Viral Video Perlakuan Kasar Oknum Pada Ibu-ibu Petuga Medis Saat 22 Mei


[PORTAL-ISLAM.ID]  Setelah sosmed dicabut blokirnya oleh Kominfo, sekarang beredar video-video saat ricuh Aski 22 Mei di ibukota.

Salah satu video yang viral adalah perlakuan kasar oknum aparat pada ibu-ibu petugas Medis, dr. Arni.

[video]

BERIKUT KRONOLOGIS PENUTURAN YBS:

Cerita nya panjang dok..
Sy dan team LADATU lagi evakuasi korban yg banyak banget sampai kami kewalahan, makanya sy kontak utk kirim ambulance, dokter dan obat2an.

Sy dan 2 org anggota sy kehirup gas beracun sampai kami muntah2.
Dan sy putuskan utk rehat sejenak di pintu parkir keluar belakang Sarinah yg arah sekolah Theresia, sambil minum apa saja utk mencegah muntah, seperti madu, susu kental manis dan ada dari bang Japar minta kami minum arang yg dihancurin, kata nya biat cegah racun pun kami minum.

Sambil sy tlp Sekjen sy untuk beliin kelapa ijo.
Setelah Sekjen datang dan semua minum kelapa ijo sy putuskan team harus pulang ke RPR naik grabe, sy masih tinggal disana sama Sekjen.
Ga lama dari arah dalam ada puluhan intel pakaian preman datang nguber anak2 yang lari dan di hadang dari depan dengan tembakan sama Brimob, akhirnya mereka lumpuh.
Mereka dipukulin dan di tendangin dgn kekeraaan, ada yg pingsan diseret.
Sy sedih dan miris liat semua itu.
Motor2 dan mobil yg parkir dirusak.

Lalu sy mau WA anak bilang sy ga bisa pulang karena sudah hampir jam 12 malam, agar anak ga cemas.
Tiba2 ada intel yg liat dan dikira sy rekam video, lalu dia tanya dgn bentakan,
Lalu dia ambil dan banting hp sy sampai hancur.

Sy kesel, tapi mau gimana lagi.
Lalu sy mundur lg ke belakang sama yg lain dan Sekjen.
Ga lama ada intel lg yg bilang kalau hp di kantong Sekjen hidup. Terus kami berdebat dan akhirnya kami berdua di bawa paksa ke tengah2 pasukan Brimob yg disana sudah banyak tawanan mereka tangkapin.
Sy dan Sekjen disuruh jongkok, tapi sy lawan, sy bilang, "Sy Medis, kalian ga bisa perlakukan kami begini dan sy juga anak anggota Polisi," sambil sy perlihatkan KTA papa sy.

Lalu tanpa sebab, kepala Sekjen sy di pukul 2x dari belakang, dan sy meradang sambil tunjuk2 mereka, "Jangan sesekali kalian kasari kami kalau kalian ga kena HAM International sudah zholim pada Medis."

Akhir nya kami di bawa sama salah satu intel ke seberang Sarinah, persis didepan Bawaslu.
Selama lebih kurang 2 jam kami di periksa disana, karena Intel periksa 2 hp Sekjen yg masih utuh.
Banyak pertanyaam selama itu yg mungkin bisa bikin mental kami down, tapi sy sebagai anak Polisi yg lahir dan besar di Asrama Polisi, jd ga akan bisa bikin mental sy down, cuma Sekjen yg ngeluh pusing.

Sy bilang ke Sekjen, jgn ngomong pusing nanti di paksa minum obat yg kita ga tau apa itu beneran obat atau racun, baru Sekjen diam.
Dan selama pemeriksaan sy dan Sekjen ga mau terima makan dan minum dari mereka.

Sy minta Sekjen terus berzikir karena hanya Allah yg bisa selamatkan kami dari tangan2 kejam mereka yg bisa saja mencari2 kesalahan kami.

Selama pemeriksaan juga sy dengar di belakang kami di kantor Bawaslu itu tempat mereka bawa tangkapan mereka dan siksa mereka sampai teriak2 pilu.

Perih hati dengar nya, ingin rasanya teriak dan lawan mereka, tapi mereka jauh lebih kuat dan bersenjata lengkap, dan sy ga bisa berbuat apa2.

Karena sy waspada saja, kalau kami melawan dan mereka hilangkan nyawa kami di sana bisa saja.
Mereka tinggal bilang karena kami melawan, atau karena kena peluru nyasar.
Itu bisa saja mereka lakukan.

Akhirnya setelah hampir 2 jam kami pun dibawa naik mobil tahanan, sy tanya mau dibawa kemana, mereka bilang ke Polda.
Sy pikir kami di lepasin disana, ternyata di bawa ke Polda.
Dalam hati sy, habis nih nanti kalau sudah masuk Polda dan mereka cari pasal karet.
Sy tetap ga putus2 berzikir, minta sama yg punya hidup kami, agar kami berdua di selamatkan.

Sampai di Polda kami diturunkan dideket ratusan tawanan mereka yg mereka cambukin punggung nya pake slang.
Sy miris dan ga sanggup liatnya.
Ga lama kami dipanggil dan kembalikan semua hp dan KTP kami terus kami dibawa pake mobil tahanan lagi keluar.
Di depan Polda kami diturunkan dan diminta naik grabe saja pulang.
Akhirnya kami putuskan untuk pulang ke RPR utk lapor diri dgn kejadian yg menimpa kami.
Karena kami bertugas atas sepengetahuan dokter2 di RPR termasuk dokter Arni, dokter Irman dan pak Benno..

Sekian laporan sy dokter Arni..

Tolong selamatkan Negri ini, karena harapan kami cuma kepada Prabowo Sandi lah yang bisa menyelamatkan negri ini.

Kami berjuang bukan karena Prabowo Sandi, tapi untuk anak cucu kami..