Di Mata Najwa, Jubir TKN 01 Keceplosan Jokowi Banyak Intel


[PORTAL-ISLAM.ID] Pernyataan calon Presiden nomor urut 01 Jokowi soal konsultan asing menjadi polemik.

"Pakai konsultan asing, gak mikir, jadi gak mikir ini mecah belah rakytat apa tidak, ini mengganggu ketenangan rakyat atau tidak, ini membuat rakyat khawatir atau tidak, ini membuar rakyat takut, karena konsuluatnnya konsultan asing, terus yang antek asing siapa ?" kata Jokowi.

Pernyataan konsultan asing ini kemudian menjadi perdebatan oleh juru bicara kedua belah pihak di acara Mata Najwa.

Juru Bicara TKN Jokowi-Maruf Amin, Dini Shanti Purwono menyebut bahwa Jokowi tidak mungkin bicara tanpa berdasar data.

Jubir TKN ini bahkan sempat keceplosan bahwa Presiden Jokowi memiliki banyak intel.

"Pertama sebagai Presiden, yakin Pak presiden itu punya banyak intel," kata Dini Shanti Purwono di Mata Najwa.

Pernyataan Dini Shanti Purwono kemudian disentil oleh BPN Prabowo-Sandiaga Uno.

"Intel yah?" kata Jubir BPN Prabowo-Sandiaga Uno, Faldo Maldini.

Jubir TKN Prabowo-Sandiaga Uno, Faldo Maldini mengatakan bahwa dengan kemampuan presiden saat ini sebenarnya bisa ditelusuri tudingan Prabowo-Sandi pakai konsultan asing.

"Tinggal ditrest saja, kalau ada kosnultan asing dicek aja visanya ada masuk ke data pemerintah," kata Faldo Maldini.

"Come on pemerintah jangan kaya orang lemah lah, mereka punya segala instrument untuk melakukan pengecekan, apapun yang bisa mereka lakukan tadi ngomong intel macem-macem juga," kata Faldo Maldini.

Faldo Maldini menyebut bahwa data yang dipaparkan oleh tim Jokowi malah jadi berbalik soal konsultan asing.

Hal senada disampaikan Miftah Nur Sabri pernyataan soal konsultan asing seperti pepatah menepuk air di dulang terpercik muka sendiri.

"Ternyata justru konsultan dari Amerika Stanley B Greenberg Jokowi adalah kliennya, jadi pak Jokowi sedang menelanjangi dirinya, mungkin mau menuduh tapi tak ada bukti. Tadi Faldo tanya ke kak Dini mana buktinya, justru tadi bahasanya pak Jokowi kan punya intel, lah ini kan tidak mendidik Presiden menggunakan intel untuk menghadapi lawan politik," kata Miftah Nur Sabri.

Sumber: Tribunnews