Sindiran Tere Liye: Kisah Tentang Joost & Pak Joko


Kisah Tentang Joost

Tahun 1830, salah-satu aktivis terkenal di Kerajaan Belanda tiba di pelabuhan Batavia. Namanya Joost, usianya 49 tahun. Setelah berminggu2 naik kapal (besok lusa bisnis kapal2 ini menjadi milik Koninklijke Paketvaart Maatschappij (KPM), alias Perusahaan Pelayaran Kerajaan).

Itu perjalanan yang sangat mewah. Joost, diberikan satu kamar paling besar, paling indah. Ada dapur dengan dua koki khusus untuknya, ada pegawai yang siap menyikat sepatunya. Sejak berangkat, dia diistimewakan. Karena semua perjalanannya dibayari oleh Gubernur Jenderal, Van De Bosch, dengan dana tak terbatas yg bisa menguasai negeri2 jauh.

Setiba di Batavia, Joost disambut kereta kuda terbaik, maka dimulailah anjangsana selama tiga bulan di Hindia Belanda. Dia dikawal oleh serdadu Belanda, dan satu orang guide lokal.

Dia mengunjungi seluruh Pulau Jawa. Menyaksikan betapa adil dan sejahtera penduduknya. Setiap kali dia berkunjung ke perkampungan pertanian, kampung nelayan, desa2, rakyat berlarian, bersuka-cita menyambutnya. "Lihatlah, Meneer, rakyat Hindia Belanda sangat berterima-kasih atas kehadiran VOC dan juga Belanda", demikian bisik Pak Joko--penduduk pribumi yang menjadi guide-nya selama perjalanan.

"Bagaimana dengan perang melawan Diponegoro?" Joost bertanya. Siapa yang tidak tahu tentang, De Java Oorlog, alias The Java War, 1825-1830, saat Belanda mengirim Jenderal De Kock, dengan kekuatan 50.000 serdadu (sebagian serdadu Belanda, sebagian lagi serdadu pribumi), melawan Pangeran Diponegoro. Perang ini jadi perhatian luas di Belanda--dan oleh karena itulah Joost diundang ke Batavia. Setelah akhir perang yg menghabiskan jutaan gulden, Belanda memerlukan pencitraan baru di Belanda, agar bisnis mereka berlanjut.

"Semua sudah berakhir dengan baik, Meneer. Si Diponegoro hanyalah extremist, teroris. Dia telah ditangkap dan diasingkan." Bisik Pak Joko. Joost mengangguk2. "Lihatlah, ada banyak loh serdadu pribumi yang bergabung dengan Belanda ikut memerangi si Diponegoro. Dia hanyalah teroris saja. Rakyatnya sendiri juga tak suka."

Joost mengangguk-angguk. Itu sangat masuk akal.

"Tentu, Dulu VOC, sekarang Belanda sangat welcome dengan kebebasan rakyat pribumi. VOC, Belanda mendidik mereka, memberikan pengetahuan. Juga membuat mereka sejahtera. Kebebasan dan kemerdekaan beragama juga sangat ditegaskan oleh mereka. Meneer bisa lihat sendiri loh," Pak Joko terus berbisik--sementara kereta kuda terus melewati jalan2.

Singkat cerita, anjangsana 3 bulan itu selesai sudah. Tibalah saatnya Joost kembali ke Belanda. Dia dilepas di pelabuhan Batavia, Gubernur Jenderal sangat menyanjung kedatangannya, memberikannya sekotak kayu berisi 50.000 gulden (banyak itu gulden). Joost tertawa lebar melihat isi kotak. Maka tak menunggu lama, setiba dia di Belanda, dia mulai membuat tulisan2, pernyataan2, bahwa tidak benar itu Belanda menjajah Indonesia. Dalam setiap kesempatan, dia akan bicara tentang fakta: Belanda justeru adalah pahlawannya. Siapapun aktivis lain yang bilang Belanda menjajah Hindia Belanda, maka aktivis itu jelas provokator, penipu. Itu berita dusta jahat yang disebarkan penuh kebencian. Joost punya data dan fakta sebaliknya.

Lupakan jika Joost dulu sebenarnya bagian dari aktivis. Lupakan jika Joost dulu justeru berteriak paling lantang menentang penjajahan. Dia telah berubah--dan sungguh sukarela atas kesadarannya sendiri berubah. Bahkan lupakan, jika arti nama Joost adalah: adil, tidak berat sebelah.

Demikianlah kisah Joost. Tentu ini fiksi saja. Bahkan tidak akurat sejarahnya, dibuat hiperbolik dan tdk cocok dgn timeline VOC dll. Tapi cerita ini jangan2 nyata? Masih banyak Joost-Joost lain hari ini? Entahlah.

By Tere Liye [fb]