SURAT TERBUKA Dokter Kepada Presiden Jokowi: Kenapa Saya Marah, Jengkel, Kecewa dengan Penanganan Corona


YTH Presiden Jokowi

Kenapa saya sangat kecewa, jengkel, dan marah dengan cara Pemerintah RI mensikapi Bencana Dunia Covid-19 ini?

Karena sebagai Ahli Clinical Epidemiology dan secara khusus pernah meneliti Virus, saya sangat memahami proses perjalanan epidemiologis COVID-19 ini.

Perjalanan di bulan Maret 2020 ini masih baru dimulai, sementara perjalanan mutasi dan evolusi COVID-19 ini di dunia masih sangat panjang.

Mengapa di negara pertama terjangkit RRT, COVID-19 sudah mereda dalam 3 bulan?

1. Karena mereka kaya raya. Mereka kehilangan 20.000 Triliun untuk meredakan jangkitan COVID 19 dan berhasil.

2. Pemerintah mereka sigap cepat tangkas dalam SATU KOMANDO.

3. Perjuangan dan pengorbanan Dokter dan Praktisi Medis sangat hebat. Rela berjibaku melawan penyakit dan kematian tak kenal lelah tak kenal henti.

4. Partisipasi rakyat sangat luarbiasa. Berjuang habis-habisan dan rela diLOCKOWN dua bulan penuh tanpa mengeluh tanpa merengek tanpa protes.

Sementara ini, perjalanan COVID-19 di Indonesia BARU MULAI.
2 kasus 27 kasus 34 kasus 69 kasus 96 kasus.

Dan Pemerintah kebingungan dan sama sekali tak siap. Menggunakan buzzer dan Menkes yang dengan pongah dan sembrono  menunjukkan COVID 19  bukan masalah besar.

Presiden sama sekali tidak didampingi oleh orang-orang yang  kompeten.

Para Menteri kebingungan dan tidak kompak. Malah menjadikan sebagai lelucon dan gurauan. Padahal Pak Budi Karya Sumadi Menteri Perhubungan sudah menjadi korban COVID 19 pasca menjemput awak Kapal Pesiar yang 9 darinya terjangkit Covid 19.

Sekarang, kesombongan dan kepongahan Menteri Kesehatan kena batunya. Pak Menteri Perhubungan jadi korbannya.

Bapak Presiden YTH,

Setiap hari COVID 19 berevolusi. Semakin ganas dan semakin efektif dalam penyebarannya. Semakin mampu beradaptasi dengan lingkungan. Perhatikan bahwa hanya dalam hitungan 30 bari hampir seluruh permukaan bumi sudah terjangkiti olehnya.

Bapak Presiden,
Banyak Kepala Negara, istri Kepala Negara, Menteri, Pejabat yang telah sakit dan terinfeksi COVID 19 dan mereka terbuka menyampaikan secara apa adanya.

Saat ini di Indonesia sudah ada Perawat yang wafat karena Covid 19 dan beberapa Dokter yang merawat pasien sudah terinfeksi pula.

Rakyat bingung. Terpecah belah dalam kebingungan. Rakyat yang manja dan malas ini yang terbiasa menadahkan tangan dan mengeluh ini tak kuat kena Pageblug.

Mereka harus dipimpin, Pak.

Saya tahu Bapak dilematis. Apa sebabnya? Karena Indonesia kaya hanya dilaporan. Apabila di Lockdown maka negara akan chaos dan ambruk dalam hitungan hari.

Tetapi apakah 271 juta rakyat ini harus dikorbankan ?

Lockdown membuat kita mundur 10 langkah. Tetapi kita akan menyelamatkan banyak nyawa. Rakyat hanya perlu ditata dan diajarkan untuk prihatin dan lapar sejenak, tetapi mereka akan terhindar dari banyak kasus kematian.

Jangan lupakan juga kami Para Dokter dan Praktisi kesehatan di lapangan. Sudah pasti kami akan jihad fi sabilillah di garis terdepan bertarung nyawa kami siap syahid demi rakyat banyak.

Jumlah kami hanya 80.000 tentu tidak cukup kuat melawan pandemi, tapi kami siap.

Saya apreciate dengan teman-teman PAPDI yang mendukung #Lockdown. Thanks Dr Sally Aman Nasution dan mas Dokter @Eka Ginanjar. Kita siap berjihad tetapi alangkah lebih baik bila kasus diminimalisir dengan #lockdown.

Tolonglah Pak, pakai hati nurani Anda. #Lockdown 1 bulan saja. Dan insyaAllah kita akan kuat walau miskin, tetapi kita selamat.

Nanti bersama kita akan maju 20 langkah.

Yang penting Bapak pimpin serentak.

Virus COVID 19 hari ini sudah sanggup menaklukkan iklim tropis dan hanya tinggal tunggu waktu saja jadi malapetaka negeri yang tuna kesehatan ini.

Perintahkan #LOCKDOWN ya Pak.

Kita pikirkan sama sama solusi bagaimana rakyat tidak kelaparan. Mereka ini cuma maunya tidak kelaparan.

Yuk Pak. #Lockdown ya.

Tifauzia Tyassuma
(Dokter, Peneliti, Penulis)

YTH Presiden Jokowi (Surat nomor 2) Kenapa saya sangat kecewa, jengkel, dan marah dengan cara Pemerintah RI mensikapi...
Dikirim oleh Tifauzia Tyassuma pada Sabtu, 14 Maret 2020
loading...