Menafsir Relawan Dalam Kompetisi Politik


[PORTAL-ISLAM.ID]  Penting! Relawan memainkan peran signifikan dalam rangka pemenangan politik. Terlebih dalam situasi dimana proses pemilihan berlangsung serempak, baik untuk legislatif maupun presiden sebagaimana yang terjadi kali ini. Konsentrasi mesin partai, elit dan kader terfokus pada upaya perolehan suara bagi individu dan partai, pada pemilihan legislatif, untuk mengamankan posisi menuju Senayan.

Dengan begitu, terdapat kekosongan mobilisasi bagi dukungan pemenangan pemilihan presiden. Padahal, memperoleh kemenangan di tingkat kursi presiden memiliki dampak yang tidak sedikit, yakni memegang kendali pengelolaan arah kebangsaan, setidaknya untuk siklus lima tahun mendatang. Posisi lowong ini yang kemudian diisi oleh para relawan.

Efek ekor jas -coattail effect yang disebut menjadi dampak turunan dari pencalonan figur yang berkompetisi, lalu berkontribusi terhadap kenaikan perolehan suara partai politik, dalam ruang kajian ilmu politik menjadi tumpul pada skema multipartai dengan tiadanya partai dominan, dengan demikian efek ikutan tersebut, seolah dipastikan hanya akan terasosiasi kuat pada partai asal pendukung. Lalu bagaimana format koalisi mengartikulasikan kemenangan bersama? Ujung negosiasinya adalah pola bagi hasil pembentukan kabinet.

Kembali kepada peran viral sukarelawan, yang kemudian dikenal sebagai relawan adalah organ non partai yang memiliki kesepahaman temporal atas pencalonan individu pada jalur politik. Sukarelawan bisa terdiri dari para simpatisan baik yang tergabung karena simpati pada partai maupun individu tokoh yang diajukan sebagai kandidat untuk berkompetisi. Relawan tidak mendapatkan insentif sebagaimana kader, yang meniti tangga struktur organisasi.

Kompensasi relawan adalah kepuasan secara psikologis, terutama bila kerja serta dukungan politiknya berbuah manis, hingga mampu memenangkan pemilihan. Pada banyak kasus, relawan berkompromi untuk masuk, dalam struktur formal pemerintahan maupun institusi bisnis pasca kemenangan. Sifatnya bisa menjadi sangat pragmatis dan oportunistik.

Tetapi posisinya yang tidak tersubordinasi pada institusi kepartaian, membuat kelompok relawan bisa tetap memainkan peran untuk bisa berayun dari satu pilihan ke pilihan lain secara dinamis. Relawan kemudian dapat mewujud menjadi organisasi kepentingan kelompok secara spesifik, serta melakukan kalkulasi politik.

Kegagalan konversi relawan menjadi kader, membuktikan bahwa partai politik memiliki kebuntuan dalam melakukan regenerasi internal. Karakter relawan sejatinya bersifat situasional, terbentuk karena suatu issue dalam periode tertentu. Apa yang kemudian terjadi hari ini relawan membangun jejaring struktur pusat dan daerah, merupakan bentuk anomali, terlebih dibangun dalam durasi yang panjang. Struktur permanen membutuhkan sumberdaya jangka panjang yang perlu dipenuhi.

Transformasi relawan dalam struktur permanen, membuktikan bila kelompok relawan tidak terlepas dari elitisme para pengurusnya yang juga membangun simbiosis mutualisme bersama partai dan figur politik. Spontanitas serta kegairahan di awal permulaan pembentukan tim kerja relawan, kemudian menjadi instruksi berjenjang dengan rantai komando.

Relawan Mata Rantai Terlemah

Ekspresi dan ketertarikan politik relawan dimotivasi oleh banyak hal, kharisma tokoh, kesamaan gagasan, hingga faktor historis dapat menjadi pemersatu di antara kelompok yang berkumpul karena aspirasi politik yang sejenis. Pada kasus Pilpres kali ini, kelompok relawan terbangun sebagai bentuk kolektif simbolik, sebut saja alumni perguruan tinggi, komunitas kedaerahan, hingga afiliasi profesi bisa memberikan dukungan, sekaligus menjadi relawan.

Mencermati gerak diantara relawan pendukung pasangan calon, terdapat perbedaan gerak diantara keduanya. Kelompok yang berasosiasi dengan petahana bekerja secara dan terstruktur, sekaligus sistematik. Mudah melihat jejak digitalnya, pasukan pembawa pesan, hadir dengan atribut seragam dan tools kampanye yang terstandarisasi, bahkan dibantu dengan teknologi pendataan target sasaran distribusi informasi secara door to door, jelas terencana dengan baik. Sokongan finansial dari program tersebut tidaklah sedikit, karena format setta material kampanye yang baku, dikelola secara profesional.

Sementara, sentimen psikologis di tingkat relawan kubu oposisi terjadi secara sporadis, tidak tersistem, hal itu direpresentasikan oleh kelompok emak-emak yang dengan menggunakan bahasa daerah, untuk mensosialisasikan tokoh yang didukungnya. Meski rentan terhadap informasi yang keliru, karena mekanisme kampanye tidak tersusun melalui informasi yang seragam, tetapi aspek mendasar dari prinsip sukarelawan terbentuk secara alamiah, dimana improvisasi menjadi bagian yang tidak terpisahkan, bahkan bersifat swadana dan swadaya.

Di akhir kontestasi, kita akan melihat bagaimana relasi keberadaan relawan dengan dua tipikal model tersebut akan mampu memberikan dampak bagi kesuksesan kandidat. Satu hal yang menjadi kesamaan di antara kedua kelompok relawan tersebut adalah minimalnya perlindungan resiko atas apa yang menjadi tanggung jawab dari aksi serta aktivitasnya.

Relawan menjadi bagian yang paling mudah dilupakan, baik saat meraih kemenangan ataupun berbuat kesalahan. Padahal peran mereka tidak dapat diremehkan. Bila kemudian relawan diakomodir menjadi sebuah bagian dari kerangka diluar struktur organisasi partai politik yang tersedia, maka kelompok relawan harusnya menempatkan point kebenaran dengan dasar rasionalitas dan logika, lebih dari sekedar sentimen emosional. Agar relawan tidak menjadi barisan sakit hati, ketika dikhianati oleh kekuasaan!

Penulis: Yudhi Hertanto