Kuasa itu Amanah, Bukan Anugerah


[PORTAL-ISLAM.ID]  Kuasa itu sungguh menggiurkan, tapi sering kali membutakan kesadaran. Apalagi kuasa sebagai pemimpin Negara. Sangat mudah buta hati, buta pikir, buta jalan menuju mati.

Kuasa itu adalah kehendakNya. Tak lagi lihat si penipu, si tukang ngibul, tukang zolim, tukang ngaji, tukang ceramah, tukang ilmu agama. Jika Allah berkehendak, maka pasti berkuasa.

Kuasa itu amanah. Amanah itu berat. Taruhannya surga atau neraka. Amanah bukan sekadar di lisan. Amanah itu harus benar di lisan dan benar dalam perbuatan. Sedikit saja khianati amanah, kepercayaan akan jadi taruhan. Jika tak tobat, amanah itu akan berujung penyesalan.

Kuasa itu fitnah besar yang berwajah kenikmatan. Karena dengan kuasa, bisa berbuat suka-suka. Karena dengan berkuasa, semua tunduk dan nurut jika telunjuk sudah menunjuk. Tak lagi lihat yang tua atau yang muda. Tak lagi lihat yang alim atau yang awam. Tak lagi lihat, yang bergelar atau yang miskin gelar. Tak lagi lihat kaya atau miskin. Semua wajib taat pada pemimpin. Semua harus sami’na wa atho’na. Selama perintah dan larangan itu tunduk pada syariat.

Dan di sinilah kuasa jadi fitnah. Jika kuasa tak diikat iman dan ketundukkan pada syariat, kuasa akan jadi kesewenang-wenangan dan menjadi alat meraih ambisi dan cita-cita pribadi.

Maka hati-hatilah jika ambisi pribadi sudah hadir dalam diri. Sebab nanti perlahan namun pasti, kebenaran syariat hanya akan menjadi topeng untuk muluskan ambisi pribadi, bukan wujudkan kemaslahatan bersama.

Itulah kuasa yang akan berakhir penyesalan. Penyesalan yang berujung murkaNya. MurkaNya yang mengantarkan ke NerakaNya.

Ingatlah wahai para pemimpin yang diberi amanah untuk memimpin! Entah itu pemimpin Negara, pemimpin Partai Politik, pemimpin perusahaan, pemimpin lembaga pendidikan, pemimpin Ormas, pemimpin Rw/Rt, pemimpin keluarga, sampai menjadi pemimpin bagi diri sendiri.

Semua tidak akan luput untuk bertanggung jawab atas apa yang dipimpinnya. Jika amanah karena landasan iman dan tunduk pada syariatNya, maka selamatlah dunia dan akhirat. Jika khianat karena terbius syahwat kuasa hingga lupa diri, lupa bawahan, dan lupa akhirat, maka kecelakaan dan kehinaanlah yang akan didapat.

Mumpung hari masih memberi kesempatan bernafas, maka hembuskanlah nafas hidup kekuasaan hanya untuk menggapai ridhoNya, bukan yang lain!

Berhentilah sibuk menumpuk nikmat palsu duniawi karena kuasa yang dimiliki! Karena kuasa itu sementara, tidak akan lama, dan tidak akan pernah dimiliki seumur hidup.

Hari ini berkuasa, esok lusa kuasa binasa. Hari ini merasa berkuasa, esok lusa merasa hina karena kuasa tak lagi ada.

Hari ini merasa paling tahu, paling pintar, paling alim, paling punya segalanya, hingga lupa tugas melayani, tapi sibuk raih ambisi pribadi. Padahal yang kemarin selalu merasa paling segalanya, justru esok lusa berakhir tak punya segalanya. Sebab selalu merasa berkuasa saat punya kuasa, tapi lupa memikirkan bawahan karena sibuk memikirkan wujudkan ambisi pribadi dengan adanya kesempatan berkuasa.

Sekali lagi, kuasa itu adalah ketetapan Allah. Kuasa itu adalah ujian. Kuasa itu adalah amanah. Kuasa itu adalah pilihan, memilih untuk melayani, atau menzolimi. Kuasa itu amanah, bukan anugerah. Wallahu a’lam

Penulis: Uus Rusad
Baca juga :