Alvara Research: Jatim Provinsi di Luar Episentrum yang Tingkat Kematiannya Lebih Tinggi dan Kesembuhan Lebih Rendah Dibanding Nasional



[PORTAL-ISLAM.ID]  Provinsi Jawa Timur menjadi satu-satunya provinsi di Indonesia yang memiliki tingkat kematian lebih tinggi dan kesembuhan lebih rendah dari nasional.

Per hari ini, Kamis (14/5/2020) tingkat kematian di tingkat nasional berada di angka 6,51 persen. Sedangkan kematian di Jatim mencapai angka 9,69 persen. Sedangkan untuk tingkat kesembuhan nasional berada di angka 21,97 persen, sedangkan Jatim hanya 15,82 persen.

Hasanuddin Ali Pendiri Alvara Research menegaskan, Jawa Timur adalah satu-satunya yang datanya seperti ini. Ia menjelaskan, meski Sumatera Utara juga merupakan provinsi yang memiliki jumlah kematian lebih tinggi dari nasional, tapi untuk kesembuhan lebih tinggi.

“Sementara di Jatim tingkat kesembuhannya lebih rendah. jadi Jatim ini boleh dibilang cukup lebih parah dari provinsi-provinsi lain. Dimana rate kematiannya tinggi, terus kemudian kesembuhannya ratenya rendah. Kalau nasional rate pertumbuhannya tinggi. Tapi rate kematiannya cenderung turun,” ujarnya saat dihubungi suarasurabaya.net pada Kamis (14/5/2020).

Ia menjelaskan, salah satu alasannya adalah karena fasilitas kesehatan yang tidak memadai.

“Jadi apakah faskes di Jatim ini mampu mengcover pasien yang terus tumbuh. Kalau dilihat begitu, kita khawatir bahwa kalau ternyata pasien positif makin tinggi, dan ratenya tinggi otomatis nanti tingkat kematiannya makin banyak. Takutnya faskes di Jatim tidak mampu mengcover pertumbuhan pasien yang makin banyak,” jelasnya.

Ia mengatakan, saat ini provinsi yang paling ideal mengenai penangana Covid-19 adalah Bali. Provinsi ini memiliki tingkat kematian rendah (2,4 persen) tapi memiliki tingkat kesembuhannya menembus angka diatas 60 persen lebih.

“Jauh diatas nasional. Sehingga pasien yang masih dirawat itu, active case itu rendah,” katanya.

Selain Jawa Timur, Hasan mengatakan, sebenarnya ada Provinsi DKI Jakarta yang punya angka kematian lebih tinggi dan kesembuhan lebih rendah dibanding nasional. Per Kamis (14/5/2020), prosentase kematian DKI Jakarta sebesar 7,9 persen. Sedangkan kesembuhannya 20,4 persen.

Tapi ia menegaskan, DKI Jakarta sampai saat ini masih menjadi episentrum nasional. Sehingga, apapun yang terjadi di Jakarta akan berpengaruh pada data nasional.

“Karena DKI masih jadi episentutum nasional, dari sisi positif, sembuh, dan kematian. Maka apapun yang terjadi di Jakarta itu akan sangat berpengaruh pada konfigurasi data nasional. Jadi ada pergeseran sedikit saja dari Jakarta, akan berpengaruh pada nasional. Makanya kalau kita lihat gak beda jauh nasional dengan Jakarta,” tegasnya.

Sehingga, bisa dikatakan, kata Hasan, Jatim adalah satu-satunya provinsi yang punya angka kematian lebih tinggi dan kesembuhan lebih rendah dibanding nasional diluar episentrum.

“Ya cuman gak separah (Jatim), Jakarta kan mepet (datanya) dengan nasional. Gapnya gak setinggi Jatim,” katanya.

Ia memberi catatan, bahwa grafik-grafik mengenai angka kesembuhan, kematian, dan kasus positif sangatlah dinamis. Sehingga, tidak menutup kemungkinan di hari-hari berikutnya ada provinsi lain yang masuk kedalam kuadran tersebut.

Ia mengatakan, ada beberapa hal yang harusnya dilakukan provinsi ini untuk membuat angka kematian turun dan kesembuhan naik. Pertama yaitu memastikan kesiapan fasilitas kesehatan di Jatim terkait penanganan Covid-19 dan berupaya menekan penularan virus ini.

“Yang paling penting adalah sebagaimana di Jabar, yaitu PSBB di seluruh provinsi. Di Jatim, baru di Surabaya, Gresik, Sidoarjo, ditambah Malang Raya. Kalau kita lihat sebaran yang tinggi di semua Kabupaten/Kota, harus PSBB di seluruh wilayah Jatim,” katanya.

Tak hanya itu, pelaksanaan PSBB juga harus diperketat. Menurut Hasan, saat ini pelaksanaan PSBB di Surabaya, Sidoarjo, dan Gresik masih belum efektif. Sebab, di sejumlah tempat masih banyak terjadi keramaian, seperti warung kopi, mall, dan masjid yang masih menggelar tarawih.

Ia juga menyarankan agar aktivitas kantor dihentikan sementara atau minimal dikurangi agar menurunkan mobilitas di jalan raya.

Sumber: SuaraSurabaya
loading...