Anis Matta Melewati Hari-hari Ketidakpastian


Melewati Hari-hari Ketidakpastian

Dalam sambutannya, di hadapan 99 pendiri Partai Gelombang Rakyat Indonesia (Gelora Indonesia), Anis Matta, menyinggung soal hari-hari keraguan, hari-hari ketidakpastian yang sudah berhasil dilewati.

"Alhamdulillah, malam ini telah ditandatangani akta notaris untuk pendirian Partai Gelombang Rakyat Indonesia, Satu tonggak utk menutup proses yg panjang dan penuh ketidakpstian.. Semoga kita bersama bisa mewujudkan Indonesia sbg kekuatan ke-5 dunia..," tulis Anis Matta di twitter.

Pendiri Gelora Indonesia se-Indonesia, tercatat sekitar 1200 orang, tapi yang resmi menandatangani berkas pendirian partai di hadapan notaris, kemarin, di Park Regis Arion Hotel, dipilih hanya 99 orang saja. Secara UU, sebetulnya, cukup 50 orang. Tapi angka 99 itu memang terasa sakral, entah kenapa?

Hari-hari keraguan atau hari-hari ketidakpastian yang sudah berhasil dilewati itu, disinggung Anis Matta, oleh karena partai ini muncul bukan ujug-ujug. Ia muncul dalam proses yang panjang. Bukan hanya melibatkan pergumulan seorang Anis Matta, melainkan pergumulan banyak orang tentang dirinya, cita-citanya, bangsa dan negaranya, juga umat manusia seluruhnya. Menurutnya, harus ada ijtihad baru, peta jalan baru, yang ditempuh umat manusia, agar keluar dari krisis multidimensi yang sedang dan akan dihadapi.

Secara khusus, Anis Matta menyebut nama almarhum Taufik Ridlo (mantan Sekjen PKS). Ia termasuk yang paling tahu, kenapa ide Arah Baru ini digulirkan. Saat umroh bareng, sekitar 3 tahun yang lalu, di situlah dimulai atau dicetuskan ide Arah Baru itu, yang berakhir pada hari ini, dengan pendirian Partai Gelora Indonesia. Taufik Ridlo paling mengetahui fitnah-fitnah yang terjadi di seputar Anis Matta, Fahri Hamzah dan lain-lain, yang tak banyak diketahui oleh orang. Rencana Allah SWT jualah yang berlaku, kenapa ia lebih dulu dipanggil menghadap-Nya.

Anis Matta tersedak saat menyebut nama Taufik Ridlo. Matanya berkaca-kaca, ia terlihat hendak menangis besar. Goncangan dari dalam dadanya terasa jelas oleh para audiens. Seperti hendak meledak, tapi bisa tertahan. Ia berhenti beberapa kali, untuk menguasai diri, agar tak terlalu banyak air mata yang tumpah. Audiens seperti sudah siap-siap menerima tangisan itu, karena tahu persis juga, apa yang terjadi. Apalagi dihadirkan khusus Istri Taufik Ridlo, sebagai pendiri, yang sedang terbaring sakit di Bandung. Anis Matta terlihat sebagai seorang sahabat yang setia, yang penuh ikhlas mendoakan sahabatnya yang sudah mendahului, di saat orang lain mungkin sudah mulai melupakannya.

Itulah barangkali yang dimaksud hari-hari keraguan, hari-hari ketidakpastian, yang sudah berhasil dilewati itu. Sebab, sekitar 3 tahun yang lalu, terlalu banyak yang dihadapi. Tak hanya orang yang difitnah, dipecat, bahkan dirampas mata pencariannya secara semana-mena juga ada. Anis Matta mengapresiasi itu semua, karena semuanya bisa bertahan sampai hari ini. "Itulah kesabaran dan itulah keikhlasan," tegas Anis Matta. Tak akan bisa dilewati masa-masa keraguan dan ketidakpastian itu tanpa kesabaran dan keikhlasan.

Anis Matta mengutip surat Ash-Sharh (alam nasroh) yang artinya... "Bukankah Kami telah melapanglan untukmu, dadamu? Dan Kami telah menghilangkan daripadamu, bebanmu. Yang memberatkan punggungmu? Dan Kami tinggikan bagimu sebutan (nama)mu. Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sunggug-sungguh (urusan) yang lain. Dan hanya kepada Tuhanmulah hendaknya kamu berharap." (Ayat 1-8). Saya shalat Subuh tadi, di kamar hotel, M. Yasin kembali membaca ayat ini di rakaat kedua. Sungguh dalam maknanya.

Anis Matta menegaskan lagi hari-hari keraguan, hari-hari ketidakpastian yang sudah berhasil dilewati itu adalah tantangan internal. Sedangkan hari-hari keraguan, hari-hari ketidakpastian yang akan dihadapi adalah tantangan eksternal. Biasanya, orang-orang yang berhasil melewati tantangan internalnya, maka dia akan berhasil juga menghadapi tantangan eksternalnya. Itulah juga yang dihadapi Nabi Muhammad SAW saat periode Mekah yang keras dan periode Madinah yang gemilang.

10 November 2019

Oleh: Erizal

loading...
Loading...