Tri Masgetir: Hendro, Opung, Anto


Ada 3 Tri masgetir.

1. Hendro
2. Opung
3. Anto

Dari ke-3 nya, Hendro memiliki jabatan paling tinggi. Dukungan pada raja, gak membuat dia mengambil fasilitas istimewa. Dia hanya ingin berada di balik layar dan mengatur semuanya dengan remote control yang ia pegang setiap saaat. Penampakannya akan jarang terlihat, pemberitaan ttg dirinya pun sangat minim terpublikasi. Dia berjalan dalam senyap, perintahnya selalu di jalankan oleh para pasukan khusus binaan.

Dia hanya kirimkan anaknya, dan sang anak pun menjadi kekuatan baru dengan berbagai jabatan istimewa.

Yang nomor 2, dia merupakan kstaria yang awalnya ikut bersama Hendro. Namun melihat banyaknya permasalahan pada kolega, membuat dirinya harus maju untuk meringankan masalah para kolega yang sudah banyak membantu sang raja duduk di singgasana. Reklamasi menjadi awal senyum kolega karena opung segera ambil alih kerja si kepret rajawali yang harus tergusur.

Kstaria nomor 2 ini terus melaju sampai sekarang. Kebijakannya non limit. Dari ujung matahari sampai ujung rembulan, dia bisa menyisir kemana saja. Sampai ke luar planet pun dia akan sanggup di tugaskan jika raja berkata tidak mampu berbahasa planet.

Kstaria nomor 3, memiliki jabatan paling rendah di antara kedua kstaria lainnya. Dia merupakan tipe pekerja yang harus selalu tampil membawa pesan kstaria nomor 1. Si Anto ini, merupakan penyambung lidah si Hendro.

Seringkali berbicara kontroversial, gak membuat dirinya malu. Yap, dia bukan type manusia pada umumnya. Dia adalah type prajurit yang harus kuat malu dan kuat berdiri walau angin meniup rambut tipisnya menampakan kulit kepala yang sudah tidak kencang lagi.

Memasuki masa edar sang raja, 3 mas getir ini gundah gulana. Dukungan lembaga survey yang di bayar ternyata gak berdampak bagus bagi dukungan nyata pada sang raja.

Kerap menemukan lapangan kosong hanya tenda dan panitia yang ada, membuat mereka berpikir keras bagaimana meruntuhkan Citra lawan dan membalikkan keunggulan dengan raja sebagai panutan.

Uang sudah banyak habis, sokongan upeti saudagar sudah hampir habis di gunakan, uang kas kerajaan pun di pakai untuk naikkan nama. Belum cukup dana? Maka solusinya memakai uang bisnis kerajaan, salah satunya usaha rental kuda dengan cap milik negara juga di berdayakan.

Jika saja dewan kerajaan peka, apa yang mereka lakukan ini sudah melanggar UU kerajaan. Sayang, mereka pintar membungkam dewan kerajaan.

Apa lagi usaha..?

Uang habis, rakyat hanya mau datang kalau ada bingkisan di bawa pulang. Itu pun mereka bercerita hanya incar bingkisan saja. Pilihan...? Bukan pada sang raja.

3 mas getir harus turun gunung, kstaria Hendro pertama kalinya berbicara ke publik dengan isu baru yang sudah di sepakati. Isu ini langsung di sabut oleh kstaria ke-2 yang juga membahas di belahan jajahan kerajaan. Dan si penyambung lidah Hendro, tetap menjalankan tugasnya sebagai pekerja yang berbicara pada media atas nama kerajaan.

Dia memperkuat statemen Hendro dan opung dengan mimbar stempel kerajaan. Tujuannya, agar rakyat percaya bahwa berita yang mereka beritakan bukanlah hoax.

Dulu, saat pemilihan Mahapatih ibukota, isu itu juga di hembuskan agar masyarakat ibukota percaya bahwa situasi genting akan terjadi. Tapi, tujuannya mereka hanya keras di angan2. Jagoan yang mereka puja kalah, dan ibukota di kuasai oleh orang yang mereka anggap mengancam kerajaan.

1 Tahun Mahapatih baru bekerja, ibukota di buat berseri. Rakyat kota beradab, tertib dan tidak di temukan lagi makian kata kotor dari rumah dinas Mahapatih. Yang mereka tuduhkan akan terjadi di kerajaan tidak terbukti, yang mereka fitnah, malah tidak terjadi.

Sekarang, cara itu mereka coba lagi. Berharap jika skalanya besar, rakyat bisa percaya. Kaum agama di ajak mereka karena ada kelompok agama yang nafsu berkuasa. Ikut menjadi marketing fitnah yang harus di sebarkan. Agama menjadi lucu di tangan mereka, menjadi liar dan mencari sasaran. Surga sudah di Klaim hanya menjadi milik mereka, kaplingan tanah surga saja di jual secara online.

Syarat memberi surga, harus memiliki kartu sakti dari semburan sang kyai.

"Bau jigong mereka itu seperti bau surga" kata mereka yang percaya sudah masuk surga dengan kartu istimewa.

Secara sistematis, isu dulu di viralkan lagi hingga nyundul langit. 3 mas getir menjadi motor isu itu di siarkan. Mereka seperti server yang mempunyai banyak jaringan.

"Perang ideologi" kata mereka.

Padahal, ideologi tidak bisa di hapuskan. Karena ideologi akan abadi dalam pemikiran seseorang, hanya mati yang bisa membunuh ideologi.

Pwmilihan raja seharusnya menjadi perang gagasan, perang opini dan solusi atas permasalahan kerajaan. Ketidakmampuan raja mensejahterakan rakyat akan menjadi bahan calon raja baru untuk memberikan janji bahwa ia tidak akan seperti raja zalim saat ini.

Rakyat sudah sedikit paham, bahwa raja zalim harus di tumbangkan.

Calon raja baru banyak mendapatkan pujian, kedatangannya selalu ramai di nanti orang. Setiap sudut kerajaan, di belah bumi daerah jajahan, nama calon raja baru menjadi idola.

Raja baru yang mempunyai banyak gagasan, membangun kerajaan tanpa menyulitkan rakyat harus di lawan dengan fitnah membuat kerajaan baru dari motor 3 mas getir.

Ingin tau bagaimana penampakan 3 mas getir ini?

Lihat saja tokoh pewayangan, mereka sangat mirip dengan itu.

PETRUK, GARENG, DAN BAGONG

"Loh...itu kan tokoh lucu dalam wayang? Kok malah di gambarkan dengan 3 mas getir..?"

Ya karena mereka emang lucu tapi ingin di lihat serius. Tetep aja gak bisa nahan ketawa saat mereka tampil bersama...

Kerajaan ini menjadi lucu sejak mereka menjadi mesin penggeraknya.

(Setiawan Budi)

Baca juga :