Tantang Petahana, Rama Pratama Maju Pilwalkot Depok 2020


Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Apa kabar warga Depok?

Perkenalkan, saya Rama Pratama. Walau tidak lahir di Depok, saya sudah menjadi warga Depok sejak 33 tahun yang lalu, ketika orang tua saya membeli rumah di daerah Beji pada tahun 1987. Saya menamatkan kuliah S1 di Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia pada tahun 1999, melanjutkan kuliah S2 di universitas yang sama dan sekarang tengah menjalani studi doktor saya di UI Depok. Saat ini keluarga kami menetap di kawasan Grand Depok City, Depok.

Kebanyakan warga Depok pastinya dapat mengamati pembangunan fisik yang pesat telah membawa sejumlah ekses. Karena tidak diiringi visi dan arah kebijakan yang jelas, wajah kota Depok menjadi sumpek dan tidak segar. Kita butuh segarkan Depok.

Pembangunan yang lebih terpusat di Margonda telah membuat kemacetan dan kesenjangan ekonomi yang serius. Entah mengapa untuk jalan seramai Margonda, tidak ada jalur untuk pejalan kaki yang nyaman dan sarana penyeberangan yang memadai.

Belum lagi dampak lingkungannya, seperti masalah sampah dan konsumsi air tanah untuk apartemen dan bangunan komersial besar di sepanjang jalan margonda yang mengancam ketersediaan air tanah bagi penduduk sekitarnya.

Depok kita kini telah menjadi kota yang menyesakkan dada karena semrawutnya gedung dan bangunan tanpa penataan ruang yang baik. Ruang terbuka hijau yang seharusnya menjadi paru-paru kota pun menjadi serasa tidak mencukupi. Napas kita menjadi sesak karena polusi udara yang sudah sampai pada tingkat yang cukup serius.

Agar Depok kembali segar, kota ini membutuhkan strategi pembangunan yang merata, berwawasan lingkungan, dan berpihak pada manusia. Untuk itu diperlukan manajemen kota yang lebih baik, termasuk dalam hal pengelolaan dan pengalokasian anggaran. Berbekal latar belakang bidang keuangan, saya mengamati bahwa berbagai persoalan yang menghinggapi Depok saat ini juga tidak terlepas dari buruknya pengelolaan keuangan daerah.

Depok bukan hanya Margonda. Kota kita tercinta dengan luas 200 km2 ini harus lebih menyebarkan kue pembangunan ekonominya. Wilayah Depok di sekitar Jalan Tol Jagorawi (seperti Tapos dan Leuwinanggung) serta kawasan Sawangan dan Bojongsari yang selama ini diperlakukan sebagai “halaman belakang” Kota Depok mestinya dapat ditumbuhkan sebagai pusat perekonomian baru.

Saya mengajak warga Depok untuk mengubah cara pandang bahwa Depok adalah daerah penyangga DKI Jakarta. Ya, Depok adalah mitra strategis Ibukota, DKI Jakarta. Dengan demikian, Depok semestinya bisa berdialog dan bernegosiasi dengan Jakarta dalam posisi tawar yang sejajar dan bermartabat.

Itu hanya sebagian masalah yang membuat kita merasa perlu menyegarkan Kota Depok. Depok perlu ide dan gagasan baru untuk dapat berkembang menjadi kota yang dapat memenuhi harapan warganya.

Untuk itu dengan segala kerendahan hati, saya menghaturkan niat untuk mencalonkan diri sebagai Walikota Depok pada perhelatan Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) di bulan September 2020 mendatang.

Semoga Allah SWT memberkati niat dan upaya kita bersama untuk mewujudkan Depok kita sebagai kota yang segar, maju, aman, nyaman dan membanggakan.

Yuk, kita segarkan Depok!
Segarkan kotanya.
Segarkan pemimpinnya.

Depok, 22 Desember 2019

Wassalam,

Rama Pratama