Wartawan Senior: Pak Mahfud, Janganlah Memancing-Mancing Sektarianisme


[PORTAL-ISLAM.ID]  Kelihatannya sepele. Tetapi bisa sangat berbahaya. Bisa memancing sektarianisme di tengah situasi yang sedang tidak menentu sekarang ini.

Sangat disesalkan kesimpulan Prof Mahfud MD (MMD) bahwa pemilih Prabowo di sejumlah provinsi adalah kalangan Islam radikal. Sadar atau tidak, sinyalemen Pak Mahfud itu akan membuka pintu interpretasi yang macam-macam. Dan bisa sangat liar penafsirannya.

Pertama, yang paling berbahaya adalah apabila orang menasfirkan ‘pemilih radikal’ itu sebagai isyarat bahwa Pak Mahfud ‘disuruh’ oleh kubu 01 untuk mengembangkan asumsi bahwa massa pendukung Prabowo adalah orang-orang ekstremis. Orang-orang yang tidak toleran.

Ini sangat, sangat berbahaya. Sebab, umat Islam mengikuti proses pemilihan umum (proses demokrasi) dengan tertib, damai dan penuh kesadaran tentang NKRI. Sekarang, umat Islam yang selalu bertenggang rasa dan menunjukkan toleransi yang sangat tinggi itu, tiba-tiba dipojokkan oleh kesimpulan Pak Mahfud. Ada apa?

Seharusnya Pak Mahfud, bersyukur melihat umat Islam yang semakin cerdas dalam memilih pemimpin. Mereka berbondong-bondong memilih Prabowo karena ingin pemimpin yang bersiah melalui pilpres yang bersih pula. Pilpres yang jujur dan adil. Dan ini terbukti. Prabowo adalah paslonpres yang tidak memberikan sogok kepada massa kampanye. Tidak menydiakan bingkisan apa pun.

Bahkan terbalik. Pak Mahfud bisa lihat di medsos (tak bakalan ada di media mainstream) ketika massa pendukung Prabowo-Sandi mengumpulkan donasi untuk membantu kampanye 02. Ini terjadi di mana-mana. Nah, dari sisi ini memang umat Islam sangat radikal.

Mereka sangat radikal agar presiden itu terpilih dengan cara yang paling elegan. Terpilih dengan bersih. Didukung sepenuhnya oleh rakyat. Tanpa ‘serangan fajar’. Tanpa pengerahan massa yang disertai penyediaan semua fasilitas yang diperlukan.

Saya yakin Pak Mahfud tahu bagaimana kubu 01 harus mengumpulkan massa kampanye mereka. Tidak perlulah dielaborasi di sini. Kalau Anda tak tahu, itu keterlaluan.

Jadi, Pak Mahfud, itulah yang dilakukan oleh umat Islam. Mereka sangat radikal agar proses pilpres 2019 bersih. Terhormat. Dan ini sejalan dengan cita-cita kita semua. Sejalan dengan personalitas Pak Prabowo dan Bang Sandi. Tidak dengan cara menghimpun dana dalam jumlah sangat besar (puluhan triliun) seperti yang dilakukan oleh paslon lain. Kalau tak salah, seorang pendukung berat Pak Jokowi pernah diberitakan akan membongkar soal sumber dana kampanye 01. Tentu ini merupakan isyarat yang menarik tentang dana kampanye Jokowi-Ma’ruf Amin.

Kita lanjutkan. Kalau benar Pak Mahfud ‘disuruh’ untuk mengembangkan tudingan radikalisme Islam di kubu Prabowo –agak sulit memikirkan kemungkinan lain—itu berarti mantan ketua MK ini sekarang semakin memperjelas sikap partisannya. Dia tidak lagi netral sebagaimana tampak sebelumnya. Dan ini akan menambah corengan di wajah Jokowi.

Kedua, ada kemungkinan kesimpulan Prof MMD tentang umat Islam radikal pemilih Prabowo semata-mata observasi pribadi tentang basis elektoral Prabowo.

Yang menjadi pertanyaannya adalah: apa ukuran untuk mengatakan kaum muslimin di provinsi-provinsi yang “landslide” (menang besar) Prabowo itu adalah umat Islam radikal? Apakah hanya karena Jokowi tenggelam di daerah-daerah itu kemudian umat Islam disebut radikal? Come on, Profesor! Sebegitu gegabahnya Anda membuat kesimpulan. Tragis, Pak.

Sebagai penutup. Baik itu Pak Mahfud ‘disuruh’ atau sekadar berorservasi, nasi telah menjadi bubur. Beliau telah mencederai perasaan umat Islam. Tidak hanya di provinsi-provinsi yang ‘radikal’ itu melainkan umat Islam secara keseluruhan.

Dan, seperti dikatakan di bagian awal tadi, Pak Mahfud bermain-main dengan sektarianisme. Dengan ‘halus’, dia memojokkan umat Islam sebagai komponen yang sedang berubah menjadi sektarian. Kesimpulan beliau itu sangat riskan. Umat Islam menolak itu. Yang terjadi adalah umat Islam semakin cerdas dan piawai dalam memilih presiden.

Sebaiknya Pak Mahfud berhati-hati. Janganlah memancing-mancing sektariansime.

Penulis: Asyari Usman
Loading...