Peneliti Singapura: Indonesia Hati-hati Sikapi Uighur Karena Takut Investasi China Berkurang

Presiden Joko Widodo dan Presiden China Xi Jinping (REUTERS/Feng Li)

[PORTAL-ISLAM.ID] PBB dan kelompok-kelompok hak asasi manusia memperkirakan bahwa antara 1 juta dan 2 juta orang, sebagian besar etnik Uighur Muslim, telah ditahan dalam kondisi yang keras di Xinjiang sebagai bagian dari apa yang Beijing sebut sebagai kampanye anti-terorisme.

Ormas Muslim terbesar di Indonesia telah membantah bahwa lobi oleh Beijing, termasuk tur yang difasilitasi oleh Cina di Xinjiang, telah mempengaruhi sikap mereka terhadap perlakuan terhadap minoritas Muslim Uighur di kawasan itu.

The Wall Street Journal dalam sebuah laporan pekan lalu menggambarkan tur tersebut sebagai bagian dari kampanye untuk meyakinkan otoritas agama dan media Indonesia bahwa kamp pendidikan ulang di Xinjiang adalah upaya yang bermaksud baik untuk memberikan pelatihan kerja dan memerangi ekstremisme.

Tiongkok telah berulang kali membantah melakukan penganiayaan terhadap warga Uighur.

Pemerintah Indonesia sendiri belum secara terang-terangan berbicara tentang kaum Uighur seperti pada masalah-masalah lain yang dianggap penting di dunia Muslim.

Seorang peneliti dari International Institute for Strategic Studies (IISS) Singapura, Aaron Connelly menyebut sikap kehati-hatian Indonesia atas Uighur karena takut investasi China akan berkurang.

"Indonesia akan waspada mengambil sikap memusuhi China dalam soal Xinjiang, karena khawatir hal itu dapat merusak persepsi ketidakberpihakan Indonesia di tengah persaingan (dagang) AS-China, atau membuat China mengurangi investasinya," ujarnya seperti dimuat Reuters, Selasa (17/12/2019).

Cina adalah mitra dagang terbesar Indonesia dan investor utama serta pemodal dari beberapa proyek infrastruktur.

Namun juru bicara kementerian luar negeri Indonesia, Teuku Faizasyah, mengatakan Indonesia telah bersikap menyatakan pandangannya tentang Xinjiang ke China. Tanpa perlu gembar gembor.

"Itu tidak harus melibatkan diplomasi megafon," katanya dalam pesan singkat, seperti dilansir Reuters.

Faizasyah mengatakan anggota dewan tinggi diplomat pemerintah China, Wang Yi, telah membahas situasi di Xinjiang dengan Menteri Luar Negeri Indonesia Retno Marsudi di sela-sela pertemuan Asia-Eropa pada Senin di Madrid.

Sementara juru bicara kedutaan besar Tiongkok di Jakarta tidak menanggapi permintaan komentar dari Reuters.

Sumber: Reuters

loading...