Di Tengah Mempertaruhkan NYAWA Melawan Corona, "BUZZER BANGSAT BANGSA" MENYERANG Tenaga Medis dan IDI


BUZZER MENYERANG TENAGA MEDIS DAN IDI

Menggunakan manusia-manusia bayaran dengan provider tertentu yang memungkinkan mereka ini punya puluhan akun dan kloningan. Tugas mereka adalah terus membunuh, menghabisi, menggoreng, memfitnah, menghancurleburkan kredibilitas, dan nama baik seseorang, demi nasi bungkus dan uang recehan.

Cara kerja mereka, menghajar postingan orang yang diincar dengan komen-komen yang terus-menerus, tanpa pandang bulu, tanpa peduli apakah yang dipost adalah fitnahan, HOAX, berisikan konten yang memutarbalikkan logika.

Tanpa peduli mereka ini terus dan terus mengeroyok postingan seseorang yang diincar, komen-komen JAHAT mereka ini seperti peluru yang ditembakkan tanpa ampun, untuk menghabisi seseorang, membuat OPINI publik terbelah dan terbalik-balik, sehingga orang-orang yang sebetulnya sangat mengenal baik orang yang menjadi incaran, bisa berganti memusuhi orang itu, dan ikut-ikutan menyebarluaskan pemahaman dengan kesalahan pikir (logical fallacy) dan ad hominem (menghancurkan karakter seseorang di depan publik) tanpa ampun.

Dengan harapan agar orang tersebut BUNGKAM. Dan kalau perlu untuk selama-lamanya.

Demi nasi. Demi recehan. Manusia-manusia gagal hidup itu tega dan begitu keji jadi suruhan dan budak kejahatan.

Dalam sejarah panjang, banyak ilmuwan dan penegak kebenaran menentang arus, menyuarakan kebenaran, terbully sampai bunuh diri (Edward Jenner) terpenggal (Galileo), terbakar (Joan of Arc), dipaksa minum racun (Senecca).

Di masa sekarang, di abad 21 ini, pedang, racun, api, diganti dengan HOAX dan FITNAH melalui serangan membabi buta tak kenal ampun.

Inilah Indonesia. Dimana sebagian penduduknya sanggup menggadaikan kemanusiaan, menjadi buzzer-buzzer budak, merendahkan diri serendah-rendahnya, demi nasi, demi receh.

Di mata saya hanyalah, nyawa 273 juta rakyat Indonesia, yang harus segera disadarkan dengan pengetahuan, yang harus segera dibuat melek mata dengan kenyataan, yang harus segera dipaksa menerima kebenaran walau pahit, agar tehindar dari bencana lebih luas lagi, bencana COVID19.

Dokter di Rumah Sakit berjuang, di tengah gempuran serangan virus COVID19, dengan APD seadanya dan jiwa sekuatnya.

Saya bekerja di lapangan dan sosial media, berjuang menyuarakan kebenaran dan pengetahuan di tengah gempuran serangan buzzer, HOAX dan fitnah dengan bekal keyakinan semata.

Semoga ALLAH melindungi kami, Para Dokter yang bekerja dari preventif hingga kuratif.  Untuk tetap kuat dan teguh menjalankan tugas kami masing-masing. Demi keselamatan seluruh Rakyat Indonesia, dari bencana COVID19 lebih luas.

(dr. Tifauzia Tyassuma)

loading...