FAHRI, ROCKY dan KADER PKS


FAHRI, ROCKY DAN KADER PKS

Rocky Gerung, ahli filsafat cum aktivis itu tampil memukau.

Di tengah ribuan anggota legislatif dan pengurus PKS se-Indonesia yang sedang melakukan konsolidasi nasional, Rabu (30/1/2019), Rocky menyampaikan pandangan dan wejangan tentang situasi politik, narasi masa depan, dan bagaimana kita menjaga akal sehat, dalam sebuah sesi Workshop bertema "Narasi Parpol dan Pemilih Yang Smart dan Damai di Pemilu Legislatif Pilpres 2019".

Semalam, Ballroom Hotel Sahid menjadi saksi. Dindingnya bergetar beberapa kali oleh riuh tepuk tangan ribuan orang. Selama lebih dari satu jam, Rocky menggelitik nalar peserta tentang berbagai hal yang dihadapi oleh bangsa ini. Di tengah ribuan orang yang oleh Presiden PKS Sohibul Iman disebut sebagai 'pejuang dan petarung' itu, Rocky bercerita banyak hal. Mulai dari arah perjalanan bangsa ini, hingga narasi keadilan dan kesejahteraan sebagai jiwa perjuangan kita.

Menurut saya, pidato Rocky tadi malam, sempurna. Dia telah menitipkan banyak pesan yang tepat kepada ribuan kader PKS tersebut. Mengapa tepat, karena menurut saya, PKS hari ini memang sedang sangat membutuhkan pencerahan bagaimana menggunakan akal sehat; seperti yang diulang-ulang Rocky.


Setelah saya membanding-bandingkan, sesungguhnya isi pidato Rocky semalam begitu sering menyentil akal sehat hadirin yang ada di ruangan dan kader PKS di Indonesia. Percaya atau tidak, banyak narasi yang dilemparkan Rocky, yang sejatinya, sasarannya bukan orang-orang jauh di Istana sana saja. Tapi jika kita mau merenung sedikit, seluruh kader PKS harusnya seperti dihantam oleh pedasnya kata-kata Rocky.

Misalnya saja, kata-kata Rocky di menit ke 29.13 dan 58.08 dari rekaman Live Streaming:

"Berpolitik itu demi menghasilkan keadilan. Politik hanya dituju kepada mereka yang menghendaki distribusi. Bukan yang berupaya melakukan akumulasi. Mendistribusikan keadilan itu perlu akal yang kuat".

Hei, Rocky itu sedang berbicara tentang kekuasaan dan distribusi kewenangan. Dan PKS kena telak!

Sebab, dalam kasus Fahri Hamzah misalnya. Salah satu hal yang dikritik adalah akumulasi kekuasaan yang begitu besar pada seseorang atau sekelompok kecil orang, yang terbukti di pengadilan negara ternyata telah menyimpang. Abuse of power. Keadilan nyata, ketika distribusi pada cabang kekuasaan itu ada. Keadilan ada, ketika setiap orang mendapatkan apa yang menjadi hak-haknya.

Atau misalnya, di menit 30.52 dan seterusnya. "Politik kedepan adalah pertandingan argumen. Generasi millenial akan mengisi politik ini dengan kecepatan berpikir. Kalau kita buat legislasi, kita harus membayangkan apa yang kita buat efeknya di 10 tahun mendatang". Ini sangat Rocky banget. Juga sangat Fahri Hamzah banget. Tapi sangat tidak Qiyadah PKS banget.

Fahri Hamzah seringkali berkata-kata yang sama. Bahwa segala sesuatu itu ada konsekuensinya. Semua perlu dipikirkan. Segala konsekuensi dari setiap keputusan perlu dibayangkan. Ada argumentasi yang dibangun. Ada pertimbangan yang harus matang dan didialogkan. Agar tidak ada 'fallacy of reason' kalau istilah Rocky. Gagal nalar, istilah lainnya. Tapi yang sering kita dengar dari Qiyadah cuma kata 'taat, taat dan taat'. Titik.

Mau contoh lain lagi? Dengarkan menit ke 37.17. "Dapur kekuasaan berantakan. Tukang masaknya berlebih. Kokinya ada di mana-mana. Semua ikut nyampur. Akibatnya, semua tumpah karena semua orang berebut memasak. To many cooks spoil the broth, kata pepatah Inggrisnya".

Itulah kondisi kebijakan PKS yang dirasa oleh kader di daerah. Kalau diskripsinya kurang lebih:

"When there are too many people involved in trying to do the same thing, so that the final result will not be good".

Ada indikasi, beberapa pihak (entah dari mana) dengan berbagai kepentingan berbeda ikut cawe-cawe dan menyisipkan agenda, yang tanpa sadar justru membuat soliditas internal partai begitu berantakan. Semua daerah terbelah. Kader saling serang, dan kita dipaksa untuk 'denial' bahwa semua baik-baik saja. Bahwa semua aman sentosa, adil makmur dan bahagia.

Lalu apa lagi? Menit ke 38.18. "Yang memimpin Indonesia tidak boleh orang sederhana. Karena problem bangsa ini rumit, Kepalanya mesti banyak variabel. Kompleks kepalanya. Yang bermasalah mestinya apa yang ada di dalam kepalanya".

Partai itu miniatur Indonesia. Dia terdiri dari banyak pikiran yang bervariasi. Yang bisa terus berkembang dan harusnya luwes dengan berbagai perkembangan politik. Maka pikiran pemimpin politik, harus bisa beradaptasi. Tidak saklek (keras hati) memaksakan pikirannya sendiri pada kader yang terlibat dalam pergulatan politik dan kekuasaan. Pikiran pemimpin mesti canggih dan bisa menerima banyak gagasan. Termasuk menerima seluruh hal yang menjadi aturan negara, dalam skala luas.

Mirisnya, beberapa hari ini muncul sebuah rekaman yang diduga suara seorang Qiyadah PKS, yang secara eksplisit menyampaikan bahwa pengadilan di luar partai, penuh permainan. Dan kader diminta hanya percaya pada Mahkamah Partai. Itu sumber kebenaran. Kalau rekaman ini benar, maka sungguh rusaklah partai ini. Ada pemahaman dan pemikiran yang keliru. Gejala tak mempercayai aparatur dan ketentuan negara adalah gejala menyimpang dalam kehidupan bernegara.

Terakhir, saya tuntaskan di sini saja dulu. Dengarkan di menit-menit terakhir. "Keadilan itu asalnya dari hati. Ada mata ketemu mata. Ada batin bertemu batin". Ada aliran gelombang yang sama. Ada sinyal yang bisa ditangkap oleh banyak batin.

Menurut saya, tepat sekali apa yang dikatakan Rocky. Artinya, kalau hati puluhan ribu kader merasa tak nyaman dengan keputusan Qiyadah PKS hari ini, maka itu pertanda ada ketidakadilan. Ada yang tidak beres yang harus diperbaiki. Dan PKS sedang dalam situasi itu.


Uniknya, dalam banyak kata-kata ajaib yang disampaikan Rocky Gerung semalam, semua hadirin bertepuk tangan. Betapa lucunya ya, kita mengagumi jalan pikiran Rocky, sembari tanpa sadar kita mungkin telah melakukan dengan riang gembira apa yang dikritik Rocky. Sialnya, kita bertepuk tangan dengan sangat keras. Kalau dalam bahasa Rocky, kita seperti memberi applause atas kedunguan kita.

Saya kemudian berpikir, jangan-jangan Rocky Gerung membawa misi dari Fahri Hamzah agar menyindir secara halus banyak orang di ruangan itu. Dan yang di sindir, semoga saja akalnya sampai. Sebab, kadang, kata-kata sindiran sudah seindah kalimat Rocky, tapi kalau akal dan hati tidak sampai ya percuma juga.

Tapi, setelah saya pikir-pikir, sepertinya Rocky tak membawa misi dari Fahri Hamzah. Justru, saya lihat, mereka berdua senada pikiran dan narasinya, karena keduanya penganut aliran akal sehat. Pikiran kedua orang ini saling sambung-menyambung. Seirama. Dan seharusnya, setelah mendengar ceramah Rocky, kader PKS segera tersadarkan. Lalu segera 'memberontak' pada Qiyadah yang bertentangan dengan akal sehat Fahri dan Rocky. Setidaknya, beranilah sedikit untuk protes. Demi berjalannya akal sehat di tubuh partai.

Ada harapan di negeri ini, bila politik dikendalikan oleh akal sehat, kata Rocky Gerung. Kita ambil alih kekuasaan yang tidak menghasilkan keadilan, masih kata Rocky Gerung semalam.

Ada empat tipe manusia..
Tipe keempat, manusia yang tidak tahu dan tidak tahu bahwa dirinya tidak tahu. Itu orang dungu, maka tolaklah dia (Abu Hamid Al-Ghazali dalam 'Ihya', halaman 80).

Wassalam.

31 Januari 2019

BP

*Rekaman video live streaming: https://www.facebook.com/FraksiPKSDPRRI/videos/377546963038624/