PANAS! Effendi Gazali VS Susi Pudjiastuti soal Ekspor Benih Lobster


[PORTAL-ISLAM.ID] Pembahasan soal ekspor benih lobster benar-benar menarik perhatian semua orang. Di era Susi, ekspor benih lobster memang DILARANG melalui keputusan menteri KKP yang ditandatangani oleh Susi sendiri. Ada kekhawatiran dari Susi apabila benih di ekspor akan membuat produksinya akan menurun.

Ada baiknya benih dibiarkan besar untuk diambil dan diekspor saat sudah mencukupi beratnya. Nilai ekonomisnya lebih tinggi dibandingkan ekspor berupa benih.

Sayangnya kebijakan Susi harus dibayar mahal dengan munculnya Mafia ekspor benih dengan cara penyelundupan.

Gak tanggung-tanggung, penyelundupan benih masuk nomor 2 tertinggi dibawah penyelundupan Narkoba. Nilainya pun sangat tinggi, bisa mencapai ratusan miliar hingga Triliunan dalam setahun.

Para mafia berpesta saat ada larangan ekspor benih. Banyaknya nelayan pencari benih lobster dimanfaatkan oleh para mafia yang mengumpulkan benih untuk diselundupkan. Kebutuhan nelayan terus berjalan, saat ekspor benih dilarang otomatis menutup perekonomian mereka.

Jumlah nelayan ini gak sedikit, ada ribuan jumlahnya. Disinilah masuknya peranan mafia, memanfaatkan kesulitan nelayan, mereka memberi peluang pemasaran secara gelap dan menekan harga beli pada nelayan. Nelayan benih lobster yang sudah terjepit, mengambil peluang itu walau taruhannya adalah pidana.

Semenjak larangan ekspor benih lobster, banyak nelayan benih yang tertangkap karena melakukan penangkapan ilegal untuk dijual. Puluhan hingga ratusan nelayan menjadi korban di kursi pesakitan, namun mafianya tidak tertangkap.

Atas dasar inilah Menteri KKP yang baru Edhy Prabowo mencoba turun ke nelayan pencari benih dan berdialog. Sambil mendengar kata pakar lobster, Kementerian KKP merencanakan akan merevisi larangan ekspor benih lobster.

Keputusan ini bukan keputusan asal-asalan, sebelum memutuskan kementerian sudah melakukan dengar pendapat baik dari nelayan, para ilmuan kelautan dan pakar lobster dunia untuk mencari informasi dan data yang bisa dipercaya.

Sayangnya, banyak netizen sosmed terpengaruh atas perkataan Susi di sosial media.

Setelah tidak menjabat, Susi terlihat aktif bermain sosial media. Terlebih mengawasi rencana revisi pelarangan ekspor benih lobster. Ada penggiringan opini yang dilakukan Susi atas rencana itu.

Dan sejauh ini, Susi terlihat berhasil merangkum dukungan pada dirinya. Berbekal menteri yang terkenal dengan ikon 'Tenggelamkan', Susi sukses meraih keberpihakan pada dirinya.

Sayang, banyak netizen kurang data dan memahami bagaimana Susi mengemas itu semua. Jika berbicara dengan ikatan emosional, Susi emang bagus mencitrakan dirinya.

Namun saat data dibeberkan, jangan kaget kalau kepemimpinan Susi sangat jauh dari kata hebat. Audit internal baik penggunaan anggaran dan juga hubungan dengan nelayan atas kepemimpinannya mendapatkan nilai C, membuktikan manajemen yang ia lakukan tidak baik.

Tantangan Effendi Gazali

Effendi Gazali saat ini memimpin Komisi Pemangku-Kepentingan dan Konsultasi Publik Kementerian Kelautan dan Perikanan (KP2-KKP) yang dibentuk oleh Menteri Edhy Prabowo beranggotakan 9 orang melalui Surat Keputusan Menteri KP No. 2 Tahun 2020.

Effendi Gazali sebagai ketua Komisi KP2-KKP, memberi undangan pada Ibu Susi Pudjiastuti untuk berdiskusi buka-bukaan soal Lobster.

Sering menggiring opini, membuat KKP mengundang bu Susi untuk berdialog. Berdialog sambil membeberkan data yang menjadi rujukan. Selama 5 tahun kebelakang, belum ada berapa data lobster di perairan kita.

Seharusnya, saat melakukan pelarangan sudah ada angka yang dijadikan ikuran. Bukan semata opini yang dikemukakan. Di kementrian saat ini, ada tim-tim yang mengumpulkan data. Data diperoleh dari hasil kajian dan penelitian. Dari data itulah kita bisa menghitung berapa potensi jumlah lobster dilautan, dan berapa yang bisa terus hidup hingga dewasa.

Ada baiknya Ibu Susi menerima undangan KKP dalam berdialog agar tidak ada tuduhan dan penggiringan opini yang sesat. Saat dialog nanti, akan dipertemukan dengan pakar kelautan dan juga ilmuan yang membidangi masalah lobster.

Suatu perselisihan, hanya akan jadi ujung yang tiada akhir apabila tidak ada dialog dalam menyelesaikan.

Apresiasi untuk KKP yang sudah bersedia mengundang Ibu Susi untuk bertatap muka. Itikad baik harusnya disambut baik jika tujuan yang ingin dicapai adalah kebaikan itu sendiri. Jangan sampai Ibu Susi hanya berani bersuara di sosial media, tapi memilih diam saat meja diskusi dibuka.

Itu bukan karakter seorang profesional. Apalagi Ibu Susi pernah menjabat di posisi kementerian yang sama. Harus ada teladan yang dicontohkan pada masyarakar agar kecurigaan tidak menjadi ajang melempar kebencian.

Ibu Susi, datanglah jika memang ibu mempunyai data dalam berbicara. Jangan jadikan pengikut ibu terus memelihara kebencian karena apa yang ibu sajikan. Jadilah leader yang memang mencerminkan jiwa kepemimpinan.

Please, Jangan jadi pecundang..

(By Setiawan Budi)

Baca juga :