GELORA CINTA


Gelora Cinta

“Gelora itu memang Gelombang Rakyat,” kata Lora Thohir... “Tapi kalau di Madura, kita menyebutnya Gerakan Lora-lora.” :)

Semua tergelak mendengar canda tersebut.  “Wah, bagus itu, Kiai,” saya menyahut. “Satu plesetan yang indah.”

Nanti Pak Gatot Nurmantyo bisa saja menyebut Gelora itu Gelombang Tentara. 

Sedang saya sejak awal meyebutnya Gelombang Nusantara. Walau sebelum diumumkan, saya sudah mendapatkan penjelasan dari Fahri Hamzah bahwa ini adalah Gelombang Rakyat Indonesia. 

Gelombang adalah gejolak ombak di lautan yang bergerak naik dan turun. Bisa sangat tinggi hingga menggulung kapal besar sekalipun. Tapi juga bisa sangat lembut, sehingga tak menimbulkan getaran apa pun.

Begitulah maksud gelombang yang kita pahami secara umum. Orang laut seperti saya, begitu hafal tabiat masing-masing gelombang. Bagaimana kemudi tetap tegak ketika biduk melaju membelah gelombang besar.

Tapi secara khusus, gelombang adalah getaran yang bergerak dari satu tempat ke tempat lain, dengan media tertentu atau tanpa media apapun.

Getaran yang berulang, merambat dan bisa juga mendiami tempat tertentu tanpa ada kekuatan apapun yang bisa mengacaunya.

Dari berbagai tayangan televisi, tulisan di berbagai portal dan media online, berita tentang Partai Gelora terus mengemuka.

Terlebih lagi media-media sosial. Time line tidak pernah sepi dari gambar, video dan tulisan-tulisan pajang maupun pendek tentang partai besutan Anis Matta dan Fahri Hamzah tersebut.

Gelora ini memang tidak biasa. Gelombang ini tidak seperti gelombang sebagaimana yang kita tahu. Tapi ia adalah gelombang yang akan melambungkan Indonesia untuk sejajar dan bahkan melampaui negara-negara adi kuasa yang sekarang mengatur Dunia.

Ini adalah gelora cinta yang tak hirau segala aral. Karena cinta adalah kerja dari puncak kesadaran yang tak akan bisa dipahami oleh logika apapun! Siaaap?

By Ust. Abrar Rifai
(30/11/2019)


Baca juga :