mengorganisir shalat berjamaah di depan Ayasofya dan berdoa.


Pada akhirnya takdir memilih Erdoğan yang notabenenya merupakan kader Milli Görüş yang juga murid daripada Necmettin Erbakan untuk mengakhiri polemik.

(Sumber: Turkinesia)