TEMPO, PINOKIO & AIBON


Semalam membaca satu artikel singkat tentang 2 gambar ini, begini kalimatnya:

"Berharap yang ngamuk sewaktu TEMPO membuat sampul bayangan Jokowi berhidung Pinokio, akan ngamuk juga terhadap sampul TEMPO ini..

Oh ternyata tidak, mereka malah senang..

Betapa munafiknya pendukung fanatik itu.

Bagi katomin, sampul Jokowi atau Anies ini bentuk sikap kritis dari media."

Saya kasih like bertubi-tubi atas kalimat diatas untuk postingannya. Karena, memang begitulah hendaknya sebuah jurnalis memberikan ilustrasi atas sikap pejabat yang kebijakannya berdasarkan kepentingan Rakyat.

Seorang Teman lalu mencoba memainkan logikanya,

"Lalu, jika HRS dibuat karikatur juga oleh TEMPO dan kemudian, ada karikatur gambar Nabi Muhammad juga dibuat ilustrasinya oleh TEMPO, apakah penilaian mu juga akan berkata itu adalah sebuah kemerdekaan bagi jurnalis atas pekerjaannya?"

Untungnya, forum kecil kami berisikan manusia-manusia yang memiliki ketenangan dalam berpikir dan keluasan dalam membuat penilaian.

Jika tokoh dan masalahnya adalah Agama, itu sudah lain soal. Seorang Ulama jika diperburukkan secara terbuka melalui sebuah meme atau karikatur ilustrasi, itu sudah memancing kemarahan umatnya. Yang nantinya akan membuat perpecahan baru karena ada pihak yang menjadikannya olok-olok. Ulama tidak menguasai kebijakan publik, Ulama tidak mempunyai kekuasaan atas Hak dan kewajiban Rakyat.

Ulama dan Pejabat negara itu beda. Ulama berada di jalur privatenya sendiri, tidak mengurusi seluruh Masyarakat yang tidak tergolong ke agamanya. Jadi ada aturan tegas, jangan sampai media membuat semuanya sama.

Kembali ke 2 gambar ini, TEMPO menempatkan dirinya sebagai sebuah media yang fokus pada apa yang menjadi topik pembahasan publik. Jika melihat gambar, seolah ada penghinaan. Namun saat membaca isi medianya, justru Tempo menjelaskan permasalahan ini lebih clear berdasarkan keterangan Anies Baswedan.

Dalam isi pemberitaannya, TEMPO lebih banyak mengulas berita dengan sisi "Apa Kata Anies Baswedan". Dalam beritanya, TEMPO banyak mengambil keterangan yang diberikan Anies untuk menampik tudingan adanya permainan anggaran yang ia lakukan. Kata lainnya, TEMPO membantu Anies menjelaskan pada publik mengenai permasalahan ini.

Membaca temlen hari ini, banyak tanggapan atas munculnya foto Anies berlumuran lem aibon. Ada yang bangga karena respon Anies justru menanggapinya dengan canda karena tahu apa yang dibuat TEMPO adalah Kearifan Budaya Jurnalisme. Namun yang lucu, ada tanggapan yang justru mengikuti cara pendukung Jokowi yang marah ketika ilustrasi hidung Pinokio ada diwajahnya.

Sekjen Demokrat, Hinca Pandjaitan mengatakan mereka yang marah atas ilustrasi Tempo adalah orang FANATIK BUTA pada sosok Anies.

Pandji Pragiwaksono seorang komik yang menjadi timses Anies, menjuluki orang-orang yang memiliki emosi berlebihan dalam politik adalah mereka yang baru memasuki "PUBER POLITIK".

Bagi mereka yang baru puber politik, apa yang dilakukan TEMPO adalah sebuah penghinaan, pencemaran, dan sarat kebencian.

Padahal, apa yang TEMPO lakukan ini adalah bentuk seharusnya media dalam bekerja. Seorang Pejabat Publik harus terus mendapatkan perhatian atas kinerjanya. TEMPO sangat pintar memainkan emosi publik dalam melirik apa yang mereka buat.

Yang TEMPO lakukan, berbeda dengan yang dilakukan oleh Ade Armando dan Abu Janda. TEMPO memiliki tim khusus yang bertanggung jawab atas konten yang mereka buat sebagai ilustrasi. Sebuah gambar, hanya pengantar sebuah informasi yang mereka buat. Ada isi berita yang mereka sajikan sebagai topik utamanya.

Sedangkan Ade Armando dan Abu Janda, membuat konten justru untuk memperolok-olok untuk memuaskan kebenciannya. Tanpa ada informasi lanjutan, yang ada hanya hujatan.

Secara pribadi, saya suka dengan cara TEMPO mengulas Pejabat Negara maupun Pejabat Daerah seperti ini. Dengan kerja seperti ini, tujuan media sebagai penyaji informasi berjalan mulus yang bisa juga dijadikan sebagai kontrol atas semua kebijakannya.

Semoga saja TEMPO bukan menjadikan dunia mereka sebagai dunia yang menekan kekuasaan untuk memakai jasa jurnalisnya memoles kekuasaan. Jurnalis harus aktif memberikan kritikan pedas sebagai peringatan apa yang dilakukan pejabat akan mendapatkan pengawasan pena mereka.

Jika media seperti ini, seorang pejabat akan kecut untuk bermain dengan kekuasaanya. Media yang merdeka, media yang mempunyai manusia merdeka tanpa terbeli.

Good job TEMPO..

Salam dari Saya, pendukung Anies yang tidak Fanatik buta.

By Setiawan Budi (fb)


loading...
Loading...