Selain Virus, Kepemimpinan Juga Bisa Jadi Bibit Penyakit: Belajar dari TRUMP


"This Is Trump’s Fault"

Selain Virus, Kepemimpinan Juga Bisa Jadi Bibit Penyakit: Pagi ini saya membaca esai David Frum di The Atlantic. Esai berjudul "This Is Trump’s Fault" (Ini Adalah Salahnya Trump). Isinya tidak lain dari litani semua kesalahan Trump dalam menangani wabah Corona. Yang menarik adalah Frum mengurutkannya dan meletakkannya dalam konteks.

David Frum adalah seorang konservatif. Dia adalah seorang Republikan. Ini adalah partai politik yang sama yang dipakai Trump untuk menjadi presiden.

Tidak itu saja. Frumm pernah menjadi penulis pidato untuk Presiden George W. Bush, seorang presiden yang juga Republikan. Lalu mengapa dia tidak mendukung Trump?

Pada pemilihan presiden 2016, Frum bergabung dengan gerakan yang bernama "Never Trumper." Ini adalah gerakan yang menentang Donald J. Trump menjadi presiden.

Sebagian besar Never Trumper adalah para intelektual dan pemikir partai Republik. Mereka menganggap diri sebagai penjaga gawang moral konservatisme.

Trump menerima tantangan dari gerakan ini dengan senang hati. Justru inilah yang dia harapkan. Trump menjadi presiden dengan plaform sebagai seorang populis. Dia mengkasting diri sebagai seorang anti-elit. Sekalipun dia berasal dari lapisan paling elit Amerika, dia tidak segan-segan menunjukkan betapa korupnya para elit itu.

Tentu saja, golongan intelektual -- yang terdiri dari para akademisi, jurnalis, esais, novelis, peneliti, akademisi, dan semua yang kerjanya berpikir itu -- adalah golongan elit. Merekalah yang memberi penafsiran atas berbagai macam peristiwa. Dan, demikian Trump selalu mengipasi pendengar dan penggemarnya, tafsir-tafsir kaum elit itu adalah tafsir yang terdistorsi dan termanipulasi.

Trump berkuasa dengan melawankan perasaan orang-orang bodoh dan sederhana dengan para intelektual yang pintar-pintar dan elitis ini. Antara para jurnalis yang selalu dituduhnya menulis berita bohong dengan para buruh yang dikatakannya selalu dipaksa menelan berita-berita bohong itu. Trump sangat berhasil membikin 'alternate reality' (realitas alternatif) untuk para pengikut dan pemujanya itu.

Kita kembali ke esai-nya Frum. Saya tidak bisa tidak setuju dengannya. Kepresidenan Trump adalah sebuah kegagalan. Dan rakyat Amerika yang harus membayar atas kegagalan itu.

Trump adalah seorang egosentrik yang narsistik. Semuanya harus memenuhi keakuannya. Dia mengingkari ancaman pandemik ini karena tidak sesuai dengan keinginannya untuk tetap memelihara momentum pertumbuhan ekonomi Amerika. Untuk Trump, angka-angka indeks Wall Street adalah keberhasilan kepresidenannya.

Bahkan ketika situasi pandemik sudah memburuk, dia masih memuliakan dirinya sendiri. Kalau sesuatu tidak berjalan sesuai keinginannya, Trump akan menyalahkan orang lain. "I don't take responsibility at all," katanya ketika ditanya mengapa dia membubarkan bagian penanganan epidemi dari Dewan Pertahanan Nasionalnya.

Ketika dokter dan paramedis Amerika kekurangan alat pelindung diri, Trump menyalahkan .. dokter itu sendiri. Mungkin mereka mencurinya. Mungkin mereka menimbunnya dan kemudiian menjualnya dengan harga mahal.

Ketika diminta bertanggungjawab atas kekurangan persediaan masker dan APD, Trump mengatakan itu tanggungjawab pemerintah negara bagian. Bukan pemerintah federal (pusat).

Trump juga memecat orang-orang yang dianggap mengkritik pemerintahannya. Dia memusuhi birokrasi yang dipimpinnya sendiri dan menuduh mereka sebagai 'deep-state" sebuah terminologi yang dia pinjam dari otokrat model Erdogan di Turki. Deep-state adalah konspirasi kekuatan birokrasi untuk menggagalkan kepresidenannya.

Trump juga pilih kasih. Dia memberikan apa saja kepada gubernur-gubernur yang mau menjilat pantatnya hingga tandas dan mencaci gubernur yang berani mengkritiknya (Dia itu ular, katanya, mengkarakterkan Gubernur negara bagian Washington, Jay Inslee).

Dia memecat inspektur jendral Departemen Kesehatan hanya karena laporan tentang kekurangan administrasinya dalam menangani rumah sakit.

Dibawah Trump, semua orang dipaksa untuk melaporkan hanya hal-hal yang menyenangkan sang presiden. Mental Asal Bapak Senang (ABS) inilah yang melumpuhkan Amerika.

Menjadi presiden adalah hal yang sulit. Kepemimpinan berarti membuat keputusan atas pilihan-pilihan yang sulit. Keputusan yang baik diambil karena masukan yang baik dari para pembantu sang pemimpin. Masukan yang baik itu berasal dari informasi-informasi yang obyektif, yang bersandar pada data dan landasan intelek yang kuat.

Pemimpin yang hanya mengandalkan lingkaran terdekatnya, dan menyortir informasi hanya untuk memuaskan ego dan kepentingan pribadinya, hanya akan menjadi tambahan penyakit untuk orang yang dipimpinnya.

Itulah yang kita pelajari dari kelumpuhan Amerika menghadapi pandemik ini.

Tulisan David Frum bisa dibaca disini:

https://www.theatlantic.com/ideas/archive/2020/04/americans-are-paying-the-price-for-trumps-failures/609532/

By Made Supriatma [fb]

loading...