AHOK dan NGABALIN


AHOK dan NGABALIN

Ahok emang brengsek, kasus Al Maidah bener-bener menguras perhatian umat. Walau akhirnya terpenjara, tetap saja kebencian itu tetap ada. Terlebih pendukungnya selalu mencari keributan dengan mengkritik Anies Baswedan dan memuliakan Ahok.

2 tahun terpinggirkan, ahok akhirnya muncul di pemberitaan. Jabatan di Pertamina disiapkan. Kita heboh, walau sebenarnya tidak ada pelanggaran atas aturan yang memutuskan Ahok menjabat. Karena kebencian pada sosoknya, membuat kita tidak ingin ia terlibat di pemerintahan.

Ada positipnya Ahok di Pertamina, minimal ia tidak akan menyibukkan diri di urusan Jakarta. Urusan dia saat ini adalah tentang Pertamina. Menjauhkannya dari urusan Jakarta, menjauhkannya dirinya dari pertanyaan wartawan tentang perbandingan antara Ahok dan Anies Baswedan.

Jika ia tidak di Pertamina, maka ia bisa bebas memberikan kritikan pada Anies dan kritikan ini akan disambut oleh pendukungnya. Sekarang, ada batasan bagi Ahok mengomentari tentang Jakarta, kesibukan ia di Pertamina membuatnya gak patut bicara tentang cara Anies memimpin Jakarta.

Ali Ngabalin, menjadi staf khusus Jokowi tahun 2018 lalu. Bukan tanpa alasan Jokowi memutuskan Ngabalin menjadi staf khusus. Perekrutan Ngabalin demi kepentingan pemilu 2019. Ali Ngabalin mewakili simbol Islam, dia besorban, memakai jenggot dan mempunyai nama berbau arab.

Dibawah Moeldoko, Ali Ngabalin menjadi corong pemerintah dalam hal publikasi Islam yang dilarang dan yang berteman dengan pemerintah. Bahasa Radikal dan Islam Garis keras kerap dikomentari Ngabalin dalam setiap penampilannya. Dan Ngabalin memang menjalankan peran sebagai corong itu dengan baik. Dia jadikan dirinya sebagai "tameng" bagi pemerintahan.

Penampilan Ngabalin dalam membela pemerintah sesuai Tupoksi yang dia jalankan dengan jabatan staf khusus Istana. Kita semua geram dengan individu ini, semakin sering mewakili pemerintah dalam penampilan on air televisi, akan membuat stigma baru bagi Islam itu sendiri. Ada pengkotak-kotakan yang terjadi dalam umat Islam atas penampilannya.

Jika jabatan itu terus dijalankannya, bagaimana kondisi negara ini? Yang pasti, Ngabalin akan tetap menjalankan tugas itu sesuai arahan Ketuanya.

Sekarang Ali Ngabalin mendapatkan jabatan di Kementerian KKP yang dipegang Menteri Gerindra. Dengan jabatan baru, otomatis jabatan lama akan tergantikan. Di jabatan baru ini, dirinya akan fokus pada masalah yang akan dihadapi Kementerian KKP yang berhubungan dengan kelautan, masalah nelayan dan solusi yang akan diambil.

Dirinya tidak bisa lagi berbicara tentang agama Islam dan dogma radikalisme yang selama ini dimainkan. Secara tidak langsung, dirinya dialihkan untuk berbicara hal itu dengan jabatan baru.

Esok, kita gak akan lihat lagi penampilan Ngabalin di ILC saat pembahasan radikalisme dan kelompok Islam yang menjadi momok bagi pemerintah. Ketika nanti ia tampil, masalah yang berkompeten ia komentari adalah mengenai tupoksi akan jabatannya di Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP).

Saya ambil sisi positifnya atas jabatan Ngabalin di Kementrian KKP. Memindahkan jabatan dirinya akan menghentikan polarisasi politik yang terjadi. Mengalihkan jabatan Ngabalin akan meredakan framing radikalisasi yang ia mainkan karena "perintah" ketuanya.

Gak mungkin kan, saat membahas benih lobster Ngabalin akan menuduh adanya radikalisme dalam hal penyelundupannya atau menyalahkan kelompok Islam yang kontra dengan Jokowi. Not apple to apple jika hal itu terus dimainkan Ngabalin.

Ahok mendapatkan jabatan di Pertamina, secara tidak langsung ia tidak berkompeten lagi bicara tentang Jakarta dan cara ia memimpin dulu. Secara tugas barunya saat ini tidak bersinggungan dengan hal itu. Memaksakan diri berbicara Jakarta, akan membuat blunder atas jabatannya saat ini. Gak sepatutnya ia mengkomentari urusan lain disaat urusannya dengan jabatan baru sangat menyita perhatian.

Ngabalin pun demikian, memaksakan diri berbicara tentang Islam dan tuduhannya dengan jabatan baru saat ini, akan membuat Ngabalin keluar jalur. Dirinya harus berbicara sesuatu hal yang berhungungan dengan apa yang diembankan pada dirinya.

Ada nilai positif dari kedua orang ini ketika jabatan baru disandangnya. Mempertahankan orang-orang ini pada kondisi semula, malah memelihara kegaduhan itu sendiri. Kita akan terus ribut atas komentar mereka pada media untuk hal yang telah kita benci sebelumnya.

Sekarang, kita lihat cara kerja mereka dan ributlah saat mereka terlibat dalam kebijakan yang menyengsarakan rakyat.

Misal Ahok, saat keputusan menaikkan elpiji 3kg. Apakah ada komentar dirinya atas hal ini? Jika ada, mari kita bahas bersama.

Demikian juga Ngabalin, jika nanti para nelayan masih nestapa ditangan menteri Edhi Prabowo dan Ngabalin berkomentar tega atas hal itu, mari kita meributkan sebagai koreksi pada pejabat negeri.

Itu aja..

By Setiawan Budi [fb]

loading...