PLURAL KARENA KEBENCIAN


[PORTAL-ISLAM.ID] Di acara mata Najwa yang tampil secara live di Australia, Yenny Wahid berkata:

"Saya pernah kedatangan tamu, seorang wakil menteri agama di Maladewa. 20 tahun yang lalu, perempuan Maladewa memakai penutup kepala seperti ibu. Sekarang berubah, perdebatannya adalah perempuan perlu memakai niqob atau tidak".
Yenny menambahkan, ada suatu gerakan yang merubah perilaku wanita yang awalnya dulu tidak memakai jilbab sekarang memakai jilbab dan cadar. Karena ini suatu gerakan, maka harus di lawan oleh gerakan juga, yaitu gerakan melawan pandangan bahwa berjilbab atau memakai cadar itu tidak wajib. Seperti hal dirinya yang hanya memakai kerudung dan seorang Najwa yang tidak menggunakan penutup kepala sama sekali.

Kerudung yang di pakai Yenny, bagi dirinya dianggap kebenaran yang tidak boleh dibantah. Wanita tidak harus memakai jilbab dan menutupi tubuhnya seperti memakai cadar. Demikian juga Najwa Shihab. Dirinya tidak memakai apapun sebagai penutup kepala, dan Najwa menganggap dirinya pun benar.

Yenny dan Najwa adalah putri dari ulama besar Indonesia. Yang satu anak Gus Dur, yang satu lagi anak Quraisy Shihab. Setiap perkataan mereka dengan menentang atau melawan gerakan (seperti kata Yenny) yang menutup aurat di anggap kebenaran karena banyak pihak yang melihat keturunan siapa yang bicara.

Pandangan begini, adalah pandangan seorang Plural. Dan kita tau bahwa seorang Gus Dur pun pernah di juluki bapak plural Indonesia dengan pandangannya atas sebuah agama.

Kelompok plural ini adalah kelompok yang memuliakan semua agama. Semua agama adalah sama, semua ajaran adalah sama karena memberikan pemahaman berprilaku yang baik.

Lucunya, pada agama lain mereka bisa menerima apapun ajarannya namun pada agama sendiri mereka sibuk melakukan perlawanan seperti apa kata Yenni dengan kata-kata:

"Harus kita lawan juga gerakan ini, gak bisa kita diam saja."

Pandang muka anak kyai ini dengan tersenyum, seperti kita selalu tersenyum saat bapaknya menjadi presiden dahulu.

Ada sebuah video yang menampilkan bagaimana pakaian wanita Inggris di awal tahun 1900-an. Mereka keluar rumah menggunakan kerudung seperti yang Yenny Wahid pakai. Tidak di temukan wanita yang melenggang santai dengan kepala terbuka kala itu.

Namun saat ini, setelah 1 abad berlalu penampakan wanita Inggris dan Eropa umumnya sudah berubah. Mereka tampil terbuka dan tidak ada lagi yang memakai kerudung seperti Tempo dulu.

"Apakah saat ini ada suatu gerakan juga yang membuat mereka meninggalkan tradisi lama?"

Jika memakai teori si anak kyai ini, seharusnya masyarakat plural Eropa melawan gerakan melepaskan kerudung yang terjadi di saat ini. Untuk kembali ke era Tempo dulu, dimana wanita Eropa menggunakan kerudung.

Ternyata masyarakat Eropa tidak melawan gerakan melepaskan kerudung itu.

Saya lebih respek dengan pluralisme di luar negeri di bandingkan pluralisme di dalam negeri yang menonjolkan kebencian. Jika kamu memegang paham pluralisme, maka peganglah paham itu secara adil. Jangan kamu hanya menghakimi satu agama saja.

Pertumbuhan agama Islam di luar negeri, luar biasa pesatnya. Melihat wanita memakai jilbab di luar negeri mungkin bukan perkara aneh lagi. Mengapa Islam bisa tumbuh tanpa ada pertentangan berarti akan ajarannya di luar negeri, khususnya Eropa?

"Karena masyarakat luar negeri memegang prinsip semua agama sama, plural sejati",

Bagaimanapun pakaian yang dipakai, selagi ia berperilaku baik maka itu tidak ada persoalan. Memang ada tindakan kebencian atas umat muslim di Eropa dan Amerika. Namun jumlah mereka itu hanya sekian persen dan bukan gambaran keseluruhan masyarakatnya memandang Islam.

Di negara ini, ketika Muslim mulai memahami dan ada kesadaran menutupi aurat, ada pihak yang merasa gagal dalam misinya. Indikator keberhasilan misi mereka adalah, ketika makin banyak orang meninggalkan ajaran Islam seperti memakai jilbab dan memakai cadar. Ketika hasilnya adalah sebaliknya, ada misi yang gagal dari upaya yang mereka lakukan beberapa tahun ini.

Berlomba-lomba mereka berkampanye mengatakan tidak ada kewajiban menutup aurat atau menggunakan jilbab. Dengan dalil dan perkataan kyai, habib dan orang dulu yang sudah tiada, mereka mencoba menularkan virus itu agar di ikuti.

Seperti acara Najwa, di Australia mereka berani menampilkan itu. Bagi mereka, obrolan di acara itu adalah obrolan kebangsaan menuju Indonesia yang toleran. Namun prakteknya, obrolan yang mereka bicarakan ada penghakiman pada suatu kelompok yang terang2 mereka benci karena bernampilan tidak seperti mereka.

Narasumbernya mereka semua, tidak ada pihak yang berlawanan pemikiran dengan mereka. Jelas tujuannya agar kampanye yang ingin mereka sampaikan bisa berjalan tanpa gangguan pemikiran yang berbeda.

Saya pikir umat muslim saat ini gak ada mempermasalahkan apakah wanita di luar sana mau membuka auratnya seperti orang gila atau menutupnya rapat2 layaknya memakai burqa. Seperti apa yang dikenakan Najwa, sampai saat ini dia masih bahagia saja tidak memakai penutup kepala.

Saya sendiri tidak mempersalahkan pakaian si Najwa dan Yenni Wahid ini. Jika kembali memakai teorinya, saya juga bisa melawan gerakan pakai kerudung si yenni.

"Mengapa ia tidak memakai kemben yang memperlihatkan area dada? Bukankah dulu pakaian wanita seperti itu? Mengapa ada gerakan memakai kerudung seperti yang ia pakai saat ini?"

Why Yenny...???

Apa perlu kita lawan gerakan memakai kerudung 'like Yenny Wahid' agar kembali memakai kemben dan perlihatkan area dada, seperti wanita Indonesia tempo dulu?

Buah memang jatuh tidak jauh dari pohonnya. Namun walau jatuh nya tidak jauh, tidak semua buah mempunyai rasa yang manis seperti apa yang orang kenal dari nama pohonnya.

Mungkin Yenny adalah contoh buah yang tidak manis namun merasa memiliki nama besar karena sebuah pohon yang menjatuhkannya.

Dan banyak orang menganggapnya manis, karena merasa 'gak enak' sama pohonnya.

Geblek...

By Setiawan Budi [fb]

Baca juga :