KALIAN MAUNYA APA SICH? Asal Serang Anies?


"Ada tunawisma berkeliaran di jalan Jakarta kalian ribut seolah Pemda abai nasib mereka. Giliran di bawa ke GOR yang layak diberi tempat dan dapat makan kalian diam. Giliran mereka tunawisma minta pulang dan GOR jadi kosong kalian ribut lagi kek anjing kelaparan," ungkap akun twitter @HukumDan.

Ada orang-orang menggelandang di jalan diributkan. Direspon baik oleh Pemrov DKI dengan diberi shelter (tempat tinggal sementara di GOR) dan operasi tertib. Eh ketika di shelter tak ada orang-orang yang diduga gelandangan itu karena mereka pulang, diributkan juga. Menuduh gubernur lakukan gimmick demi publikasi. Padahal kebijakan pemprov DKI Jakarta tetap sama, mengubah beberapa GOR sebagai penampungan sementara tunawisma dengan fasilitas dasar yang cukup. Siapapun tidak boleh menggelandang di jalanan. Apalagi saat pandemi begini. Jika mau tidur harus kembali di shelter.

Pada Jumat pekan lalu (24/4/2020) 57 orang yang diduga tunawisma dibawa ke penampungan sementara di GOR Karet Tengsin. Lalu pada hari Sabtu sebagian besar dari mereka meminta pulang. Pemprov DKI Jakarta tak bisa memaksa mereka untuk terus tinggal di shelter karena mereka ternyata punya keluarga di Jakarta dan merasa harus bekerja.

Pada hari Sabtu itu Pemprov DKI Jakarta kembali membawa 35 orang ke penampungan GOR Karet Tengsin. Diketahui lebih dari separuh (17 orang) bukan orang Jakarta. Mereka memegang KTP Jawa Barat, Jawa Tengah dll bahkan ada yang ber KTP Papua. Sebanyak 12 orang diantara mereka adalah pedagang, 6 orang buruh, 5 orang pengamen, 4 orang pemulung, 3 orang terlantar, 2 orang pengemis, 2 orang anak, dan 1 orang masing-masing sopir, PSK dan ibu rumah tangga.


Dari latar belakang pekerjaannya saja kita akan tahu mereka pasti tak kan mau tinggal terus terusan di shelter. Walaupun di shelter kebutuhan mereka dicukupi. Ada makanan, minuman, juga tempat istirahat yang nyaman, juga diberikan sembako. Tetapi mereka yang biasa berdagang, memburuh, mengamen dan memulung pasti ingin keluar untuk bekerja.

Pemprov DKI Jakarta tidak bisa memaksa mereka tinggal tentu saja. Maka yang bisa dilakukan adalah membuat Surat Perjanjian meminta mereka tak lagi tidur menggelandang di jalanan. Seusai bekerja mereka tidur di rumah keluarganya, atau dipersilakan tinggal di shelter sementara selama mereka mau.

Fenomena naiknya jumlah pengemis di Jakarta pada saat Ramadhan sebetulnya bukan hal baru. Maka jika kita temui banyak tunawisma di sekitar Tanah Abang itu juga bukan baru. Bisa dicek berita soal ini pada tahun-tahun sebelumnya. Orang-orang ini memanfaatkan kesempatan bulan Ramadhan dengan duduk-duduk di jalanan menunggu para dermawan bersedekah.

Maka daripada meributkan GOR kosong, melempar tuduhan basi kepada Pemprov DKI Jakarta, ada baiknya bersikap konstruktif. Yaitu berhenti membagikan makanan atau sedekah lain di jalanan. Itu juga yang diserukan Gubernur Anies. Sebab sedekah semacam itu justru mendorong orang berkerumun di jalanan, tidur di jalanan, yang justru akan meningkatkan risiko penyebaran Covid-19. Lebih jauh, kegiatan sedekah semacam ini, walaupun maksudnya baik, tetap saja melanggar protokol PSBB.


Kalau memang mau bersedekah baiklah diberikan lewat RT, lewat masjid, atau lewat lembaga sosial saja. RT dan takmir masjid akan tahu siapa saja di lingkungan warganya yang perlu bantuan. Saya baca kemarin ACT punya program bagus juga yaitu ATM beras. Kalau ada yang tak punya beras tinggal telpon lalu beras akan diantar.

Soal mereka yang terlantar, biarlah diurus oleh Pemprov DKI. Penampungan sementara di GOR-GOR sudah siap ditinggali dengan fasilitas cukup. Kita percayakan kepada Pemprov dan para kolaborator yang akan mengurusnya. Kecuali memang kalian inginnya cuma ribut dan asal serang Anies.


*Refernsi:
-https://data.jakarta.go.id/jalahoaks/detail/Hoaks-Sebanyak-57-Tunawisma-di-Tanah-Abang-Dipindahkan-ke-GOR-Karet-Tengsin-Untuk-Diliput-Lalu-Diminta-Pulang