dr. Tifa: Kepada Cebong Militan dan Cebong-cebongan



Kepada: 
Cebong militan dan cebong-cebongan
(Terkecuali buzzer bayaran miliaran maupun recehan)

Kalau Anda mencermati, membaca dengan hati-hati, memahami dengan otak yang jernih dan hati yang bersih.

Semua yang saya tulis dalam postingan saya, di media TV maupun online, radio-radio, dari sejak awal bencana COVID19 terjadi hingga hari ini, justru adalah untuk:

1. Sumbangsih saran dan strategi yang baik dan tepat sasaran  untuk dijalankan oleh Presiden Jokowi, dari sejak dini bencana COVID 19 baru muncul di Indonesia. Demi menyelamatkan banyak nyawa dan kesehatan seluruh rakyat Indonesia.  Demi menyelamatkan Para Dokter dan Nakes dari bencana yang menimpa mereka. Demi menyelamatkan perekonomian negara ini yang akan menjadi bencana kedua Pasca COVID19 ini.

2. Tampaknya Presiden Jokowi, dalam kasus COVID19, tidak cukup mendapat masukan yang tepat dan jelas, sehingga membuat banyak kebijakannya terlambat, blunder, dan kontraproduktif. Karena itu saya terpanggil untuk membantu beliau, melalui posting di facebook maupun beberapa kali surat terbuka yang saya yakin sampai kepada beliau.

Ini adalah cara saya sebagai rakyat, yang memiliki sedikit  kemampuan dan kompetensi, untuk membantu Pemerintahnya, Presidennya, bekerja lebih baik lagi.

3. Citra Presiden Jokowi, justru akibat tindakan Buzzer dan Portal sosial media Kakak Pembina yang menyerang saya secara membabi buta, menjadi bumerang yang menghantam citra yang dibuat serba tanggung. Saya meminta Presiden -melalui semua postingan saya - untuk tampil selayaknya Presiden, yang bermartabat, kuat, dan hebat,  menjadi Panglima Tertinggi rakyat dalam perang dunia ketiga melawan musuh tak kasat ini. Presiden yang menjadi Bapak penuh kasih sayang dan mengayomi, tempat anak-anaknya, para rakyat ini, menerima pelukan hangat dan tepukan semangat.

Tetapi pembunuhan karakter yang jahat tanpa pandang bulu kepada saya, justru menjadikan citra tanggung yang dibangun dan langkah tanggung yang dikerjakan, terbalik begitu rupa.

Saya tahu Presiden bingung harus berbuat apa menghadapi musuh super dahsyat ini, maka Presiden perlu mendengar saran orang yang mampu melihat yang tak mampu dilihat dengan mata biasa. Perlu dibantu berpikir dengan pikiran orang yang mampu berpikir jauh menjangkau langit pikir.

Maka, saya berkomunikasi langsung dengan Presiden dengan cara tak biasa juga. Melalui sosial media.

Sayang saja, gerombolan buzzer keparat otak khianat ini menjadikan komunikasi yang saya bangun menjadi tak nyambung seperti jaka sembung.

Saya tergerak menyelamatkan rakyat.
Kalian, para Cebong, sibuk menyelamatkan Presiden.

Heran saya, Pilpres sudah lama berlalu, kok kalian betaaaah aja sih terus-terusan jadi cebong? Balik jadi manusia lagi napa, bong?

Padahal Presiden sesungguhnya tak perlu diselamatkan. Sudah terpilih kan, apa lagi sih?

Beliau hanya perlu dibantu, agar berbuat sungguh-sungguh sebagaimana seharusnya Presiden dalam situasi genting seperti sekarang ini.

Karena COVID19 ini menyangkut nyawa manusia, juga kelangsungan hidup negara.

Saya sedih dan pilu.

Dia Presiden saya. Tetapi kok seperti tersandera dalam istana ya?

Seharusnya, Presiden blusukan lagi, pakai masker, sarung tangan, dan bawa hand sanitizer.
Sapa rakyat secara langsung. Cek kondisi, pastikan mereka aman dan terjamin.

Atau setidaknya Presiden bicara setiap hari di TV.  Rakyat akan nyaman dan merasa terayomi.

Dengan video conference, beliau ini  jadi terlihat rapuh, jauh, dan seperti tak terasakan kehadirannya.
Menimbulkan rasa gamang dan was-was pada  yang melihatnya.

Begitu bong, kecebong, jadilah cerdas dan waras, sebentar saja.

(dr. Tifauzia Tyassuma)

Sumber: fb


loading...