Dokter RSUI Depok (@dayatia) Ungkap Kerjaan Hebat Pemda Depok Tangani Covid-19


Oleh: dr @dayatia 
(manajer Rumah Sakit Universitas Indonesia/RSUI Depok)

(1) Gua bongkar dikit ya kerjaan Pemda Depok ya.

Mohon maaf mimin Humas RSUI.

Ini berita baik. Harus disebarkan

(2) Jadi pas Corona mulai banyak di Depok, Walikota minta Rumah Sakit darurat. Mau jadiin sekolah jd RS Darurat.

RSUI nawarin diri. Kita siap kok. Dokter ada, konsultan nasional tuk Covid ada, lab ada, ruangan dengan tekanan negatif & Ventilator banyak.

Tapi gak punya modal kerja. RSUI ini baru mulai (rintisan).

(3) Pemda Depok setuju.

Hidupin ruang bertekanan negatif, 20 bed, dgn ventilator ya sebenarnya bisa 20an. Tp SDM keperawatan agak susah mencarinya. Apalagi dgn tawaran relawan di RS BUMN atau Wisma Atlit yg ngasih gaji gila2an

(4) Nah oleh Pemda Depok dikasihlah dana milyaran untuk buat RS darurat corona.

Syaratnya bisa rapid test, bisa PCR, bisa ventilator dan tekanan negatif.

Abrakadabra jadi.

Depok bikin SK keluarin RSUI dedicated buat Depok.

Rujukan ke RSUI dikendalikan oleh Dinkes Depok tuk rujukan Covid.

Ya Pemda Depok gitu2 ok loh.

(5) Besok rencananya RSUI akan bagi2 VTM unttuk pengambilan swab ke RS2 di Depok atas perintah Pemda.

Supaya kalau ada yg butuh swab PCR, silahkan dalam bentuk jadi. Nanti swab sampel yg diterima akan diganti dgn swab baru. Jadi RS diluar RSUI selalu punya stok swab.

(6) Keren dong? Ya iya.

(7) Nah minggu lalu rapat sama Pemprov Jabar.

1 soal universitas.

1 lagi soal ruangan rawat.

Pemprov Jabar bikin 4 kriteria ruang rawat. Untuk wilayah Bodetabek, ternyata RSUI yg menyediakan bed terbanyak tuk zona merah. Untuk pasien yg butuh perawatan level tertinggi.

(8) Nah disini kami berpikir ini kan selama ini dedicated nya Depok. Gimana warga non KTP Depok? Jaksel? Tangsel? Bogor? Bekasi? Kabupaten Bogor?

Maka kami mengajukan diri untuk bed tambahan ke Pemrov Jabar.

(9) Lalu untuk lab?

Besok rencana dapat reagen 1000 dulu dari Pemprov Jabar.

1000. Ya 15 hari habis, sampai reagen berikutnya ada di pasaran. Tapi lumayan banget tuk 1 bodetabek.

Masalah lab PCR ini kan dari mesinnya, orang yg bisa mengerjakan, reagennya yg hilang di pasaran karena rebutan seluruh dunia.

Penting tuk buying time.

Makanya RSUI siap terima hibah apapun dari manapun. Untuk pasien.

(10) Nah makanya kaget lihat kisah2 propinsi lain.

Saya berpikir ini kesulitan level RS atau ya minimal Pemda Dati II.

Eh ternyata level propinsi kalau di luar Jabar.

(11) Kadang2 setelah terjun di manajerial begini baru bisa paham kerumitan yg dijalanin negara.

Dari negara (pemerintah pusat) banyak kurangnya memang. Tapi klu komandan daerah jalan, bisa kok ditutupin kekurangannya.

Makanya saya kalau ditanya mau mencela pemerintah pusat soal Covid gak?

Saya memilih enggak. Saya saat ini tugasnya bekerja persiapin tuk orang2 yg sedang didepan mata. Butuh bantuan semua pihak.

Sesekali nonton drakor ngurangin ketegangan

(12) Ini Covid masih panjang. Yang penting kita hidup dan sehat dulu.

Yang bertugas protes pemerintah pusat silahkan.

Saya bertugas siapkan pelayanan terbaik tuk Depok dan Jabar-Jakarta dan Banten. Kalau pesan pak Ridwan Kamil 'Gak boleh mikir warga kota sendiri saja'.

(13) Seperti kata guru saya di Cina:

Jadi dokter itu nolong 1-2 orang.

Jadi peneliti nolong ribuan orang.

Tapi di Indonesia beda.

Jadi pejabat akan bisa menolong ratusan ribu atau jutaan warga.

Kalau mau.

__
*Diresume redaksi portal-islam.id dari akun twitter dr @dayatia (13 April 2020)

[THREAD]
loading...