HANYA BAMBU KOK MAHAL YA?


HANYA BAMBU KOK MAHAL YA?

Oleh: Jajang Agus Sonjaya
Direktur Bambubos

Setelah media memberitakan Getah Getih menelan biaya 550 juta, Instalasi bambu ini menuai kritik dan cemo'oh. Seni instalasi yang monumental tidak bisa dihitung hanya dari bahan. Ia membutuhkan perhitungan struktur, riset, ujicoba, dan lain-lain. Belum lagi menghitung jasa Sang Seniman. Ini masuk kategori konstruksi tidak sederhana yang sudah ada aturannya.

Lantas apa manfaat karya semahal itu?

Instalasi Getah Getih hadir untuk merespon kritik atas tiang bendera bambu. Orang yang dipercaya Anies untuk membuat instalasi ini adalah seniman yang turut mengkritik tiang bendera lewat akun fb-nya. Jadi sudah jelas instalasi ini berdiri untuk mengangkat citra bambu. Niatnya eksebisi memanfaatkan moment Asian Game.

Yuk kita hitung/nilai manfaatnya! Fungsi eksebisi itu setidaknya ada dua.

PERTAMA untuk menunjukkan eksistensi. Dalam hierarki kebutuhan Moslow, eksistensi adalah kebutuhan tertinggi. Terkait ini banyak muncul tafsir. Instalasi Getah Getih mewakili kehadiran bahan milik orang miskin di tengah tanah termahal di negeri ini. Getah-getih melambangkan persatuan, kekuatan, dan perlawanan. Getah-getih juga bisa bermakna keruwetan yang sedang dihadapi bangsa ini--lihatlah pilinan bambu yang silang-siur, rumit, tidak jelas. Barangkali terkait pula dengan semangat Asian Game dari bentuknya yang dinamis. Karya seni biasanya berisi kritik sosial. Hanya perancang/pembuatnya yang tahu niat awalnya untuk apa. Kita sebagai pembaca/penikmat boleh menafsir dan menemukan makna sesuai pikiran, pengalaman, dan kepentingan kita. Nyinyir pun boleh saja, asal dipikir dulu dalam-dalam. Karya seni sangat terbuka atas kritik, bukan hanya pada penggagas atau pembuatnya, tetapi pada diri kita sendiri sebagai cermin atau bahan refleksi.

KEDUA untuk jualan. Alasan ini terpaksa saya ungkit karena banyak yang mempertanyakan biayayanya. Sebenarnya tabu menghitung-hitung harga karya seni. Instalasi seni ini dipakai untuk menyambut peserta Asian Game. Karya Joko Avianto sebelumnya sudah menyedot perhatian dunia. Kali ini pun diharapkan demikian. Dari kacamata ekonomi, harga 550 juta itu ibarat umpan untuk meraup hasil besar. Jika peduli pada nasib rakyat di pedesaan yang miskin, mari apresiasi karya ini dengan baik. Era sekarang ini, nilai dan harga barang bukan samata karena barangnya, tapi juga karena omongannya (sering dibicarakan). Itulah salah satu fungsi promosi. Pameran Joko Avianto di Jerman sudah berdampak pada perhatian dunia. Ekspor bambu pun mulai menggeliat setelah terpuruk di tahun 2012-2015 karena krisis ekonomi di Eropa.

Indonesia beruntung memiliki bambu yang melimpah dan beragam jenisnya. Beberapa menjadi yang terbaik di dunia, seperti petung, apus, wulung, ori, dan gombong. Ia tumbuh di pedesaan, bukan kota. Ia dimiliki rakyat miskin, bukan perkebunan konglomerat. Jika dunia melihat instalasi ini, saya yakin bambu dari Indonesia akan makin moncer. Siapa yang diuntungkan jika bambu kita laku di luar negeri? Tentu rakyat di pedesaan pemilik rumpun-rumpun bambu itu. Tidak seperti sawit dan karet, bambu adalah komoditas yang tidak mungkin bisa dikuasai para konglomerat. Kenapa? Karena produk hilirnya banyak. Bambu akan tetap menjadi milik rakyat. Hanya ada dua cara membangun ekonomi bangsa ini: MEMBANGUN USAHA EKONOMI RAKYAT SESUAI AMANAH UUD atau MEMBANGUN USAHA SEGELINTIR ORANG KAYA. Semangat ini penting untuk ditunjukkan. Penting jadi sebuah komitmen dan aksi, bukan hanya slogan. Inilah yang secara eksistensial hendak disasar instalasi bambu dan karya-karya bambu lainnya yang sudah diperjuangkan para ahli dan penggiat bambu di Indonesia. Mahal memang!

Mestinya yang membiayai ini pemerintah pusat, bukan DKI Jakarta, sebab yang merasakan manfaatnya kelak petani-petani dan para artisan bambu se-Indonesia.[]

*Sumber: https://www.facebook.com/jajang.a.sonjaya/posts/10156577506539518
HANYA BAMBU KOK MAHAL YA? Setelah media memberitakan Getah Getih menelan biaya 550 juta, Instalasi bambu ini menuai...
Dikirim oleh Jajang Bambubos pada Sabtu, 18 Agustus 2018
loading...
Loading...