Game Gimmick & Keresahan Orang Tua


Game Gimmick

Dalam debat pilpres kelima malam ini, terus terang saya kaget ketika jkw memaksakan dengan serius membahas games. Khususnya games online mobile legends dan sejenisnya.

Walau saya memang bukan orang yang akan memilih dia, tapi setidaknya saya ingin mendengar visi besarnya terhadap generasi muda. Khususnya untuk anak anak kita.

Saya menyesalkan tindakan jkw yang tidak punya sense of sensibility akan kegelisahan orang tua terhadap dampak games pada anak anak mereka. Bahwa games ini berpotensi merusak masa depan anak anak kita dalam jangka panjang. Apalagi tanpa tools pengawasan mumpuni.

Pertama, bisa mengganggu konsentrasi belajar. Mengakibatkan kecanduan, dan itu jelas berbahaya. Anak anak kalau sudah kecanduan dilarang pasti susah. Malah gontok-gontokan. Berani ngotot sama orang tua gara gara main Game. Yang takut dan sungkan, mainnya sembunyi sembunyi. Artinya mereka jadi Berbohong pada orang tua.

Bisa jadi kecanduan akibat game juga butuh rehabilitasi.

Kedua, buat yang ga bisa dilarang, mainnya tak terkontrol. Bisa merusak kesehatan fisik. Khususnya mata. Saya pernah menemukan kasus seorang bapak bercerita bahwa kornea mata anaknya harus dioperasi karena main game yang overload overtime. Habiskan uang membeli paket internet hingga jutaan. Itu untuk tanding game online. Hingga larut malam.

Entah hadiah apa yang diiming imingi sampai mengorbankan salah satu indra penting.

Belum lagi gangguan motorik otot jari, leher, dan lain sebagainya. Bahkan karena menegangkan bisa menaikan adrenalin. Apakah jantung mereka kuat?

Ketiga, apakah jkw ga tau bahwa ada isu panas tentang game ini ada hubungan dengan kejadian serangan teroris di 2 mesjid pada saat sholat jumat di kota Chrischurch yang tenang di Selandia Baru, yang memakan ratusan korban. Isue ini telah menjadi problem global. Bahkan di Malaysia ditanggapi serius akan di blok. Sungguh menakutkan.

Banyak lagi hal negatif lain kalo mau dibahas. Efek psikologis, anak jadi anti sosial, hanya main game. Ga bermasyarakat, males berinteraksi, males berorganisasi. Miskin literasi.

Jelas game ini Lebih banyak mudharatnya. Lebih banyak efek merusaknya dari pada manfaatnya.

Berapa banyak sih anak anak dapat keuntungan dari main game ini? Keuntungan apa yang bisa dibilang hingga itu dianggap punya manfaat?

Dan tiba tiba malam ini dibahas. Diseriusin lagi dengan pertanyaan berulang. Konyol.

Entah bagaimana seorang capres yang mau jadi orang nomor satu di negeri ini punya pemahaman yang se dangkal itu? Apa dia ga baca berita? Apa karena dia ga punya anak abg lagi jadi ga sensitif dengan hal ini? Memainkan isue ini sebagai gimik jelas tak bertanggung jawab.

Memalukan

Jangan karena ingin merebut suara milenial yang dekat dengan permainan digital ini, tapi mengabaikan efek negatif yang banyak yang tak bisa saya uraikan panjang lebar disini. Sama saja demi elektabilitas ke para milenial tapi secara tak langsung menghancurkan masa depan milenial itu sendiri.

Bagaimana mau memimpin bangsa sebesar ini kalau tak punya visi terhadap masa depan anak muda? Mau mimpin tapi tak bisa mengayomi, buat apa?

Saya sebagai orang tua takut sekali dengan ide ini. Saya bagian mayoritas orang tua yang khawatir dengan dampak game tersebut.

Dan saya yakin saya tak sendiri.

Wah Yudi
13.4.2019

***

[21 Juni 2018]
Kemenkes: Kecanduan Game Adalah Gangguan Perilaku

Organisasi Kesehatan Dunia atau world health organizations (WHO) resmi menetapkan Kecanduan game atau game disorder ke dalam versi terbaru International Statistical Classification of Diseases (ICD) sebagai penyakit gangguan mental untuk pertama kalinya.

Link: http://www.depkes.go.id/article/view/18062500003/kemenkes-kecanduan-game-adalah-gangguan-perilaku.html