Diatas Semua Itu Saya Adalah Seorang MUSLIM


Oleh: Fazel J. Haitamy*

Pertama sekali saya mondok tingkat MTs, saya belajar di Pesantren Muhammadiyah. Disana saya mengenal sosok KH. Ahmad Dahlan dengan konsep Islam revolusioner dan moderat sebagai sebuah konsep cemerlang yang membuat saya takjub dan bercita-cita untuk bisa menjadi seperti beliau.

Lalu saya melanjutkan tingkat Aliyah di sebuah Pesantren yang mengenalkan saya pada Manhaj Salaf. Disanalah saya jatuh cinta pada Syaikh Al-Albani, Syaikh Bin Baz dan Syaikh Al-Utsaimin. Bahkan saya mengukir tebal kata "الألباني" di rak kitab saya sebagai motivasi diri untuk menghafal hadits-hadits Nabi SAW.

Karena hasrat membaca saya tidak terbendung dan tidak puas dengan koleksi buku dan kitab yang ada di pustaka Pesantren, saya mulai sering minta izin keluar untuk membeli buku di toko-toko buku di luar Pesantren. Disanalah saya mulai mengenal berbagai bacaan "Haraki"; seperti An-Najah, Sabili dll.

Tidak butuh waktu lama, saya mulai jatuh cinta pada Dr. Abdullah Azzam, Syaikh Safar Al-Hawaly, Syaikh A'id Al-Qarni, Sayyid Qutub, Hassan Albanna, Syaikh Ahmad Yasin, Syaikh Usamah bin Ladin, Dr. Ayman Az-Zhawahiri, Syaikh Abu Muhammad Al-Maqdisi, Syaikh Abu Qatadah Al-Filisthini dan banyak lainnya.

Saya mengkhatamkan seluruh jilid Tarbiyah Jihadiyah, Fii Dzilaali Suraah At-Taubah, dan karya-karya hebat Dr. Abdullah Azzam hanya dalam dua bulan (beliau adalah Doktor Azhari). Lalu saya lanjutkan bacaan saya ke karya-karya besar Sayyid Qutub, dan yang sangat menginspirasi saya adalah Ma'aalaim Fit Thariq.

Lalu saya menlanjutkan pendidikan Bahasa Arab dan keilmuan Syariat di sebuah Ma'had A'ly (Pesantren tingkat Universitas) yang baru dibangun oleh sebuah Yayasan Arab Saudi di Jawa Barat.

Para dosen dan Masyayikh yang mengajar hampir seluruhnya berpemahaman Salafi. Sekali lagi saya bersentuhan dan larut dalam suasana keilmuan Salafi, kali ini lebih kental.

Sebelum kembali ke Aceh, saya sempat menetap di Bandung. Di fase ini, saya sering berinteraksi dengan teman-teman dari Jama'ah Tabligh. Singkat cerita, mereka meminta saya menemani rombongan Jama'ah Tabligh dari Mesir untuk menerjemahkan ceramah Bahasa Arab ke dalam Bahasa Indonesia untuk sebuah Masjid di Bandung selama tiga hari. Saya iyakan, karena saya juga penasaran ingin langsung mengenal konsep Jama'ah Tabligh langsung dari da'i Arabnya.

Akhlak dan metode dakwah yang mereka terapkan membuat saya terpana. Di luar ceramah setelah shalat, kami langsung terjun berdakwah di dunia malam yang tidak tersentuh oleh da'i-da'i lain. Para da'i Mesir dan saya ditemani Jama'ah Tabligh lokal mendatangi pintu-pintu diskotik Bandung. Kami memberi salam kepada setiap yang kami temui di luar diskotik, baik laki-laki atau wanita walaupun si wanita itu setengah telanjang. Sebagian besar yang mendengar nasehat para da'i Mesir ini setelah saya bantu terjemahkan, ada yang jatuh tersungkur menangis, ada yang malu, ada yang berjanji untuk bertaubat.

Pengalaman luar biasa yang tidak akan bisa saya lupakan. Dari yang awalnya cuma berencana khuruj 3 hari, akhirnya saya ketagihan dan khuruj 40 hari bersama rombongan Mesir ini sampai ke Cirebon.

Saya melanjutkan kuliah Bahasa Inggris di sebuah Univeritas di Aceh. Sambil mengajar anak-anak di Masjid pada malam hari, pagi sampai sore saya aktif mengikuti perkuliahan di kampus. Di kampus saya mengenal dan masuk LDK (Lembaga Dakwah Kampus) yang sering dipelesetkan ke: Lari Dari Kekasih. hehe.

Di LDK, saya mulai ikut pengajian ustadz-ustadz PKS. Dan mulai mendalami konsep dakwah Ikhwani dari hasil bacaan dan diskusi. Saya terkagum-kagum melihat militansi dan manajemen dakwah PKS yang sangat rapi dan profesional.

Setelah menyelasaikan kuliah, saya belajar pada seorang Syaikh dari Aljazair yang menuntut ilmu di Mauritania. Dari beliau saya belajar Madzhab Syafi'i, Aqidah, Tasawuf, dan Sirah.

Cakrawala saya terbuka lebar. Saya merasa kecil dan semakin dahaga. Khazanah Islam ternyata sangat luas dan begitu dalam. Semakin diselami, semakin saya tersadarkan untuk tidak mudah momvonis atau menyalahkan. Saya sadar bahwa kadar diri saya hanya seorang penuntut ilmu bukan mufti pemutus fatwa.

Di Suriah saya telah melihat bagaimana Jihadi, Ikhwani, Tabhligi, Salafi, Sufi, dan bahkan Hizbut Tahrir bersatu dalam satu perjuangan membela umat dan tanah air. Meneriakkan kalimat yang sama Allahu Akbar! Mereka saling membasuh luka dan darah hingga menjadi syuhada dalam barisan dan tujuan perjuangan yang sama.

Kepentingan umat dan agama ternyata lebih besar dan lebih kuat dibandingkan perbedaan dan khilaf di antara kita.

Inilah saya, seorang Muhammadiyah, Salafi, Jihadi, Tablighi, Ikhwani, Sufi dan diatas semua itu saya adalah seorang MUSLIM.

*Sumber: fb penulis
Loading...